blank
Poster acara Pameran “Besi Berharga” Tosan Aji dan Diskusi Pelestarian Pusaka yang akan Digelar di Museum Kartini Jepara. Foto: Dok. TA.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Di tengah denyut budaya pesisir Jepara yang selama ini lebih dikenal lewat ukiran kayunya, sebuah jejak lain perlahan kembali disibak, jejak besi yang menyimpan cerita, doa, dan identitas Jepara.

Besok pada 24–25 April 2026 dengan masih dalam pekan HUT-477 Kabupaten Jepara, Paguyuban Pelestari Tosan Aji Jepara (PPTAJ) akan membuka ruang itu melalui sebuah pameran dan diskusi bertajuk “Antara Seni, Sejarah, dan Energi Spiritual dalam Tradisi Jepara” di Museum Kartini Jepara.

blank
Pameran Pusaka Tosan Aji yang sebelumnya di gelar di Pendopo Kabupaten Jepara. Foto: Dok. TA.

Sejak pukul 09.00 hingga 21.00 WIB, Aula Museum R.A Kartini akan menjadi pertemuan lintas waktu antara masa lalu para empu, masa kini para pelestari, dan masa depan generasi yang akan mengenal kembali warisan leluhur terdahulu.

Acara ini terbuka untuk umum, menghadirkan Sarasehan, Pameran Keris dan Pusaka, Peluncuran Katalog Digital, hingga Bursa Tosan Aji dengan lelang mulai dari Rp350 ribu per-pusaka.

blank
Ricardo gerrit zaal (tengah) saat Acara Keris Nasional dan Pelantikan Ketua PPTAJ 2024 di Pendopo Kabupaten Jepara. Sebelah kiri Kyai Fatullah (sesepuh perkerisan jepara) dan Sekda pengganti PJ saat itu. Foto: Dok. TA.

Bagi sebagian orang, keris mungkin hanya benda tua. Namun bagi komunitas seperti PPTAJ, “Tosan Aji” yang berasal dari kata Tosan yaitu besi dan Aji yaitu berharga. Menurut Ketua PPTAJ Ricardo Gerrit Zaal, ini adalah simbol kebudayaan yang utuh yaitu perpaduan teknologi tradisional, estetika, filosofi, dan spiritualitas. Sehingga tak heran jika keris telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia yang sarat makna.

Kegiatan ini bukan sekadar pameran benda saja, melainkan upaya menghidupkan kembali narasi Jepara sebagai salah satu simpul penting perkerisan Nusantara. “Kami ingin menunjukkan bahwa Jepara bukan hanya penikmat, tetapi juga pernah menjadi pusat penciptaan pusaka,” ujar Ricardo saat diwawancarai.

Dalam penelusuran komunitas, ditemukan bukti keberadaan dua empu di kawasan Tegal Sambi, yakni Empu Suro dan Empu Supo. Makam keduanya masih dapat dijumpai di wilayah tersebut. Sehingga menjadi penanda bahwa tradisi tempa besi pernah berdenyut Kawasan Jepara.

blank
Buku Isacc Groneman, Berisi penelitian setelah perjalanan dari Pulau Jawa tentang setiap empu yang ditemui, guna mencari nikel pengganti meteorit untuk pamor keris. Foto: Dok. TA.

Mereka diperkirakan hidup pada sekitar tahun 1840-an, sezaman dengan masa kepemimpinan ayah R.A. Kartini, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat sebagai Bupati Jepara. Penelusuran ini juga diperkuat oleh catatan kolonial. Nama Isaac Groneman, seorang penulis dan peneliti Belanda abad ke-19, disebut dalam literatur yang mengarah pada aktivitas pembuatan keris di Jepara pada masa itu.

Sementara itu, data persebaran keris yang tersimpan di Museum Keris Nusantara turut memperlihatkan bahwa Jepara memiliki posisi dalam peta besar tradisi perkerisan Jawa.

Tak hanya di Tegal Sambi, jejak empu juga ditemukan di wilayah Welahan. Sosok Empu Bisu Welahan dikenal dengan karya tombaknya yang unik yang berbentuk menyerupai welahan atau dayung kapal. Pusaka-pusaka tersebut, yang diyakini berasal dari era akhir Majapahit hingga Demak-Pajang, akan turut dipamerkan dalam kegiatan ini.

Sehingga saat ini di balik benda-benda itu, masih ada tangan-tangan yang terus merawat tradisi. Dalam paguyuban ini, peran tidak hanya diisi oleh Kolektor saja, namun juga Edukator, Penjamas atau Perawat Pusaka, hingga “Mranggi” yaitu Pengrajin Warangka atau sarung keris. Mereka bekerja dalam sunyi, memastikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Tosan Aji atau Besi yang Berharga ini tidak hilang ditelan zaman.

Diskusi yang menjadi bagian penting acara akan menghadirkan dua narasumber nasional Dr. R. Wisnu Kusumawardana, seorang Asesor dan Kurator Keris, serta KH. M. Jadul Maula dari Lesbumi PBNU.

blank
Cover Katalog Pameran Tosan Aji yang bisa didapat saat pameran atau bisa menghubungi no admin an Misbahul Munir 0852-2511-1007 untuk melihat isi katalog dengan harga pusaka. Foto: Dok. TA.

Keduanya akan membedah keris bukan hanya sebagai artefak, tetapi sebagai teks budaya yang menyimpan nilai spiritual dan sejarah panjang peradaban di tengah modernitas yang serba cepat.

Pameran ini seperti mengajak publik untuk berhenti sejenak untuk menyentuh masa lalu, membaca ulang identitas, dan memahami bahwa sepotong besi yang ditempa dengan laku dan doa bisa menjadi cermin peradaban.

Acara juga akan diisi dengan peluncuran Katalog Keris Jepara oleh PPTAJ.  Di harapankan dengan adanya katalog ini, bisa sedikit membuka lebih lebar untuk kesempatan penelitian dan riset para generasi yg akan datang.

Jepara, melalui Tosan Aji kembali berbicara. Bahwa pelestarian kadang tidak dengan suara keras, tetapi melalui kilau bilah yang menyimpan kisah berabad-abad lamanya. Yang tentunya akan dijaga hingga generasi selanjutnya.

Septiana W.