JEPARA (SUARABARU.ID) – Dalam rangka belajar budaya Nusantara dan cinta lingkungan alam, 11 siswa dan guru SMP Alam Sukabumi, Jawa Barat telah mengunjungi Jepara, Minggu 14 Juni 2026. Diantaranya mereka mengunjungi Jepara Wood Carving Gallery di Pantai Kartini untuk belajar mengukir. Hampir 3 jam siswa antusias memegang pahat dan mengayunkan palu membuat ukiran yang disiapkan untuk pemula.
Mereka ingin mengenal lebih dekat, serta belajar secara langsung seni ukir Jepara yang sejak tahun 2015 telah menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Bahkan saat ini sedang diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Mereka dipandu oleh pelestari ukir Jepara Hadi Priyanto yang secara khusus memberikan materi seni ukir dalam perspektif budaya. Juga ada instruktur berpengalaman seperti Rumini, Ama Rahmawati, Arsiti dan Sutarno. Mereka berasal dari Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini dan Paguyuban Pengukir Sungging Prabangkara Jepara.
Selama ini, para instruktur ini merupakan bagian dari tim Yayasan Pelestari Ukir Jepara yang melatih para pelajar Jepara dalam Kelas Pelajar Mengukir yang diikuti sekitar 745 pelajar SD, SMP, SMA, SMK, dan MA di Kabupaten Jepara.

Sedangkan siswa SMP Alam Sukabumi didampingi guru pembimbing dua guru pendamping, yaitu Ilyas Maulana dan Fitriani.
Menurut Ilyas, kunjungan ke Jepara ini ditujukan untuk memberikan pemahaman siswa terhadap budaya warisan bangsa dan juga tentang keindahan alam Jepara. “ Jepara itu terkenal dengan seni ukirnya, kami sedang mempelajari kebudayaan Islam, dan saya melihat bahwa para ulama banyak yang melestarikan seni ukir. Oleh karena itu, saya ingin memberikan pemahaman dan pengalaman mengukir secara langsung dari tempat lahirnya,” ujar Ilyas.

Ilyas menyampaikan, pembelajaran di SMP Alam Sukabumi mengedepankan pengalaman langsung di lapangan. “ Sistem pembelajaran kami adalah berbasis experience. Jadi pembelajaran dilakukan langsung ke sumbernya, dengan mendatangi objek atau ilmu yang ingin dipelajari,” jelasnya.
Ia berharap melalui kegiatan tersebut dapat memberikan bekal ketrampilan sekaligus membentuk karakter siswa. “Melalui seni ukir, anak-anak diharapkan memiliki ketrampilan serta belajar tentang keuletan, kesabaran, dan ketelitian yang dibutuhkan dalam proses mengukir,” pungkasnya.

Seni Ukir Budaya Indonesia
Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto yang menyambut langsung kunjungan siswa SMP Alam Sukabumi ini mengungkapkan, seni ukir saat ini bukan lagi menjadi budaya Jepara. “Sejak tahun 2015, seni ukir telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Bahkan kini sedang diupayakan untuk menjadi warisan budaya dunia,” ujar Hadi. Jadi sangat tepat, jika anak-anak belajar seni ukir langsung di Jepara, tambahnya.

Ia juga menjelaskan, seni ukir telah dikenal di Jepara sejak masa Ratu Shima pada abad ke VI dan kemudian dilanjutkan saat Ratu Kalinyamat. “Peninggalan tertua seni ukir ada di masjid Mantingan yang dibangun oleh Ratu Kalinyamat pada tahun 1559. Kemudian seni ukir mulai dikembangkan oleh RA Kartini pada tahun 1899 dengan memasarkan ukir di Balanda. Karena itu Kartini adalah tokoh seni ukir Jepara ,” terang Hadi.
Hadi juga mengajak semua satuan pendidikan di Jepara untuk menjadikan Jepara Wood Carving Gallery sebagai pusat pembelajaran seni ukir di Jepara. “ Kami memiliki peralatan dan instruktur yang cukup banyak,” pinta Hadi Priyanto.
Saat ini menurut Hadi, Yayasan Pelestari Ukir Jepara sudah melakukan kerjasama dengan SDN 2 Mantingan, SDN 1 Sukodono dan UNISNU Jepara. “ Semoga kedepan semakin banyak sekolah yang mau menjalin kerjasama secara permanen dengan Yayasan Pelestari Ukir Jepara yang memiliki visi untuk menanamkan minat dan cinta seni ukir pada siswa dan anak-anak muda Jepara,” terangnya.
“Jika tidak kita lakukan mulai sekarang, 15 – 20 tahun kedepan seni ukir akan menghadapi krisis perajin terampil yang mengancam kelestarian seni ukir sebagai budaya bangsa,” pungkasnya.
Syafiq













