JEPARA (SUARABARU.ID) – Sembilan siswa Sekolah Alam Indonesia asal Sukabumi, Jawa Barat, mengikuti pelatihan seni ukir di galeri wood carving Jepara sebagai salah satu agenda pembelajaran dalam rangkaian Program Young Explore. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan peserta pada warisan budaya daerah salah satunya seni ukir Jepara sebagai identitas daerah setempat pada Minggu, (14/6/2026).
Guru pendamping sekolah tersebut Fitriani, menjelaskan bahwa pelatihan ukir bukanlah fokus utama Program Young Explore, melainkan salah satu kegiatan pembelajaran yang melengkapi perjalanan eksplorasi para siswa ke berbagai daerah. Sebelum tiba di Jepara, rombongan telah mengunjungi destinasi sejarah di kota Cirebon, Semarang, Kudus, dan Demak untuk mempelajari sejarah penyebaran Islam serta mengenal berbagai peninggalan budaya di daerah tersebut.

“Setelah kami fokus mempelajari sejarah penyebaran Islam dan tokoh-tokoh Wali Songo melalui kunjungan ke beberapa daerah, kami ingin menggali kesenian khas daerah yang kami kunjungi. Dari berbagai informasi yang kami peroleh, akhirnya kami memilih seni ukir Jepara karena banyak ditemukan pada museum, masjid, dan peninggalan sejarah yang kami datangi,” ujarnya.
Menurut Fitriani, Program Young Explore merupakan agenda tahunan yang menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran sekolah. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa melalui perjalanan, interaksi sosial, serta pengenalan budaya dan lingkungan.

Menariknya, seluruh biaya perjalanan dikumpulkan oleh para siswa melalui berbagai usaha mandiri, seperti berjualan dan kegiatan kewirausahaan lainnya. Program yang dijalankan setiap tahun tersebut juga disusun berdasarkan hasil diskusi para siswa bersama pendamping.
“Yang menentukan sebagian besar program adalah hasil diskusi mereka. Dana perjalanan juga mereka kumpulkan sendiri melalui berbagai kegiatan. Ini bagian dari proses pembelajaran agar mereka lebih mandiri dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Dalam pelatihan ukir tersebut para siswa mendapatkan kesempatan untuk mencoba langsung teknik dasar mengukir kayu. Bagi Keysha Adika Putri dan Nashira Atari Syahidah, pengalaman tersebut menjadi tantangan baru yang menarik.
“Seru, tapi susah. Mengukir itu ternyata membutuhkan kesabaran yang ekstra,” ujar keduanya.
Meski baru pertama kali mencoba, para siswa mengaku semakin memahami betapa besar usaha yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah karya ukir.
“Orang zaman dulu hebat sekali. Mengukir yang besar dan banyak itu ternyata sangat melelahkan. Yang kecil saja sudah capek,” kata Keysha.
Fitriani selaku pembina kegiatan tersebut juga mengungkapkan bahwa pengalaman mengikuti pelatihan ukir memberikan kesan mendalam baginya. Menurutnya, proses mengukir membutuhkan ketekunan dan ketelitian yang tidak sederhana.
“Saya kira mengukir itu mudah. Ternyata setelah mencoba langsung, dibutuhkan ketekunan dan ketelitian yang luar biasa. Setiap pahatan memiliki nilai dan makna tersendiri,” tuturnya.
Lebih jauh, ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan penghargaan siswa terhadap para seniman dan pelestari budaya di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Kami ingin murid-murid lebih menghargai seni dan jerih payah para seniman. Mereka harus memahami bahwa karya budaya lahir dari proses panjang yang membutuhkan dedikasi dan kesabaran,” ujarnya.
Usai dari Jepara, rombongan akan melanjutkan perjalanan ke Karimunjawa untuk mengikuti kegiatan bakti sosial, bakti pendidikan, serta konservasi alam. Seluruh pengalaman yang diperoleh selama Program Young Explore nantinya akan dipresentasikan kepada orang tua dan warga sekolah melalui pameran, presentasi, maupun publikasi video.
Bagi sekolah, hasil utama dari program tersebut bukan sekadar produk atau dokumentasi perjalanan, melainkan perkembangan karakter siswa. Melalui berbagai pengalaman lapangan, sekolah berupaya menanamkan nilai-nilai akhlak, kepemimpinan, dan kemampuan berpikir kritis sebagai bagian dari kurikulum inti yang diterapkan.
Melalui pelatihan seni ukir di Jepara, para siswa tidak hanya memperoleh pengalaman baru tentang budaya lokal, tetapi juga belajar menghargai proses, kerja keras, dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap karya seni warisan bangsa.
Diyan Ni’matus Sa’adah













