blank
Instruktur pelatihan bersama guru pembimbing dan siswa SD Candi 03 Semarang seusai pelatihan mengukir di Jepara Wood Carving Gallery. Foto: Fikri

JEPARA (SUARABARU.ID) – Dalam rangka  belajar budaya Nusantara dan cinta lingkungan , puluhan siswa SD Candi 03 Semarang telah mengunjungi Jepara, Minggu 7 Juni 2026i.  Diantaranya mereka mengunjungi Gallery Jepara Wood Carving di Pantai Kartini. Mereka ingin belajar dan mengenal lebih dekat  seni ukir Jepara yang sejak tahun 2015 telah menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

blank
Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto saat menjelaskan sejarah budaya ukir Jepara. Foto: Fikri

Mereka dipandu oleh pelestari ukir Jepara  Sutrisna, Rumini,  Ama Rahmawati, Ahmad Rozikin  dan Sutarno. Para instruktur ini berasal dari Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini dan Paguyuban Pengukir Sungging Prabangkara Jepara. Selama ini, para instruktur ini  merupakan bagian tim Yayasan Pelestari Ukir Jepara yang  melatih para pelajar Jepara dalam Kelas Pelajar Mengukir.  Jumlah seluruh instruktur yang disiapkan untuk Kelas Pelajar Mengukir adalah  43 orang.

blank
Guru pembimbing SD 3 Candi Semarang, Yogi Setiawan saat memberikan sambutan. Foto: Fikri

Sedangkan siswa SD Candi 3 Semarang didampingi guru pembimbing    Yogi Setyawan, Tsalis Hana Hanifah, Kasmuri, dan Farish. Siswa juga datang  bersama orang tua siswa.

Menurut Yogi, Setiawan  kunjungan  ke Jepara ini  ditujukan untuk memberikan pemahaman siswa terhadap budaya  bangsa dan juga tentang keindahan alam. “Disamping pantai Kartini kami juga akan mengunjungi Pantai Bandengan,” ujar Yogi

blank
Wakil Ketua Yayasan Peluk Jepara Sutrisna S.Pd yang menjadi instruk pelatihan. Foto: Fikri

Sedangkan nilai yang ingin kami tanamkan diantaranya adalah cinta budaya bangsa, rasa syukur atas anugerah alam yang indah dari Tuhan dan  juga pentingnya menjaga pelestarian alam. “Harapan kami dengan pengalaman langsung, mereka akan dapat semakin mencintai budaya seni ukir yang ternyata sudah menjadi warisan budaya Indonesia,” ujar Yogi Setiawan

blank
Ama Rahmawati saat membimbing peserta pelatihan. Foto: Fikri

Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto  yang menyambut langsung kunjungan siswa SD Candi 3 Semarang  ini mengungkapkan, seni ukir saat ini bukan lagi menjadi budaya Jepara. “Sejak tahun 2015, seni ukir telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Bahkan kini sedang diupayakan untuk menjadi warisan  budaya dunia,” ujar Hadi. Jadi sangat tepat, jika anak-anak belajar seni ukir langsung di Jepara, tambahnya.

blank
Sutarno salah satu instruktur yang membimbing siswa SD Candi 03 Semarang. Foto: Fikri

Ia juga menjelaskan, seni ukir telah dikenal di Jepara sejak masa Ratu Shima pada abad ke VI dan kemudian dilanjutkan saat Ratu Kalinyamat. “Peninggalan  tertua seni ukir ada di masjid Mantingan yang dibangun oleh Ratu Kalinyamat pada tahun 1559. Kemudian seni ukir mulai dikembangkan oleh RA Kartini pada tahun 1899 dengan memasarkan ukir di Balanda. Karena itu Kartini adalah tokoh seni ukir Jepara ,” terang Hadi.

blank
Ketua Paguyuban Pegukir Perempuan RA Kartini, Rumini saat membimbing peserta pelatihan dari SD Candi 03 Semarang. Foto: Fikri

Hadi juga mengajak  semua satuan pendidikan di Jepara untuk menjadikan Gallery Jepara Wood Carving sebagai pusat pembelajaran seni ukir di Jepara. “ Kami memiliki peralatan dan instruktur yang  cukup banyak,”  pinta Hadi Priyanto.

Saat ini menurut Hadi, Yayasan Pelestari Ukir Jepara  sudah melakukan kerjasama dengan SDN 2 Mantingan, SDN 1 Sukodono dan Unisnu Jepara. “ Semoga kedepan semakin banyak sekolah yang mau menjalin kerjasama secara permanen dengan Yayasan Pelestari Ukir Jepara yang memiliki visi untuk menanamkan minat dan cinta seni ukir pada siswa dan anak-anak muda Jepara,” terangnya

“Jika tidak kita lakukan mulai sekarang, 15 – 20 tahun kedepan seni ukir akan menghadapi kritis  perajin terampil  yang mengancam kelestarian seni ukir sebagai budaya bangsa,” pungkasnya.

Muhammad Fikri Haikal