Oleh : H. Hisyam Zamroni
Pendahuluan
Nama Raden Ajeng Kartini selama ini lebih dikenal sebagai simbol emansipasi perempuan. Namun, pendekatan historiografi modern menunjukkan bahwa Kartini bukan sekadar tokoh sosial, melainkan seorang proto-jurnalis global yaitu seorang penulis opini, koresponden lintas negara, dan produsen wacana yang berpengaruh terhadap kebijakan kolonial Belanda.
Melalui surat-suratnya yang dimuat dan beresonansi di majalah Belanda seperti De Hollandsche Lelie, Kartini tidak hanya menyuarakan kondisi perempuan Jawa, tetapi juga mengintervensi diskursus publik Eropa. Tulisan-tulisan ini kemudian menjadi bagian dari arus pemikiran yang melatarbelakangi lahirnya Politik Etis (Ethische Politiek) di Hindia Belanda awal abad ke-20.
Kartini dan Dunia Pers: Dari Pembaca menjadi Penulis Transnasional
Kartini adalah pembaca aktif media Barat: koran, buku, dan majalah berbahasa Belanda. Ia mengakses media seperti De Locomotief dan majalah perempuan De Hollandsche Lelie, yang menjadi pintu masuknya ke dunia intelektual Eropa.
Tidak berhenti sebagai pembaca, Kartini mulai menulis dan berkorespondensi. Bahkan, melalui majalah tersebut ia memasang iklan untuk mencari sahabat pena di Eropa, yang kemudian mempertemukannya dengan feminis Belanda seperti Stella Zeehandelaar.
Di titik ini, Kartini bertransformasi menjadi apa yang dapat disebut sebagai “jurnalis tanpa redaksi”—menulis opini sosial-politik yang tersebar melalui jaringan surat dan media.
Tulisan Kartini di De Hollandsche Lelie sebagai Kritik Sosial Global
Melalui tulisan dan surat yang beredar di lingkungan pembaca De Hollandsche Lelie, Kartini mengangkat isu seperti; penindasan perempuan Jawa, feodalisme lokal, kolonialisme Belanda dan pentingnya pendidikan sebagai alat emansipasi
Ia menulis dengan gaya reflektif, kritis, dan universal—yang dapat dipahami pembaca Eropa. Contoh Kutipan (dari surat-surat yang juga beredar di Belanda) adalah;
“Aku ingin tulisan-tulisanku memberi kesan tak terlupakan.”
“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti?”
“Kami kaum perempuan Jawa… hidup dalam kungkungan adat.”
Kutipan-kutipan ini menunjukkan bahwa Kartini tidak sekadar menulis pengalaman pribadi, tetapi mengonstruksi narasi struktural tentang kesamaan, kesetaraan dan ketidakadilan.
Kartini sebagai Agen Wacana: Pengaruh terhadap Parlemen Belanda
Pada akhir abad ke-19, kritik terhadap kolonialisme mulai berkembang di Belanda, dipicu oleh karya Multatuli (Max Havelaar), laporan administrasi kolonial dan tulisan-tulisan dari Hindia Belanda, termasuk Kartini. Sedangkan Kartini memperkuat kritik tersebut dari sudut pandang “insider”—perempuan pribumi terdidik.
Gagasan-gagasannya tentang pendidikan dan kesejahteraan pribumi kemudian sejalan dengan perubahan paradigma kolonial menuju Politik Etis (1901), yang menekankan adanya edukasi, irigasi, transmigrasi, kesetaraan, ketidakadilan dan kesempatan mengenyam pendidikan.
Pemikirannya tentang pendidikan sebagai “alat transformasi bangsa” menunjukkan kesesuaian langsung dengan arah kebijakan ini.
Dengan demikian, meskipun Kartini bukan aktor formal politik, tulisannya berfungsi sebagai teks advokasi lintas benua yang ikut membentuk opini publik Belanda.
Surat-Surat yang “Dihilangkan” dan Rekonstruksi Historiografi
Kumpulan surat Kartini yang terkenal, Door Duisternis tot Licht (“Habis Gelap Terbitlah Terang”), diedit oleh J.H. Abendanon. Dalam proses editorial ini harus dipahami bahwa sebagian surat Kartini telah dipilih atau di edit, sebagian lainnya tidak dipublikasikan dan narasi Kartini “dilunakkan” agar sesuai dengan agenda kolonial
Dalam penelitian modern menunjukkan seperti halnya Joost Cote menuturkan bahwa:
1. Kartini memiliki kritik lebih tajam terhadap agama, feodalisme, dan kolonialisme daripada yang dipublikasikan
2. Ada surat yang menampilkan kegelisahan spiritual dan kritik sosial yang lebih radikal
Hal ini bisa dilihat dari contoh kutipan yang sering tidak ditonjolkan yaitu:
“Aku beragama Islam karena nenek moyangku… tetapi aku tidak mengerti.”
Kutipan ini menunjukkan keberanian intelektual Kartini yang melampaui narasi resmi, menggugat realitas dan revolusioner.
Kartini sebagai “Jurnalis Dunia” yang Tersembunyi
Jika didefinisikan secara modern, Kartini memenuhi unsur jurnalisme yaitu Observasi sosial secara langsung, penulisan berbasis fakta dan pengalaman, distribusi suratnya dipubkisakan melalui media (majalah, surat internasional) dan mampu mempengaruhi terhadap opini publik dan kebijakan pemerintah.
Namun, Kartini tidak diakui sebagai jurnalis karena Kartini bias Gender yaitu seorang perempuan yang hidup pada masa kolonial, dia statusnya pada masa itu adalah pribumi, mediasi editor oleh Belanda dan telah dikonstruksi historiografi nasional yang menyederhanakan perannya
Padahal, Kartini adalah bagian dari jaringan komunikasi global yang menghubungkan Jawa–Belanda–Eropa.
Realitas Kartini dengan jalan the third way harus diupayakan sehingga dalam memahami Kartini dapat baca dalam berbagai perspektif.
Kesimpulan
Dari data data diatas, Kartini bukan hanya tokoh emansipasi, tetapi juga seorang penulis opini global yang produktif, produsen wacana kolonial yang responsif dan agen perubahan politik yang revolusioner
Melalui tulisan tulisannya yang dimuat dan beredar di De Hollandsche Lelie serta surat-suratnya, Kartini:
1. Mampu Mengungkap realitas sosial Hindia Belanda dengan senyatanya dan sebenarnya
2. Mampu Mempengaruhi persepsi masyarakat Eropa
3. Mampu mempengaruhi opini peserta Parlemen Belanda terhadap lahirnya Politik Etis
Dengan demikian, Kartini layak disebut sebagai “jurnalis dunia yang tersembunyi”—figur yang bekerja melalui pena, bukan mimbar politik, tetapi menghasilkan dampak historis yang nyata.
Catatan Kaki (Footnote)
1. Kompas.com, “72 Kutipan Surat Kartini…”, 2025.
2. Kompas.id, “Melanjutkan Cita-cita Politik Kartini”, 2025.
3. Liputan6, “10 Kutipan Surat RA Kartini…”, 2015.
4. Bernas.id, “Mengapa R.A. Kartini Begitu Dikenang?”, 2016.
5. Pedoman Karya, “RA Kartini Rajin Membaca…”, 2017.
6. Nur Said, “Politik Etis Kepahlawanan RA Kartini”, jurnal Palastren.
H. Hisyam Zamroni adalah Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara













