KOTA MUNGKID
(SUARABARU.ID) –
Wayang kulit dengan dalang kondang, KRA H Gunarto Talijendro, digelar di Terminal Secang, Kabupaten Magelang, Sabtu (2 Mei 26) malam. Pagelaran dengan lakon: Kisah Cinta Wilutomo, itu wujud tukar budaya Kabupaten Magelang dan Karanganyar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, berlangsung sampai sekitar pukul 03.00 pada Minggu (3/5/26).
Rangkaian acara Secang Fest itu berlangsung sangat meriah. Penonton disuguhi bintang tamu
Marwoto, Nurhana, Kirun, duo sinden Apri Mimin, Whawin Lawra, persembahan Paguyuban Wani Tombok, Pemkab Karanganyar.
Hiburan segar itu diawali dengan Tari Gambyong, sekitar pukul 21.06. Selanjutnya sajian Tari Karang Tumandang dari Karanganyar, disusul tari Dolalak yang merupakan tarian khas Kabupaten Purworejo.
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, dalam acara itu mengatakan, kedua daerah memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Magelang mempunyai Borobudur sebagai mahakarya peradaban dunia, serta tradisi masyarakat yang masih lestari hidup di desa-desa lereng Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong, dan Menoreh. Sementara Karanganyar memiliki kekayaan yang sangat kuat dengan spiritualitas Gunung Lawu, tradisi masyarakat, serta pertunjukan kearifan lokal yang terus dijaga oleh masyarakatnya.
Menurut dia, dua daerah itu berbeda, tetapi memiliki nafas yang sama. Pertukaran budaya bukan hanya tentang tampilan seni, baik musik, tari, maupun budaya. Tetapi kegiatan tersebut adalah perjumpaan tata nilai dan jati diri sebagai sebuah budaya.
Budaya bukan hanya cerita masa lalu, tetapi masih terus mencari dan hadir dalam kehidupan masyarakat. Menjadi kekuatan dalam membangun karakter, mempererat persaudaraan,
menggerakkan ekonomi kreatif, memperkuat pariwisata dan pendidikan generasi muda, agar tidak terlepas dari jati diri bangsa.

“Melalui pertukaran budaya bisa saling belajar dan seniman bisa saling bertemu, budayawan bisa saling bertukar gagasan, pemerintah daerah saling membuka diskusi dan kerja sama. Budaya tidak hanya berhenti di panggung, tetapi bergerak menjadi energi pembangunan,” harapnya.
Kebudayaan harus ditempatkan sebagai kekuatan strategis,
bukan urusan masa lalu, tetapi adalah masa depan. “Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Magelang berkomitmen mendorong kemajuan kebudayaan. Ingin hadir di sekolah- sekolah, komunitas, desa, ruang publik, dan di hati masyarakat,” tandasnya.
Disebutkan pula, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026, Pemkab Magelang meluncurkan sebuah ikhtiar memajukan kebudayaan, yakni Gerakan Sanggar Seni Sekolah. Itu sudah berjalan, diikuti oleh 19 sekolah. “Sebuah kesadaran, agar generasi muda bisa belajar mencintai nilai leluhur, serta mampu mengemasnya dengan cara-cara sesuai dengan perkembangan zaman,” katanya.
Disebutkan pula, saat ini anak-anak hidup dalam dunia digital.
“Tugas kita bukan menjauhkan budaya dari teknologi, tetapi bagaimana kita menghadirkan budaya melalui teknologi,” tuturnya.
Menurut Bupati, seni tradisi bisa tampil di ruang digital, cerita rakyat bisa hadir dalam konten-konten kreatif. Kelompok seni bisa dikenal lebih luas melalui media sosial. Produk budaya bisa menjadi bagian dari ekonomi masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, penanggung jawab
Paguyuban Wani Tombok, Kabupaten Karanganyar, Dina Putri, berterima kasih atas adanya undangan dari Kabupaten Magelang untuk tukar budaya. Maka pihaknya memperkenalkan dan mempersembahkan kebudayaan lokal khas Kabupaten Karanganyar. Salah satunya tarian khas: Karang Tumandang.
Disebutkan, dalang yang ditampilkan dalam pagelaran Wayang Kulit itu merupakan dalang internasional. “Ini salah satu dalang di Indonesia yang sudah keliling ke dua belas negara,” tuturnya.
Menurut dia, budaya Jawa berupa gamelan, tarian, wayang kulit, adalah identitas bangsa kita. Jangan sampai dihargai oleh bangsa lain. “Kita wajib memastikan dan menjaga kalau ini adalah identitas kita. Yakni Wayang Kulit yang sudah dibawa ke mana-mana, ke manca negara oleh Pak Gun,” katanya.
Eko Priyono













