BANJARNEGARA (SUARABARU.ID) – Setelah sebelumnya membahas potensi Indikasi Geografis (IG) Batik Gumelem, Kanwil Kemenkum Jawa Tengah kembali melanjutkan pendampingan dengan fokus pada Keramik Klampok.
Kegiatan ini diselenggarakan di Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Banjarnegara, Sabtu (11/4/2026).
Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendorong pelindungan Kekayaan Intelektual Komunal terhadap produk unggulan daerah yang memiliki nilai historis, budaya, dan ekonomi.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual, Agustinus Yosi Setiawan, yang didampingi oleh Analis Kekayaan Intelektual Ahli Madya Martha Sari Wardoyo serta tim.
Agustinus Yosi menegaskan pentingnya Indikasi Geografis sebagai instrumen pelindungan hukum sekaligus penguatan daya saing produk daerah.
“Indikasi Geografis menjadi kunci untuk menjaga keaslian, kualitas, dan reputasi produk. Ini bukan hanya soal perlindungan, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas, termasuk di tingkat internasional,” jelasnya.
Kepala Bapperida Kabupaten Banjarnegara, Yusuf Agung Prabowo menyampaikan, Keramik Klampok merupakan warisan lokal yang telah lama dikenal masyarakat dan memiliki potensi besar untuk didaftarkan sebagai Indikasi Geografis.
“Setelah Kopi Dieng dan pembahasan Batik Gumelem, hari ini kita fokus pada Keramik Klampok. Kita perlu merumuskan karakteristik khasnya agar dapat dilindungi secara optimal,” ujarnya.
Dalam pemaparan materi, dijelaskan bahwa Keramik Klampok memiliki ciri khas berupa motif ukiran dan relief yang tegas pada permukaan produk, dengan ornamen floral, geometrik, maupun abstrak yang dikerjakan secara manual oleh pengrajin. Selain itu, warna dasar yang cenderung alami atau rustic menjadi identitas visual yang kuat, meskipun sebagian produk telah menggunakan glasir untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Dari sisi historis, perkembangan keramik di Klampok telah dimulai sejak masa kolonial melalui interaksi dengan industri keramik milik Belanda. Perkembangan signifikan terjadi pasca kemerdekaan dengan berdirinya industri keramik lokal yang kemudian mendorong tumbuhnya sentra keramik rumahan di wilayah tersebut.
Keramik Klampok juga memiliki nilai budaya, sosial, dan ekonomi yang kuat. Selain menjadi identitas masyarakat lokal, proses produksinya melibatkan pola kerja berbasis keluarga dan komunitas, serta berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Ning S













