blank
Intan Putri Salsabila Juara 1 Lomba Baca Puisi Piala Bupati Jepara 2026, bersama pelatih Asyari Muhammad. Foto: Septi.

JEPARA (SUARABARU.ID)— Intan Putri Salsabila hanya tersenyum kecil, saat namanya dipanggil sebagai Juara I Lomba Baca Puisi Piala Bupati Jepara 2026 di SMA Muhammadiyah Jepara, Sabtu (25/4/2026).

Siswi SMP Negeri 1 Pecangaan itu seolah masih tak percaya bahwa suaranya yang tadi bergetar di panggung, kini mengantarnya menjadi yang terbaik. Puisi wajib surat Kartini yang digubah oleh panitia manjadi bait puisi berjudul Hujan di Kebun Mawar dan puisi pilihan Pantai Bandengan karya Udik Agus DW dibacakannya dengan apik hingga menjadi jembatan menuju juara.

blank
Foto bersama para pelatih dan siswa Sanggar Kreatif Kalinyamat. Foto: Septi.

Asyari Muhammad, pelatih dan pembina Sanggar Kreatif Kalinyamat tempat Intan menimba ilmu menyampaikan bahwa kata-kata bisa menjadi kekuatan. Dan di hari itu, ia membuktikan puisi bukan sekadar rangkaian larik yang dihafalkan, melainkan sesuatu yang dapat dihidupkan.

Di panggung Lomba Puisi memperingati 4 Dekade SMP Muhammadiyah 01 ini, Intan tidak hanya membaca puisi, ia juga menghadirkan tehnik vokal dan ekspresi yang apik.
Setiap jeda yang ia ambil seperti memberi ruang bagi makna untuk bernapas. Setiap tekanan suara yang ia bangun terasa seperti membawa emosi bergerak perlahan ke arah penonton.

Ruangan yang semula riuh menjadi hening. Lalu tepuk tangan pecah. Bagi banyak orang, kemenangan itu mungkin tampak lahir dalam sehari. Namun sebenarnya Ia bertumbuh jauh sebelumnya di ruang-ruang sederhana yaitu Sanggar Kreatif Kalinyamat, di sanalah Intan ditempa.

Bukan hanya belajar melafalkan diksi, para pembaca puisi harus memahami bahwa puisi adalah rasa yang harus sampai. Di bawah bimbingan Asyari Muhammad, pelatih sekaligus Founder Sanggar Kreatif Kalinyamat, latihan tidak pernah semata soal teknik. Anak-anak diajak membaca makna, merasakan suasana, bahkan menyelami luka dan harapan yang hidup di dalam teks.

“Puisi itu bukan dibunyikan, tapi dihidupkan. Kalau hanya membaca kata, penonton mendengar suara. Tapi kalau menghayati, penonton bisa merasakan,” ujar Asyari.

Kalimat yang bukan hanya teori bagi Intan. Itu menjadi cara berlatih. Menurut Ashari, Intan termasuk anak yang tekun. Ia anak yang teliti menangkap arahan. Jika diminta mengulang satu bait berkali-kali demi menemukan tekanan emosi yang tepat, ia melakukannya tanpa mengeluh.

“Yang menonjol dari Intan justru kesungguhannya. Dia mau berproses. Itu yang penting dalam seni,” ujar Ashari.

Kesungguhan itulah yang perlahan mengubah anak belia kelahiran Jepara, 2 Juli 2012 itu menjadi pembaca puisi yang matang di panggung. “Namun kemenangan ini, bagi Sanggar Kalinyamatan, lebih dari soal gelar juara,” ujar pelatihnya, Asyari.

Bahwa ini adalah sebagai bukti bahwa ruang-ruang kecil seperti sanggar tetap penting di tengah zaman yang bergerak serba cepat. Di saat banyak remaja tenggelam dalam gawai, beberapa yang istimewa memilih tekun berlatih dalam jalan yang sunyi. Tetapi justru dari jalan sunyi itu, karakter ditempa.

Sanggar Kreatif Kalinyamat sendiri adalah ruang belajar bagi anak-anak yang ingin berteater, puisi, musik, tari, dan film. Disini puisi dipandang bukan sekadar cabang lomba. Ia adalah pendidikan rasa. Anak-anak belajar keberanian berbicara, kepekaan sosial, dan cara mengekspresikan pikiran.

Mungkin itu sebabnya banyak peserta didik yang datang ke sanggar bukan hanya mencari prestasi, tetapi juga mencari tempat bertumbuh. Dan Intan adalah salah satu kisah tumbuh itu.

“Waktu tampil saya deg-degan, tapi saya ingat pesan pelatih, sampaikan puisinya dengan hati,” ujar Intan. Kalimat sederhana itu menyimpan seluruh perjalanan panjangnya. Tentang latihan yang berulang, tentang gugup yang dilawan, tentang seorang anak yang belajar percaya pada suaranya sendiri.

Di tengah derasnya dunia yang makin gaduh, kemenangan Intan seperti mengingatkan sesuatu yang sering terlupa bahwa kata-kata masih punya daya. Bahwa puisi masih bisa menyentuh. Bahwa dari sebuah sanggar kecil di Kalinyamat, seorang anak bisa menorehkan prestasi, sekaligus membawa pesan bahwa sastra tetap hidup di tangan generasi muda.

Septiana W