blank
Dr Muh Khamdan saat menjadi narasumber dalam Latsar di lingkugan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Suasana ruang widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, Jumat (17/4/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar forum evaluasi, tetapi panggung apresiasi bagi lahirnya inovasi-inovasi segar dari para dosen muda peserta Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Di hadapan para peserta, widyaiswara Bapelkum Semarang, Dr. Muh Khamdan, menempatkan inovasi sebagai energi utama perubahan dalam dunia akademik.

Sebagai penguji seminar laporan aktualisasi hasil kolaborasi Kemendiktisaintek dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Khamdan tidak hanya menilai, tetapi juga memantik keberlanjutan gagasan. Ia secara tegas meminta para CPNS dosen dari Universitas Lampung, Institut Teknologi Sumatera, dan Universitas Borneo Tarakan untuk tidak berhenti pada tahap presentasi. Inovasi, menurutnya, harus dijaga, dikembangkan, dan dilindungi melalui mekanisme hak kekayaan intelektual.

“Jangan sampai ide-ide ini berhenti di ruang seminar. Ini adalah aset akademik yang harus dilindungi dan dikembangkan,” ujar Khamdan, menegaskan pentingnya pendaftaran hak cipta dan paten sebagai bentuk perlindungan sekaligus penguatan daya saing perguruan tinggi.

blank

Lebih jauh, ia menekankan bahwa inovasi tersebut merupakan bagian nyata dari implementasi nilai BerAKHLAK yang telah dijalankan selama lebih dari 45 hari masa aktualisasi. Dari proses itu, para peserta tidak hanya menunjukkan kemampuan konseptual, tetapi juga bukti konkret dampak positif di lingkungan kampus masing-masing.

Ragam inovasi yang dipresentasikan mencerminkan spektrum luas Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mulai dari pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran kedokteran, penguatan praktikum berbasis teknologi, hingga pengembangan sistem keselamatan laboratorium dan inovasi di bidang pertanian serta kelautan.

blank
Dr Muh Khamdan bersama peserta pelatihan

Salah satu yang mencuri perhatian datang dari Khorina Fatin Bilqis dari Universitas Lampung. Ia mengembangkan media interaktif visual reproduksi manusia, sebagai panduan pra-praktikum bagi mahasiswa pendidikan dokter. Inovasi ini tidak hanya mempermudah pemahaman, tetapi juga meningkatkan kesiapan mahasiswa sebelum memasuki laboratorium.

Sementara itu, Diana Purnama Sari dari Universitas Borneo Tarakan menghadirkan pendekatan kreatif melalui video-video tutorial praktikum parasit dan penyakit ikan. Gagasan ini dinilai mampu menjawab tantangan pembelajaran akuakultur yang selama ini masih terbatas pada metode konvensional.

Dari Institut Teknologi Sumatera, Fadli Hastito menunjukkan terobosan dalam penyusunan modul praktikum, instruksi kerja penggunaan alat, serta standar operasional prosedur keselamatan kerja di laboratorium Rekayasa Instrumentasi dan Automasi. Inovasi tersebut dinilai krusial dalam membangun budaya keselamatan sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis praktik.

Khamdan melihat seluruh inovasi ini sebagai embrio perubahan dalam ekosistem pendidikan tinggi Indonesia. Ia menilai bahwa penguatan aspek perlindungan hak intelektual akan menjadi kunci agar inovasi tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga memiliki daya saing global.

“Tri Dharma Perguruan Tinggi harus bergerak dari sekadar kewajiban normatif menjadi ruang inovasi yang produktif dan terlindungi secara hukum,” ujarnya. Menurut dia, keberanian dosen muda untuk berinovasi harus diiringi dengan kesadaran hukum agar hasil karya mereka memiliki nilai strategis.

Seminar laporan aktualisasi ini pun tidak sekadar menjadi penutup rangkaian Latsar, melainkan titik awal lahirnya ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Di tangan para dosen muda tersebut, Tri Dharma Perguruan Tinggi menemukan wajah barunya, lebih adaptif, kreatif, dan berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat luas.

Hadepe