SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Tampil dengan instrumen musik yang minimalis, tapi grup Orkes Keroncong (OK) Sadex Cs, mampu menyajikan irama yang gayeng. Grup OK yang dikomandani oleh Sadana Sadex ini, Jumat malam (1/5/26), tampil memeriahkan malam midodareni di rumah Totok Djarwanto, Kampung Cubluk, Wonogiri, Jawa Tengah.
Sebagai pemimpin grup, Sadana Sadex, tampil memainkan instrumen selo, Atok dan Wiwit memainkan instrumen Cak dan Ukulele. Kemudian Sidur dan Jendul pegang bas guitar dan seruling. Nada seruling, dimunculkan bukan dari alat tiup, tapi dari perangkat organ mampu memperkaya nada irama. Tidak menyertakan bas bethot dan biola serta alat perkusi.
Gayeng adalah kata bahasa Jawa yang diserap ke dalam bahasa gaul. Artinya untuk penggambaran suasana yang menyenangkan, menggembirakan, meriah, santai tapi penuh greget (semangat). Kata ini, menggambarkan kehangatan hubungan dan situasi yang asyik, yang sering dipakai untuk menyebut acara, obrolan atau suasana yang seru.
Gunardi yang menjadi MC (Master of Ceremony), tampil pula sebagai penyanyi. Mantan Kiper Persiwi (Persatuan Sepak Bola Wonogiri) ini, membuka persembahan dengan mendendangkan Lagu Bengawan Solo, karya komponis legendaris Gesang. Nama lengkapnya Gesang Martohartono. Maestro musik keroncong Indonesia ini, lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada Tanggal 1 Oktober 1917 dan wafat pada Tanggal 20 Mei 2010, terkenal sebagai pencipta lagu legendaris Bengawan Solo dan sejumlah tembang keroncong yang populer dan abadi..
Nyanyian Bengawan Solo, diminta oleh rombongan besan (keluarga pengantin pria), yakni Ade Fahmi Ferdaus putra Alamarhum H Budi Gunawan-Ibu Hj Ni Komang Sutami dari Dauh Peken, Tabanan, Bali. Yang berjodoh dengan Amelea Aura putri Totok Djarwanto-Sukesi, Kampung Cubluk, Wonogiri, Jawa Tengah. Ayah Totok, Alamarhum H Sudarwo, dulu dikenal sebagai seniman keroncong yang handal.
Bunga Anggrek
Beragam lagu keroncong dan langgam disajikan dalam alunan tembang yang syhadu secara susul menyusul. Penyanyi Tuparno, mendendangkan lagu Bunga Angrek dan tembang Di Bawah Sinar Bulan Purnama. Timbul, menyanyikan Bandar Jakarta. Sukardi menyanyikan tembang Pamitan. Juga didendangkan tembang Lungite Asmara, Dewi Murni, Stasiun Balapan, Aryati dan lain-lain,
Keroncong, berakar dari musik Fado Portugia yang dibawa ke Nusnatara oleh pelaut dan budak pada Abad Ke-16 atau skeitar Tahun 1552. Yang ke mudian berkembang pesat di Kampung Tugu, Jakarta. Musik ini, lahir dari perpaduan budaya Barat dan Timur, yang kemudian berevolusi dengan alat musik seperti ukulele, gitar dan biola.
Musik keroncong, berangsur-angsur mendunia sejak Abad Ke-16-17. Disebarkan oleh Bangsa Portugis dari Afrika Utara dan India, ke Malaka, kemudian ke Indonesia Timur. Musik ini, sering dimainkan oleh budak-budak dari Ambon dan menetap di Kampung Tugu. Keroncong Tugu (1661), merupakan komunitas di Jakarta Utara, menciptakan gaya khas, dengan mengembangkan lagu seperti Moresco, Kafrinyu dan Old Song.
Keroncong Tempo Doeloe (1880-1920), mulai dikenal luas dan berevolusi dengan pengaruh musik lokal. Masa Abadi (1920-1960), pada masa tersebuit musik keroncong populer di tengah masyarakat, dan banyak lagu-lagu keroncong abadi diciptakan. Keroncong Modern & Millenium (1960-sampai masa kini).
Musik keroncong terus berevolusi, memadukan gaya tradisional dengan unsur-unsur modern, untuk menarik generasi muda. Termasuk yang dilakukan oleh Grup OK Sadex di Wonogiri, Jawa Tengah. Yang tampil minimalis, tanpa menyertakan biola, seruling tiup maupun bas bethot. Tapi menyertakan alat musik modern berupa organ, yang mampu menyajikan alunan irama nada yang semarak. Langkah terobosan OK Sadex Grup ini, barangkali menjadi bentuk modifikasi baru dalam upaya melestarikan musik keroncong di Tanah Air.(Bambang Pur)













