JEPARA SUARABARU.ID — Galeri maupun halaman Gedung SAINSTEK serta Perpustakaan Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara terasa berbeda dari biasanya. Lampu-lampu temaram memantul di wajah kurang lebih 1000 mahasiswa, pelajar dsan aktivis yang mulai memenuhi area gedung sejak lepas magrib.
Suara obrolan bercampur tawa kecil terdengar di sudut-sudut pelataran, sementara sebagian lainnya sibuk mencari posisi duduk terbaik untuk menikmati rangkaian acara nobar film Pesta Babi yang digelar pada Sabtu malam, 16 Mei 2026. Nobar ini merupakan kolaborasi Book Club Jepara, Jaladara, BEM FSH Unisnu, dan komunitas lain.
Malam itu bukan sekadar tentang menonton film bersama. Animo dan rasa penasaran anak muda Jepara sangat besar, sehingga acara yang awalnya hanya disediakan satu tempat menjadi 2 tempat sekaligus.

Sebelum layar dipenuhi adegan-adegan dari Pesta Babi, suasana lebih dulu dihidupkan oleh penampilan performance art dari Jaladara, perkumpulan aktivis perempuan di Jepara yang menyuarakan tentang kesedihan atas ketertindasan alam dan kemanusiaan.
Tidak sedikit mahasiswa yang awalnya bercanda kemudian terdiam dan mencoba memahami makna dari setiap gerakan yang dipertontonkan.

Performance art itu menjadi pembuka yang tidak biasa—sunyi, tetapi menghentak. Beberapa penonton tampak mengangkat telepon genggam untuk merekam momen tersebut, sementara lainnya memilih menikmati dalam diam. Di tengah hiruk-pikuk budaya digital yang serba cepat, pertunjukan itu menghadirkan jeda; ruang kecil bagi penonton untuk merasakan seni secara lebih dekat.
Acara nobar yang digelar di lingkungan kampus itu menjadi ruang temu antara film, seni pertunjukan, dan semangat anak muda Jepara dalam membangun ruang kreatif bersama. Tidak hanya mahasiswa, sejumlah budayawan, pegiat komunitas seni dan masyarakat umum turut hadir memenuhi gedung SAINSTEK malam itu.

Salah satu penonton, Ika (22) menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk upaya menghadirkan ruang apresiasi alternatif bagi generasi muda. Dia merasa senang dapat menyaksikan film yang memang sedang viral ini.
Ketika pemutaran film dimulai, suasana ruangan perlahan berubah hening. Cahaya layar memantul di deretan wajah penonton yang fokus mengikuti alur cerita.
Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini menyoroti deforestasi besar-besaran di tanah Papua dan perjuangan masyarakat adat mempertahankan ruang hidupnya.
Di tengah rutinitas akademik dan aktivitas harian yang padat, malam itu menjadi semacam ruang rehat bagi anak-anak muda Jepara. Mereka datang bukan hanya untuk mencari hiburan, tetapi juga untuk merasakan kebersamaan dalam ruang budaya yang hidup serta ilmu dan bagaimana film menjadi alat komunikasi yang bisa meluas di masyarakat.
Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat belajar di dalam kelas, tetapi juga ruang tumbuh bagi kreativitas dan ekspresi seni. Dari sebuah performance art sederhana hingga layar film yang menyala di malam hari, Gedung SAINSTEK malam itu menjadi saksi bahwa seni masih memiliki tempat di hati generasi muda.
Nobar film dokumenter pesta babi karya Dandhy Laksono di putar dalam rangkain Festival Syariah FSH Unisnu Jepara, di kampus Unisnu Jepara ,durasi 1,5 jam.
Panitia Nobar Falah, menyampaikan bahwa nonton bareng ini sebagai rangkaian Festival Syarah yang ke 9.
Dekan FSH Dr Wahidullah, S.H. M.H memberikan apresiasi acara ini. “ Film ini memberikan gambaran atas ketertindasan Masyarakat Adat Papua yang mengisahkan tentang peristiwa tragis perampasan tanah oleh penguasa atas nama proyek nasional ini berlanjut sampai sekarang,” ujarnya.
Hadepe – Septiana W – Ika Putri













