SEMARANG (SUARABARU.ID) – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, secara resmi melantik Handi Priyanto sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang definitif, Senin sore 18 Mei 2026.
Kehadiran sekda definitif ini diharapkan mampu mempercepat akselerasi roda pemerintahan serta memperkuat struktur Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Semarang dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.
Dalam keterangannya usai pelantikan, Wali Kota menyampaikan rasa syukur atas selesainya proses seleksi yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan sejak Februari lalu.
Dirinya mengakui, keberadaan pejabat definitif ini secara langsung meringankan beban kerja pemerintahan yang selama beberapa waktu terakhir diemban oleh Penjabat (PJ) Sekda.
“Nomor satu, saya menjadi lebih ringan pekerjaannya karena sudah ada Sekda definitif dan tidak ada lagi PJ (penjabat sekda). Kalau PJ itu kan separuh tugasnya ada di sana, separuh di sini, kasihan juga. Sekarang roda pemerintahan berjalan dengan squad yang penuh,” ujarnya.
Menampik adanya isu penundaan pelantikan, Wali Kota menegaskan bahwa seluruh tahapan berjalan sesuai dengan lini masa panitia seleksi (pansel). Proses pengisian jabatan tertinggi birokrasi di Pemkot Semarang ini dilakukan melalui metode pendaftaran terbuka guna menjamin transparansi.
Dari proses penyaringan awal, tersisa empat kandidat yang kemudian mengerucut menjadi tiga nama terbaik setelah melewati berbagai tahapan persyaratan ketat dari pansel.
“Semua prosesnya benar-benar terbuka. Dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) turun tiga nama, dan saya harus memilih satu. Saya pilih yang nilainya paling besar (tertinggi),” tegasnya.
Sosok Handi Priyanto dinilai membawa angin segar bagi ibu kota Jawa Tengah. Meski datang dari luar daerah, Handi memiliki rekam jejak mentereng sebagai mantan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) yang menorehkan prestasi di tingkat nasional. Keunggulan inilah yang akan dioptimalkan Pemkot Semarang untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Tantangan positif yang hari ini harus dijawab dan menjadi keunggulan dari Pak Sekda kita adalah latar belakang beliau sebagai Kepala Bapenda yang sangat berprestasi di tingkat nasional. Jika Kota Semarang mau meningkatkan PAD, dengan menutup kebocoran yang ada, serta melakukan intensifikasi, saya kira ini akan sangat bisa direalisasikan,” lanjut Wali Kota.
Dirinya menambahkan, tugas mendesak yang kini disiapkan untuk Sekda baru bersama TAPD adalah mengabstraksikan tugas dan tanggung jawab Pemkot Semarang berjalan di tahun anggaran 2026, sekaligus menyusun proyeksi matang untuk tahun 2027 dengan mengacu pada RPJMD yang ada.
Wali Kota memaparkan, fokus utama Kota Semarang di tahun 2026 bertumpu pada sektor ketahanan pangan dan lingkungan hidup. Sementara untuk tahun 2027, tantangan besar yang dihadapi adalah memacu pertumbuhan ekonomi berbasis sektor pariwisata seiring derasnya arus investasi luar yang masuk.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Agustina menginstruksikan Sekda baru agar tidak hanya bertumpu pada kajian internal birokrasi, melainkan turut menggandeng kekuatan eksternal dan lembaga nasional.
“Kita tidak bisa sendiri karena sudah banyak investasi luar yang masuk. Kalau hanya bertumpu pada kajian internal, kita akan selalu terlambat mengantisipasi peluang. Perlu ada kombinasi kajian dari dalam terkait budaya dan kebiasaan, serta kajian dari luar untuk membaca opportunity (kesempatan) dari kacamata nasional,” jelasnya.
Terkait persiapan Perubahan APBD (P-APBD) maupun perencanaan anggaran ke depan, Wali Kota menegaskan posisinya tetap memberikan catatan garis besar (note outline) sesuai dengan amanat pemerintah pusat, sementara proses teknis penyesuaian akan sepenuhnya dikomandoi oleh Handi Priyanto selaku Ketua TAPD yang baru bersama tim yang ada.
“Dengan dukungan dari seluruh pihak, Forkopimda, dan jajaran DPRD, saya yakin dinamika tantangan Kota Semarang ke depan dapat dijawab dengan baik untuk membawa kota ini semakin maju,” katanya.
Sementara itu, Sekda Kota Semarang yang baru dilantik, Handi Priyanto, menegaskan kesiapannya untuk mengomandoi jajaran birokrasi di lingkungan Pemerintah Kota Semarang.
Sebagai langkah awal, Handi berkomitmen untuk menerjemahkan visi-misi kepala daerah (Wali Kota Semarang), khususnya dalam mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menangkap peluang investasi yang masuk.
Diwawancarai usai prosesi pelantikan, Handi mengibaratkan peran Sekda sebagai seorang konduktor dalam sebuah pertunjukan musik yang bertugas mengorkestrasi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Tugas Sekda itu sebagai konduktor untuk mengorkestrasi OPD, bagaimana menjabarkan dan menjalankan secara efektif dan efisien visi-misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang tertuang dalam RPJMD,” ujar Handi.
Dirinya menambahkan bahwa pemahaman mendalam terkait visi-misi Wali Kota Agustina Wilujeng dan Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin telah ia tuangkan sejak dalam tahapan seleksi makalah lalu.
Menanggapi instruksi khusus dari Wali Kota terkait optimalisasi sektor pendapatan, Handi memaparkan bahwa tantangan fiskal saat ini dihadapi oleh hampir seluruh wilayah di Indonesia.
Dirinya lebih jauh menjelaskan, adanya tren penurunan Transfer Ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat menuntut pemerintah daerah untuk lebih kreatif dalam mencari alternatif pendanaan.
Meski demikian, Handi menggarisbawahi bahwa strategi peningkatan fiskal daerah tidak boleh mengorbankan kesejahteraan warga.
“Dengan penurunan TKD itu, masing-masing daerah diminta kreatif bagaimana meningkatkan PAD di tengah kondisi tersebut, tetapi garis bawahnya adalah tanpa membebani masyarakat. Artinya, tidak ada skema kenaikan pajak, tetapi PAD yang harus naik,” tegas mantan Kepala Bapenda Kota Malang ini.
Walau begitu, terkait detail teknis potensi mana saja yang akan digali, dirinya memilih untuk mempelajarinya lebih dalam dulu bersama tim internal agar tidak terkesan mendahului.
Ketika ditanya mengenai alasannya mengikuti seleksi terbuka di Kota Semarang, Handi menjelaskan bahwa statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) menuntut kesiapan untuk mengabdi di mana saja sebagai pemersatu bangsa.
Kesempatan seleksi terbuka yang berlaku secara nasional ini ia manfaatkan setelah melihat potensi luar biasa yang dimiliki Kota ATLAS yang menurut pandangannya Semarang memiliki keunggulan geografis yang sangat unik jika dibandingkan dengan kota-kota metropolitan lain di pulau Jawa seperti Surabaya maupun Bandung.
“Semarang ini Kota Metropolis. Hal menarik di Semarang yang tidak dimiliki Bandung adalah Semarang punya gunung, punya laut, dan segala macam potensi. Di Google pun saya lihat banyak sekali investasi yang masuk. Tentu bagi dunia private (swasta), ada hal menarik yang membuat mereka berbondong-bondong datang ke Semarang dan bukan ke daerah lain,” ungkapnya.
Sementara itu, menanggapi tantangan alam seperti bencana banjir yang sempat melanda Kota Semarang beberapa waktu lalu, Handi memilih untuk tidak berkomentar terlalu jauh secara teknis di hari pertamanya menjabat.
Kendati demikian, dirinya memastikan birokrasi akan bergerak tegak lurus mengamankan program penanganan yang dicanangkan pimpinan daerah.
“Saya belum bisa bicara detail teknis tentang itu. Tapi apa pun yang diprogramkan oleh Ibu Wali Kota dan Pak Wakil Wali Kota, kita akan jalankan dengan sebaik-baiknya,” pungkas Handi.













