SEMARANG (SUARABARU.ID)– ”Budaya kita bukan sekadar kain yang kita pakai, atau tari yang kita tarikan. Budaya kita adalah tepo sliro, sebuah kesadaran mendalam bahwa ada perasaan orang lain yang harus kita jaga. Sebagai wanita, kita memikul amanah mulia sebagai penjaga nyala api budaya ini. Kita seringkali merasa harus menjadi sempurna untuk bisa memimpin, namun belajar dari semangat Kartini, inspirasi sejati justru lahir dari kesederhanaan tindakan.”
Hal itu seperti diungkapkan Ketua Pengurus Yayasan Alumni Undip, Prof Dr Ir Kesi Widjajanti SE MM, di ruang kerjanya, Senin (20/4/2026), menjelang refleksi Peringatan Hari Kartini Ke-147, yang jatuh pada Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, menginspirasi tidak harus melalui panggung besar. ”Ia dimulai dari hal kecil: bagaimana kita mencium tangan orang tua, bagaimana kita menghargai kakak, dan bagaimana kita memperlakukan sesama dengan martabat. Inilah “internalisasi” budaya yang sesungguhnya,” katanya.
BACA JUGA: Tim PKM Dosen Teknik Sipil USM Beri Pendampingan Pekerja Proyek Gudang Bulog Demak
Dia juga menyebutkan, setinggi apapun teknologi yang digenggam, harus tetap menyentuh sisi manusiawi orang. Jangan biarkan algoritma menggantikan empati.
”Jangan biarkan layar gadget memutus jalinan silaturahmi. Majulah bersama kemajuan zaman, namun jangan pernah melepaskan akar yang menguatkan perempuan. Mari kita menjadi generasi yang tangguh secara teknologi, namun tetap lembut secara pekerti. Karena pada akhirnya, bukan apa yang kita ciptakan yang akan diingat, melainkan bagaimana kita menghargai kemanusiaan,” ungkap Prof Kesi.
Ditambahkannya, dalam peringatan Hari Kartini, civitas akademika USM sedang merayakan semangat perubahan. Visi USM adalah, menjadi insan yang profesional dan beradab serta berke-Indonesiaan.
BACA JUGA: Pelatihan Peer Counselor UKM Pilus USM Angkat Isu Relasi Sehat di Kalangan Mahasiswa
”Inilah momentum yang tepat untuk bertanya, sudahkah kita menjadi Kartini-Kartini modern yang memiliki kedalaman pekerti?,” tuturnya.
Raden Ajeng Kartini, lanjutnya, merupakan teladan, bahwa kecerdasan harus bersanding dengan kelembutan hati. Kartini mengajarkan, menjadi inspirasi tidak harus menunggu sempurna.
”Bagi mahasiswa USM, inspirasi itu dimulai dari hal yang paling kecil: menghormati orang tua di rumah, menghargai kakak tingkat di kampus, dan menjaga unggah-ungguh serta tepo sliro di lingkungan masyarakat,” tandasnya.
BACA JUGA: Dosen USM Berikan Literasi Digital Berbasis Gender
Menurutnya, di era teknologi yang kian maju, tantangan kita tetap menjaga “ke-Indonesiaan”. Jangan sampai kecanggihan gawai membuat lupa cara menyapa, atau kehilangan etika di dunia maya maupun nyata. Dia ingin teknologi yang maju, namun tetap “menyentuh human”, tetap memanusiakan manusia.
Prof Kesi menyampaikan, para wanita adalah penjaga budaya leluhur. Di tangan wanitalah etika dan adat istiadat tetap terjaga, di tengah arus modernisasi. Di dunia kerja nanti, tunjukkan, lulusan USM bukan hanya cakap secara teknis, tapi juga unggul dalam attitude.
”Karena kecerdasan tanpa etika adalah kehilangan arah, namun kecerdasan dengan budi pekerti adalah kekuatan yang menginspirasi. Mari kita teruskan perjuangan Kartini dengan cara yang nyata, yakni berprestasi tanpa melupakan jatidiri, maju bersama teknologi tanpa meninggalkan tradisi,” tandasnya.
Riyan













