JEPARA (SUARABARU.ID) — Langkah R.A. Kartini dengan membina para perajin ukir Belakang Gunung, mempromosikan dan memasarkan hasil karyanya pada masa itu, sesungguhnya adalah cikal bakal dari industri kreatif yang hari ini kita kenal. Kartini telah mengajarkan bahwa kreativitas, keterampilan, dan keberanian untuk berkarya adalah kunci untuk maju.
Hal tersebut disampaikan Bupati Jepara Witiarso Utomo dalam sambutan tertulisnya yang disampaikan oleh Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan dan SDM, Sridana Paminta saat membuka Festival Osis SMKN 2 Jepara yang diisi dengan Dialog Gagasan Kartini dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif di aula sekolah tersebut Senin 18 April 2026

Dialog tersebut menghadirkan dua orang narasumber, Ketua Yayasan Kartini Indonesia Hadi Priyanto dan Duta Bahasa Jawa Tengah Amaliyatul Hidayah Rofiq.
Dalam dialog yang diikuti oleh 700 siswa dari berbagai sekolah di Jepara ini Hadi Priyanto yang juga dikenal sebagai penulis telah membagikan buku karyanya berjudul Kartini Penyulut Api Nasionalisme kepada perwakilan siswa dari berbagai sekolah.
Menurut Witiarso Utomo, pada tahun 1898, Kartini telah mengikutsertakan karya-karya pengrajin Jepara dalam pameran internasional karya perempuan, di Den Haag, Belanda. “Dari sana, dunia mulai mengenal keindahan ukir dan kriya Jepara. Bahkan kemudian terjalin kerja sama dengan lembaga perdagangan Oost en West, yang membawa karya-karya tersebut menembus pasar Eropa,” ungkapnya.

Selanjutnya diungkapkan, Kartini juga turun langsung membina para perajin dan membantu meningkatkan kualitas karya, bahkan ikut mengembangkan desain. “Beliau menghubungkan para perajin dengan pasar yang lebih luas, sehingga kriya tidak lagi sekadar keterampilan, tetapi menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan dan martabat masyarakat,” terangnya. Di SMK ini, kalian belajar tidak hanya memahami, tetapi juga membuat. Tidak hanya mengetahui, tetapi juga menghasilkan. Baik di bidang kriya kayu, desain, produksi, maupun bidang keahlian lainnya. Kalian sedang menapaki jalan yang sama, yaitu jalan karya, jalan kreativitas, jalan kemandirian, pungkasnya.

Sementara Hadi Priyanto dalam pemaparan materi mengajak peserta untuk memahami bahwa Kartini tidak hanya dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan perempuan dari keterpurukan dan diskriminasi, tetapi juga sebagai simbol perjuangan dalam membuka akses pendidikan, mendorong kemandirian, dan membangkitkan keberanian perempuan untuk berkarya. “Kartini mampu menunjukkan kemampuannya dalam mengembangkan kerajinan Jepara seperti ukir dan batik,” ujar Hadi.
Sedangkan Amaliyatul Hidayah Rofiq mengajak siswa untuk belejar dengan sungguh-sungguh untuk meraih masa depannya.

Kepala SMKN 2 Jepara Indria Mustika, dalam sambutannya menegaskan bahwa semangat Kartini harus dimaknai lebih luas, bukan hanya sebatas peringatan seremonial. Menurutnya, Kartini adalah teladan bagi seluruh peserta didik untuk terus belajar, berani bermimpi, disiplin, dan mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Ia juga mengajak para siswa, khususnya siswi, untuk percaya diri dalam mengembangkan potensi dan tidak ragu menunjukkan kemampuan terbaik.
“Peringatan Hari Kartini ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi momentum bagi kita semua untuk menumbuhkan semangat belajar, disiplin, dan keberanian untuk berkarya serta teguh dalam meraih cita-cita,” tuturnya.
Hadepe – Eky Putri Febriyani













