JAKARTA (SUARABARU.ID) – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon secara resmi telah membuka Pameran Tatah 2026, Rabu (29/4-2026). Pembukaan pameran yang berlangsung di Ruang Pamer Temporer A, Museum Nasional Indonesia Jakarta ini dihadiri juga Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Airin Umar, beberapa duta besar, Bupati Jepara Witiarso Utomo, Ketua HIMKI Pusat Abdul Sobur serta sejumlah tamu undangan.
Pembukaan pameran tersebut juga ditandai prosesi wiwitan pembuatan macan kurung yang diikuti semua pejabat yang hadir. Macan kurung ini akan disiapkan untuk Pameran Tatah Tahun 2027.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap Pameran Tatah yang disebutkan sebagai langkah untuk mengembangkan kembali marwah ukiran Jepara.
Namun pameran yang menampilkan karya 11 seniman ukir bertajuk “Suluk – Sulur – Jepara” ini baru dapat dikunjungi masyarakat pada 30 April hingga 5 Juli 2026.
Direktur Pelaksana TATAH 2026 Veronica Rompies menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua fihak yang telah memberikan kontribusi dan dukungan hingga pameran ini dapat terselenggara, utamanya Kementerian Kebudayaan.

Sedangkan dalam sambutannya Bupati Jepara Witiarso Utomo menegaskan, “TATAH” bukan hanya nama alat ukir. “Bagi kami di Jepara, tatah adalah perpanjangan tangan, bahkan perpanjangan laku spiritual, dan jiwa para pengukir. Dari setiap ketukannya, lahir karya yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna,” ujarnya
Lebih lanjut ia mengungkapkan, Jepara, bagi sebagian orang, mungkin dikenal sebagai kota kecil di pesisir utara Pulau Jawa. “Tapi sesungguhnya, Jepara menyimpan perjalanan panjang sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya di dunia. Dari masa Ratu Kalinyamat, sejak Jepara menjadi bagian dari jalur perdagangan dunia, lalu ke masa R.A. Kartini, hingga hari ini Jepara terus mengukir sejarahnya sendiri,” ungkap Witiarso Utomo

“Melalui Pameran Tatah ini kami ingin menyampaikan bahwa Jepara tidak hanya menghasilkan produk. Jepara memproduksi makna, identitas, dan peradaban. Jepara melahirkan karya seni yang menjadi identitas dan kebanggaan bangsa,” terangnya
Witiarso Utomo juga menjelaskan, di balik setiap ukiran, ada kehidupan. Ada ribuan keluarga yang menggantungkan harapan pada seni ini. 2 Ada begitu banyak jiwa yang melahirkan karya independen, tidak selalu sebagai sebuah produk fungsional. Tapi juga melahirkan karya seni, mewariskan sejarah.

Bupati Witiarso juga menyampaikan membuka diri untuk kolaborasi: antara seniman, maestro dan empu ukir, desainer, pelaku industri, akademisi, dan komunitas global. Kami berharap, dari ruang ini akan lahir jejaring baru, akan terbuka pintu-pintu kerja sama internasional, dan ukiran Jepara dapat hadir di lebih banyak ruang di berbagai penjuru dunia.
Hadepe













