blank
Kegiatan pembinaan kemandirian bertema “Dibalik Jeruji: Tumbuh Inovasi Batik Produksi". Foto: Dok/Humas

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang terus menunjukkan komitmennya dalam pembinaan kemandirian warga binaan melalui inovasi produksi batik.

Dalam kegiatan bertema “Dibalik Jeruji: Tumbuh Inovasi Batik Produksi”, Kepala Seksi Pengelola Hasil Kerja Bersama Staf Bimbingan Kerja Lapas Kelas I Semarang, Candra Putra Perwira membahas terkait proses pembinaan kemandirian melalui produksi batik, mulai dari tahap pelatihan hingga pemasaran hasil karya warga binaan.

Dikatakan, pogram pembinaan batik di Lapas Kelas I Semarang dimulai melalui pelatihan yang bekerja sama dengan Kinanthi Wastra Batik. Dalam pelaksanaannya, warga binaan dibimbing secara bertahap oleh instruktur, serta didukung petugas Lapas dalam pengembangan keterampilan.

“Proses pembuatan batik tulis diawali dari pengenalan motif dan desain, kemudian dilanjutkan dengan proses pencantingan menggunakan malam (lilin batik) di atas kain. Setelah itu, dilakukan pewarnaan, pelorodan (penghilangan malam), hingga tahap finishing sebelum produk siap dipasarkan,” ungkap Candra, Sabtu (25/4/2026).

Menurutnya, seluruh proses pembuatan batik dilakukan dengan pengawasan dan pendampingan, sehingga menghasilkan karya batik yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi.

Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari menyampaikan, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan hasil pembinaan sekaligus menunjukkan bahwa warga binaan mampu berkarya secara produktif.

“Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkenalkan hasil pembinaan kemandirian warga binaan kepada masyarakat luas. Kami ingin menunjukkan bahwa di balik jeruji, warga binaan mampu berkarya, berinovasi, dan menghasilkan produk yang bernilai,” ujar Tohari.

Ia menambahkan, pembinaan berbasis keterampilan seperti batik merupakan bagian dari upaya mempersiapkan warga binaan, agar memiliki bekal saat kembali ke masyarakat.

Melalui program ini, warga binaan tidak hanya belajar teknik membatik, tetapi juga memahami proses produksi hingga pemasaran, sehingga diharapkan mampu menjadi bekal untuk berwirausaha.

Kalapas Tohari berharap inovasi pembinaan seperti ini dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi warga binaan.

“Harapan kami, keterampilan yang diperoleh dapat menjadi jalan bagi warga binaan untuk mandiri setelah bebas, serta mengubah stigma masyarakat bahwa pemasyarakatan adalah tempat pembinaan yang produktif dan penuh harapan,” pungkasnya.

Ning S