blank
Mikel Arteta. Foto: dok/arsenal

blankOleh: Amir Machmud NS

// tentu bukan sekadar kebetulan/ kata “Ar” menjadi magi/ bagi Arsenal/ dari Arsene Wenger ke Mikel Arteta/ dalam 22 tahun penantian…//
(Sajak “Meriam London”, 2026)

TERASALAH, betapa lekat kata “Ar” dalam penantian 22 tahun: dari Arsene Wenger ke Mikel Arteta. Setelah tiga musim beruntun hanya bisa mendekati trofi, akhirnya pada musim 2025-2026 ini Arsenal mampu mewujudkan mimpi.

Tahun 2003-2004 menjadi masa puncak Arsenal di bawah Arsene Wenger. Mereka juara dengan status “invincible”, tak tersentuh kekalahan di sepanjang musim. Namun setelah era emas itu, mereka selalu gagal memuncaki klasemen Liga Primer.

Lebih dari pecah telur setelah 22 tahun, kali ini Meriam London punya kesempatan membuktikan capaian lain. Pada pengujung bulan ini, mereka bakal bertarung di final Liga Champions melawan Paris St Germain. Andai memenangi duel pamungkas di Puskas Arena, Budapest nanti, itu adalah gelar Liga Champions pertama bagi Bukayo Saka dkk. Pada 2006, Arsenal takluk 1-2 di final dari Barcelona.

Gelar juara Liga Primer kali ini, yang dipastikan setelah Manchester City hanya bermain imbang 1-1 dengan AFC Bournemouth, terasa lebih bermakna, karena dalam tiga musim sebelumnya Arsenal seperti tertakdirkan gagal di lap terakhir perpacuan. Baru pada kesempatan keempat setelah memimpin klasemen, Pasukan Arteta benar-benar mampu merengkuh trofi. Hingga pekan-pekan terakhir liga, The Citizens masih membayangi, sehingga perpacuan antara Tim Arteta dengan Tim Guardiola lebih mirip dengan adu mental.

“Kutukan”?
Selama ini, sampai ternarasikan oleh media, Arsenal mengalami “sindrom runner up” dan terkena “kutukan” gagal meraih trofi di saat-saat akhir setelah kencang memimpin klasemen. Bahkan banyak pundit yang menyuarakan agar Mikel Arteta diganti karena tidak mampu menanamkan mental juara bagi Arsenal. Toh manajemen akhirnya memilih mempertahankan Arteta setelah sempat berniat memecatnya karena performa kurang meyakinkan pada 2021.

Pecah telur Arteta ini diperkirakan bakal menjadi perspektif berbeda dalam performa mentalitas anak-anak Arsenal. Mereka yang selama ini terkurung oleh inferioritas dan kecemasan dalam pembuktian diri, akan lebih percaya diri. Persaingan di level atas Liga Primer juga diperkirakan makin ketat dengan Arsenal, Manchester City yang diperkirakan akan berganti manajer dari Pep Guardiola ke Enzo Maresca, Liverpool yang untuk sementara masih mempertahankan Arne Slot, Manchester United yang memberi status permanen bagi Michael Carrick hingga 2028, juga Aston Villa yang stabil di bawah Unai Emery dan baru saja meraih trofi Liga Europa.

Di final Liga Champions nanti, berbekal sukses di Liga Primer, diperkirakan Arsenal bakal bermain lebih lepas. Konfidensi menjadi bekal tambahan untuk menghadapi tim yang tak kalah atraktif dalam racikan Luis Enrique. Ini akan menjadi pertarungan taktik dua arsitek Spanyol: Luis Enrique vs Mikel Arteta,

Selama tiga musim sebelumnya, Arsenal sebenarnya tampil dengan performa yang khas Mikel Arteta, yakni permainan menyerang berintensitas tinggi dengan dominasi penguasaan bola yang biasa disebut media sebagai ”Arteta-ball”, namun musim ini mereka terasa lebih pragmatis, tidak seindah tiga musim sebelumnya.

Banyak yang menyindir, ketika Arsenal tercatat mencetak 35 gol di semua ajang lewat bola-bola mati, dari set piece skema sepak pojok, sehingga mendapat predikat sinis sebagai “pasukan sepak pojok” atau “Arsenal Corner FC”.

Fokus ke sepak pojok itu dilatih secara intensif Nicolas Jover, asisten pelatih yang sangat berperan dalam merancang taktik ini sejak Juli 2021. Di tengah badai kritik, legenda Arsenal, Thiery Henry tidak memasalahkan taktik itu, karena dalam permainan yang dipentingkan adalah kemenangan.

Nyatanya, Arsenal tercatat sebagai tim dengan pertahanan terbaik. Mereka kebobolan paling sedikit selama musim 2025-2026, yakni 26 gol dan 19 cleansheet dari 37 laga, atau dengan satu pertandingan tersisa. Ini mendekati cataran bersejarah mereka yang hanya kebobolan 17 gol pada musim 1998-1999. Musim ini, di tempat kedua, Manchester City kebobolan 33 gol.

Manajer Kedelapan
Arteta menjadi manajer kedelapan yang membawa Arsenal juara, setelah Herbert Chapman (dua kali), Joe Shaw, George Alisson (2), Tim Whitaker (2), Bertie Mee, George Graham (2), dan Arsene Wenger (3). Arteta juga berpeluang menjadi orang pertama yang mengantar Meriam London meraih trofi Eropa apabila bisa menaklukkan PSG di Budapest nanti.

Mantan gelandang Arsenal dan asisten pelatih Manchester City itu menjadi manajer termuda (44 tahun 54 hari) yang juara, juga mencatat rekor sebagai pelatih dengan persentase tertinggi kemenangan, 212 dari 351 laga atau 60,4 persen.

Terlepas dari apa pun hasil di Budapest nanti, dengan trofi Liga Primer, sejarah bakal mencatatnya sebagai manajer dengan nama “Ar” yang bersenyawa dengan dua “Ar” lainnya, Arsenal dan Arsene Wenger…

— Amir Machmud, wartawan Suarabaru.Id