blank
Menandai pengukuhan Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) se Kabupaten Wonogiri, Bupati Setyo Sukarno (kiri depan membungkuk) tengah menyematkan pin ke rompi para camat.(Dok.Prokopim Wonogiri)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Di Kabupaten Wonogiri, terhitung sampai pertengahan Bulan Mei 2026 ini, sudah tercatat 186 kejadian kebencanaan dengan kerugian mencapai Rp 3,463 milyar. Pada Tahun 2025, tercatat 162 kejadian bencana, dengan kerugian material sebesar Rp 3,81 milyar.

Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, data bencana alam di atas, Senin (18/5/26), disampaikan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, saat memberikan sambutan pada upacara pengukuhan serentak Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana). Pengukuhan Kencana mencakup 25 kecamatan se-Kabupaten Wonogiri, digelar di Pendapa Kabupaten Wonogiri.

Upacara pengukuhan Kencana ini, mendapatkan atensi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah dan dari Pemerintah Pusat. Ini ditandai dengan hadirnya Evan Fardianto dari Kementerian Dalam Negeri RI, Direktur Kesiapsiagaan dan Plt Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pangarso Suryotomo, dan Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng Bergas Catursasi Penanggungan.

Hadir pula jajaran Forkompimda Wonogiri, para Staf Ahli Bupati Wonogiri, Sekda FX Pranata, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, para Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Ikut hadir para camat dan jajaran Forkompimcam se Kabupaten Wonogiri, para Ketua Relawan dan Koordinator Organisasi Sosial Kemasyarakatan Kemanusiaan, beserta para Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) se Kabupaten Wonogiri dan unsur akademisi.

Disebutkan, tingkat kerentanan bencana alam di Kabupaten Wonogiri cukup tinggi, dengan sebaran lokasi yang hampir merata di seluruh wilayah. Ini menjadikan tindakan-tindakan yang bersifat preventif, senantiasa dikedepankan untuk mengurangi jatuhnya korban pada setiap bencana yang muncul.

Berkaitan itu, maka hadirnya Kencana menjadi hal yang strategis dalam upaya memangkas jarak respon kedaruratan. Kehadiran Kencana di semua kecamatan, memiliki kemampuan yang mandiri dalam mengidentifikasi risiko bencana, dan mampu melakukan penanganan awal secara cepat. Dengan demikian, akan memberikan rasa aman bagi seluruh masyarakat.

Kemanusiaan

Pada kesempatan tersebut, Bupati Setyo Sukarno, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut mendukung Wonogiri menjadi kabupaten yang tangguh dalam menghadapi bencana. Terima kasih disampaikan pula kepada Kemendagri, BNPB, BPBD Provinsi. Juga kepada seluruh relawan dan unsur masyarakat, yang senantiasa hadir terdepan dalam merespon kebencanaan dan aktif dalam kegiatan kemanusiaan.

Harapan ke depan, format penguatan Pentahelix yang melibatkan unsur pemerintah, masyarakat, dunia usaha, kalangan akademisi, dan juga unsur media, diharapkan menjadikan “Wonogiri Tangguh” yang terbentuk dengan sinergi dan kebersamaan. Dengan pengukuhan Kencana, Bupati berpesan kepada para Camat, untuk segera melakukan konsolidasi dengan para relawan, dan melakukan pemetaan titik rawan di wilayah masing-masing.

Bupati minta agar segera mengoptimalkan peran kelembagaan secara berkelanjutan, dengan memenuhi standar pelayanan minimal. Terus berupaya dalam mengedukasi dan meningkatkan kemandirian dan kesiapsiagaan masyarakat, dalam menghadapi ancaman kebencanaan.

Deklarasi pengukuhan Kencana tersebut, dilakukan bersamaan dengan acara menyambut peringatan Hari jadi Kabupaten Wonogiri Ke-285 Tahun 2026. Yakni dengan mengambil langkah strategis memperkuat benteng pertahanan terhadap ancaman bencana alam. Upacara pengukuhan ditandai dengan pemasang pin ke semua camat.

Langkah ini, menjadi penyempurna sistem mitigasi bencana berbasis wilayah. Juga sebagai upaya melengkapi program Desa Tangguh Bencana (Destana), yang sebelumnya telah sukses terbentuk di seluruh wilayah administrasi tingkat bawah. Peluncuran program mitigasi yang sengaja diintegrasikan dengan upacara kultural Hari Jadi, agar esensi kesiapsiagaan dapat diadopsi sebagai gaya hidup masyarakat.

Berkait ini, Bupati Setyo Sukarno, menginstruksikan kepada seluruh camat, untuk tancap gas berkolaborasi dengan OPD teknis, serta mempertebal nilai-nilai kepedulian sosial di wilayahnya masing-masing. Diingatkan, penanggulangan bencana tidak bisa hanya bertumpu pada aparatur negara semata.(Bambang Pur)