blank
Bupati Grobogan Setyo Hadi menunjukkan buah melon yang berhasil dipanen di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan. Foto: dok Tya Widya.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Panen melon organik kembali digelar di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan.

Kegiatan panen kali ini menandai semakin kuatnya posisi desa sebagai sentra buah berbasis pertanian organik di wilayah Grobogan.

Panen melon organik tersebut menjadi momentum penting bagi Desa Jono di Grobogan dalam mengembangkan sektor pertanian berkelanjutan.

BACA JUGA : BNN Kota Tegal Ungkap 35 Anak Terindikasi Penyalahgunaan Obat Terlarang

Selain meningkatkan hasil panen, program ini juga memperkuat identitas desa sebagai penghasil melon organik berkualitas.

Pemerintah desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Aji Saka menggelar panen kedua pada Kamis (9/4/2026), bersamaan dengan peluncuran greenhouse.

Greenhouse ini nantinya diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Desa Jono tersebut.

Bupati Grobogan Setyo Hadi turut hadir dan memetik langsung buah melon bersama jajaran pemerintah daerah.

Ia menilai hasil panen melon kali ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan panen sebelumnya.

Dalam kegiatan tersebut, sedikitnya 1.100 tanaman melon berhasil dipanen. Setiap tanaman rata-rata menghasilkan satu buah dengan bobot sekitar 1,7 kilogram.’

BACA JUGA : Ditinggal Bersihkan Sepatu di Sungai, Rumah Warga Geyer Ludes Terbakar Hingga Rugi Ratusan Juta Rupiah

Melon yang dibudidayakan merupakan jenis premium lavender dengan perpaduan warna kuning dan hijau yang menarik. Buah ini dipasarkan dengan harga Rp 30 ribu per kilogram.

Seluruh proses budidaya dilakukan secara organik tanpa menggunakan pestisida. Metode ini dinilai lebih aman untuk dikonsumsi sekaligus ramah terhadap lingkungan.

Kepala Desa Jono, Eka Winarna, menegaskan bahwa pengembangan pertanian organik menjadi fokus utama desa dalam beberapa tahun terakhir.

“Konsepnya kami dorong Desa Jono menjadi pusat buah, tidak hanya di Kecamatan Tawangharjo, tetapi juga di tingkat kabupaten. Selain melon, ke depan akan dikembangkan komoditas buah lainnya,” ujarnya.

Melalui BUMDes Aji Saka, pemerintah desa juga menyiapkan lahan seluas sekitar 1.500 meter persegi untuk pengembangan tanaman buah lain seperti kelengkeng dan alpukat.

Pengembangan tersebut dilakukan dengan mengandalkan metode greenhouse yang dikombinasikan dengan teknologi booster guna mempercepat proses pertumbuhan tanaman.

Teknologi tersebut memungkinkan tanaman berbunga dan berbuah lebih cepat, sehingga siklus panen menjadi lebih efisien dan terukur.

Selain itu, penggunaan greenhouse membantu menjaga stabilitas kualitas hasil panen, terutama dari faktor cuaca dan hama.

Eka Winarna juga mengapresiasi pembangunan infrastruktur jalan yang menghubungkan wilayah Selo dan Jono.

Menurutnya, akses jalan yang semakin baik memberikan dampak positif terhadap distribusi hasil pertanian.

“Dengan jalan yang bagus, biaya angkut pascapanen menjadi lebih ringan. Hal ini tentu sangat mendukung pengembangan pertanian di desa,” katanya.

Desa Jono sendiri terdiri atas enam dusun, yakni Dusun Jono Krajan, Plumbungan, Bolu, Sileman, Pucang, dan Jangkung.

Secara administratif, desa tersebut memiliki 10 RW dan 31 RT dengan struktur perangkat desa yang telah terisi lengkap.

Pengembangan Usaha

Bupati Grobogan Setyo Hadi mendorong agar pengembangan usaha BUMDes Aji Saka terus diperluas ke berbagai sektor.

“Saya yakin BUMDes ini dapat memberikan tambahan pendapatan bagi desa sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Ini penting untuk menekan angka pengangguran dan kemiskinan ekstrem,” tegasnya.

Ia menilai pemerintah desa memiliki peran strategis dalam mengidentifikasi masyarakat yang membutuhkan dukungan ekonomi.

Melalui penguatan usaha desa, diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara merata.

Direktur BUMDes Aji Saka, Eka Yulianingsih, menyampaikan bahwa proses budidaya melon organik berjalan tanpa kendala berarti.

“Panen kedua ini hasilnya lebih bagus. Buahnya seragam dan kualitasnya tetap terjaga karena semuanya dibudidayakan secara organik,” ungkapnya.

Kegiatan panen dan peluncuran greenhouse tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat daerah serta para kepala desa se-Kecamatan Tawangharjo.

BACA JUGA : Trafik Penumpang dan Pesawat di Bandara Ahmad Yani Melonjak di Triwulan Pertama

Partisipasi berbagai pihak menunjukkan dukungan kuat terhadap pengembangan sektor pertanian organik di wilayah tersebut.

Dengan capaian panen melon organik yang terus meningkat, Desa Jono di Grobogan semakin optimistis memperkuat posisinya sebagai sentra buah unggulan.

Ke depan, pengembangan melon organik di Grobogan diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi desa sekaligus memperluas peluang usaha berbasis pertanian modern.

TYA WIDYA