JEPARA (SUARAABARU.ID) – Sebagai upaya melestarikan (nguri-uri) budaya Jawa, Permadani Kabupaten Jepara mengadakan seminar budaya. Seminar budaya yang diselenggarakan pada hari Kamis, 14 Mei 2026 di gedung Shima Jepara ini diikuti 135 orang peserta dari Permadani Bregada II, Bregada III, Bregada IV, dan MUA Harpi Melati.
Acara dibuka oleh Kadisparbud Jepara Ali Hidayat dengan ditandai pemukulan gong oleh anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Andang Wahyu Triyanto, S.E., M.M.

Panitia kegiatan, Heri Suprayitno, S.Pd. mengucapkan terima kasih kepada semua fihak yang hadir dan mendukung kegiatan seminar budaya ini. ”Juga kepada seluruh peserta seminar yang sudah berpartisipasi mengikuti seminar budaya yang diselenggarakan Permadani Jepara. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk mengenalkan kembali budaya Jawa kepada masyarakat,” imbuhnya.
Sementara Kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Ali Hidayat , S.Pd.M.M. menyampaikan ucapan terima kasih kepada kepada Pepari dan Permadani Jepara yang telah mengajak masyarakat untuk melestarikan budaya Jawa. “Selamat belajar, lestarikan budaya Jawa,” imbuhnya.

Untuk memberikan motivasi kepada peserta Ali Hidayat juga menyanyikan tembang Pucung, “Ngilmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara,” yang disambut tepuk tangan meriah peserta seminar budaya.
Pembukaan seminar oleh Ali Hidayat, S.Pd. M.M., ini dilanjutkan dengan pemukulan gong oleh Andang Wahyu Triyanto, S.E.. Tepuk tangan meriah dari peserta seminar memenuhi ruang megah gedung Shima Jepara.

M.Ng. H. Mariyoto S.S., S.Pd., S.Pd.I moderator seminar budaya menyampaikan tema seminar budaya yang akan dikupas oleh narasumber-narasumber hebat yaitu: “Perbedaan temu pengantin gagrak Yogyakarta dan gagrag Surakarta.”
Penyampaian materi gagrak Yogyakarta oleh Dalono, S.Pd.. Sedangkan peragaan temu pengantin gagrag Yogyakarta oleh tim dipandu oleh Feri, S.Pd. dan Dalono, S.Pd. Peragaan runtut berjalan sesuai aturan gagrag Yogyakarta, sehingga peserta mudah memahami.

Sementara Suyanta, S.Pd. menyampaikan materi gagrag Surakarta dengan runtut juga disertai peragaan. “Bedanya gagrag Yogyakarta dan gagrak Surakarta antara lain: Yogyakarta, pasrah menggunakan pisang sanggan, Surakarta tidak, ucap Suyanta, S.Pd. Gagrag Yogyakarta temu kembar mayang, untuk gagrak Surakarta liru kembar mayang,” imbuhnya menyimpulkan materi.
Ketua Permadani Kabupaten Jepara KRT. Hendro Suryo Kartiko, S.Sn. mendukung kegiatan seminar budaya, “Dengan kegiatan seminar budaya semoga menambah pengetahuan peserta seminar, sehingga dapat membedakan temu pengantin gagrag Yogyakarta dan gagrag Surakarta.

Kegiatan seminar budaya didukung oleh Permadani, Pendapa dekorasi, LKP Marga Langit, LKP Imelda, LKP Iyana. “Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan seminar, semoga berkah semuanya, ucap salah satu panitia.
Melestarikan (Nguri-uri) budaya tidak sekedar mencintai seni Jawa saja, namun harus menghidupkan nilai, basa, lan tata krama supaya tetap hidup di masyarakat.
Dengan adanya seminar budaya dapat menambah pengetahuan peserta seminar. Sebagai pengemban budaya Jawa diharapkan dapat menerapkan tata cara temu pengantin gagrag Yogyakarta ataupun gagrag Surakarta dengan benar.
Hadepe – Rofiatun Guru SDN 3 Tubanan













