KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Bupati Kebumen Lilis Nuryani bersama suaminya Mohammad Yahya Fuad dan putranya dr Faiz Allaudien Reza Mardhika melaksanakan Solat Idul Adha di Alun-alun Pancasila, Rabu (27/5).
Bupati membaur bersama ribuan umat Muslim memadati Alun-Alun Pancasila Kebumen untuk melaksanakan ibadah Salat Iduladha 1447 Hijriah. Sesuai jadwal, rangkaian ibadah di Alun-alun depan Pendopo Kabumian ini dimulai tepat Pukul 06.30 WIB.
Kehadiran para tokoh dan pejabat daerah itu turut menambah kekusyukan ibadah Salat Idul Adha pagi tersebut. Bertindak sebagai imam adalah KH Ahmad Adib Amrulloh, Lc. Sementara itu, khotbah Iduladha disampaikan oleh KH Abd Rais, M.S.
Dalam khotbahnya, KH Abd Rais mengingatkan jemaah mengenai cepatnya waktu berlalu sebagai pengingat batas usia manusia di dunia.

KH Abd Rais mengajak seluruh jemaah untuk kembali merenungkan kisah keteladanan Nabi Ibrahim Alaihissalam. Kisah tersebut bukan sekadar ritual pengorbanan, melainkan simbol keikhlasan, kepatuhan mutlak, dan kematangan iman kepada Allah SWT.
Secara khusus, Khotib merangkum empat pelajaran utama dari kisah Nabi Ibrahim yang dapat diterapkan dalam kehidupan modern saat ini. Kepatuhan tanpa ragu. Nabi Ibrahim mengajarkan keikhlasan total dan penyerahan diri sepenuhnya kepada pencipta tanpa ada keraguan.
Kemudian melawan egoisme diri: Ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan simbol meruntuhkan tembok pemisah antara si kaya dan si miskin demi mewujudkan kepedulian sosial.
Selanjutnya, komunikasi dialogis dalam keluarga: Nabi Ibrahim tidak memaksakan perintah Allah secara otoriter kepada putranya, Nabi Ismail. Beliau membuka ruang dialog yang demokratis. Hal ini menjadi pelajaran bagi para orang tua untuk membangun komunikasi sehat dengan generasi muda.

Berikutnya moral dan melawan hawa nafsu: Ibadah kurban adalah simbol perjuangan melawan hawa nafsu kebinatangan dan godaan setan.
Di akhir khotbah, KH Abd Rais juga menyoroti tantangan hidup di era digital. Ia berpesan agar masyarakat tidak hanya aktif berbagi kebaikan di media sosial, tetapi juga harus nyata dalam membantu sesama di dunia riil.
Contohnya melalui donasi online yang amanah serta aktif menyebarkan informasi yang bermanfaat, bukan ujaran kebencian.
“Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat solidaritas, baik di dunia nyata maupun digital. Gunakan sisa umur dan harta kita untuk kemanfaatan agar menjadi berkah di akhirat kelak,” tuturnya.
Komper Wardopo













