JEPARA (SUARABARU.ID) – Peringatan Hari Kartini bukanlah sekedar perayaan mengenakan kebaya. Namun yang lebih utama adalah mengenang jasa-jasa dan gagasan R.A Kartini yang memperjuangkan kemerdekaan kaumnya untuk memperoleh pendidikan.
Seiring berjalannya waktu perjuangan R.A. Kartini benar benar telah dirasakan dan sudah banyak perempuan yang membuktikan serta merasakan hasil perjuangannya. Peran serta Kartini modern dalam dunia pendidikan jelas nyata lebih mendominasi. Hal tersebut merupakan wujud nyata keberhasilan perjuangan R.A. Kartini.
Selasa, 21 April 2026 merupakan peringatan Hari Kartini ke 147. Keluarga besar SD Negeri Kampus Mulyoharjo dengan penuh semangat mempersiapkan sejak awal agar peringatan berjalan hidmat. Yang bertugas sebagai petugas upacara ibu ibu guru SD Negeri Kampus Mulyoharjo. Guru berkewajiban memberikan contoh yang baik untuk anak didiknya, termasuk menjadi petugas upacara dengan meminimalisir kesalahan.

Yang bertugas sebagai pembina upacara Siti Mahmudah, S.Pd.SD kepala SDN Kampus Mulyoharjo, pemimpin upacara Shofiatun, S.Pd.I, pengibar bendera Fajar Intan Pradina, S.Pd., Mahrosatun Anisah, S.Pd., Isbahul Arofah, S.Pd., pembawa acara Lailatul Mustaqfiroh, S.Pd.SD, pembawa teks Pancasila Friska Ayu Dyah Lestari, S. Kom., pembaca pembukaan UUD 1945 Yuliana Wahyu Sejati, S.Pd., dirigen Ratna Cempaka, S.Pd., dan doa Rofiatun Nadzir, S.Pd.I. Sebagai komandan kompi Risqyana Kusuma, S.Pd.I., Siska Mutiarasari, S.Pd, dan Miftah Devi Amalia, S.Pd.

Peserta upacara SD Negeri Kampus Mulyoharjo terdiri dari 660 siswa dan guru serta tendik berjumlah 40 orang terlihat lebih disiplin dan tertib mengikuti jalannya upacara. Siswa laki laki memakai batik dan ada juga yang memakai adat Jawa.]
Sedangkan siswa perempuan memakai kebaya. Guru serta tenaga kependidikan laki laki mengenakan hujan gerimis / adat Jepara yang merupakan kekayaan budaya daerah berupa tenun Troso. Rasa bangga menyeruak melihat peserta upacara memakai hasil karya orang Jepara ( produk daerah ).

Kepala SDN Kampus Mulyoharjo, Siti Mahmudah, S.Pd.SD dalam amanatnya menguraikan sejarah singkat Raden Ayu Kartini yang lahir di Mayong Jepara dan meninggal dunia dimakamkan di Bulu Rembang. Ia mengajak anak anak serta guru untuk mengenal R.A. Kartini lebih dekat lagi dengan berziarah ke makamnya di Bulu Rembang.
Oleh ayahnya R.A. Kartini dijuluki Trinil karena semasa kecil Kartini aktif, lincah, cerdas, dan tidak bisa diam. “Pemikirannya sejak kecil lebih menginspirasi perempuan agar berpendidikan setara dengan laki laki. Perempuan tak hanya di sumur, dapur, dan kasur, ujarnya
Perempuan Indonesia harus lebih maju. Kartini belajar di Europeesche Lagere School ELS hingga usia 12 tahun sehingga bisa berbahasa Belanda. Kartini tak pernah berhenti belajar meski berada dalam pingitan.
Tulisannya yang berupa tuangan ide dan pemikirannya dikirim kepada sahabat-sahabatnya yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht / Habis Gelap Terbitlah Terang.
Inspirasi R.A. Kartini sebagai santri KH. Sholeh Darat juga telah menjadi sumber inspurasi pendidikan Islam modern di Indonesia
Hadepe – Siti Mahmudah













