SEMARANG (SUARABARU.ID) –Suasana lantai 2 Gedung A Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang tampak hidup sejak pukul 08.00 WIB, Kamis 30 April 2026. Ratusan peserta telah bersiap, baik yang hadir langsung maupun yang mengikuti secara daring. Sebanyak 792 peserta tercatat ambil bagian dalam webinar Corporate University (CorpU) Series 2026 yang mengangkat tema “Work From Home (WFH) dan Pencapaian Karakter Adaptif, Tech Savvy, dan Eco-Friendly Menuju ASN Robust 2030”.
Webinar ini dipandu oleh Dr. Muh Khamdan, widyaiswara Bapelkum Semarang, yang tampil komunikatif dan energik sejak awal sesi. Dengan gaya khas yang lugas namun reflektif, ia mampu menghidupkan diskusi yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga aplikatif bagi para aparatur sipil negara (ASN) di tengah dinamika perubahan kerja.
Dalam pengantarnya, Khamdan menegaskan bahwa transformasi pola kerja melalui WFH bukan sekadar respons terhadap situasi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun ASN yang tangguh. “Kita tidak hanya bicara soal bekerja dari rumah, tetapi bagaimana membentuk karakter ASN yang adaptif terhadap perubahan, cakap teknologi, dan memiliki kesadaran lingkungan,” ujarnya.
Topik ini semakin relevan di tengah tuntutan birokrasi modern yang menuntut efisiensi, fleksibilitas, dan keberlanjutan. Khamdan menekankan bahwa konsep robust ASN 2030 harus dimulai dari perubahan mindset individu ASN itu sendiri, yang kemudian diperkuat dengan sistem dan budaya kerja yang mendukung.

Sebagai narasumber pertama, Analisa Widyaningrum, founder APDC sekaligus konsultan psikologi klinis dan pengembangan korporasi, memberikan perspektif mendalam tentang pentingnya kesiapan mental dan adaptasi psikologis dalam sistem kerja hybrid. Ia menyoroti bahwa kemampuan beradaptasi bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga ketahanan mental dan kecerdasan emosional.
“ASN hari ini harus menjadi pembelajar yang lincah. Tech savvy bukan hanya soal mampu menggunakan teknologi, tetapi bagaimana memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pelayanan publik,” jelas Analisa dalam paparannya yang disambut antusias peserta.
Penguatan materi juga disampaikan oleh Reisyana Nelwan Dhani dan Esty Kartika Wulandari dari Biro SDM Kementerian Hukum. Keduanya menekankan pentingnya kebijakan SDM yang adaptif terhadap perubahan pola kerja. Mereka menggarisbawahi bahwa pengelolaan ASN ke depan harus berbasis kompetensi digital, fleksibilitas kerja, serta keseimbangan antara kinerja dan kesejahteraan.
Sementara itu, Amin Salasa dari BSK Hukum memberikan perspektif kelembagaan terkait penguatan kapasitas ASN dalam menghadapi era digitalisasi birokrasi, berbasis pada riset kebijakan. Ia menyoroti bahwa integrasi teknologi dalam sistem kerja harus diiringi dengan peningkatan kapasitas individu agar tidak terjadi kesenjangan kompetensi.
Diskusi yang berlangsung interaktif ini juga diwarnai dengan berbagai pertanyaan dari peserta, mulai dari implementasi WFH di instansi masing-masing hingga strategi menjaga produktivitas dan kesehatan mental. Khamdan sebagai moderator mampu merangkai diskusi dengan rapi, memastikan setiap narasumber memberikan jawaban yang konkret dan relevan.
Menariknya, aspek eco-friendly turut menjadi sorotan penting dalam webinar ini. Para narasumber sepakat bahwa pola kerja WFH dapat menjadi kontribusi nyata dalam mengurangi jejak karbon, sekaligus mendorong budaya kerja yang lebih ramah lingkungan di kalangan ASN.
Di akhir sesi, Dr. Muh Khamdan menutup webinar dengan pesan reflektif bahwa ASN masa depan bukan hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga adaptif secara sosial, unggul dalam teknologi, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Webinar ini menjadi salah satu langkah konkret dalam membangun fondasi ASN yang robust, siap menghadapi tantangan 2030 dengan lebih percaya diri dan kompeten.
Hadepe













