KUDUS (SUARABARU.ID) – Perekonomian Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sepanjang tahun 2025 tetap mencatat pertumbuhan positif meskipun melambat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, ekonomi daerah ini hanya tumbuh 0,98 persen, turun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai sekitar 2,8 persen.
Secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kudus atas dasar harga berlaku mencapai Rp132,317 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp75,783 triliun.
Kepala BPS Kabupaten Kudus, Eko Suharto, mengungkapkan bahwa perlambatan ini tidak lepas dari tekanan di sektor industri pengolahan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
“Industri pengolahan masih mendominasi dengan kontribusi sebesar 76,35 persen. Namun sektor ini mengalami kontraksi sebesar 1,16 persen pada 2025,” ujarnya.
Industri Tembakau Jadi Faktor Penekan
Kontraksi di sektor industri pengolahan terutama dipicu oleh melemahnya industri tembakau sepanjang tahun 2025. Kondisi ini berdampak signifikan mengingat Kudus dikenal sebagai daerah dengan basis industri rokok yang kuat.
Pelemahan tersebut secara langsung menahan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kudus, Djatmiko Muhardi, menilai ketergantungan tinggi terhadap industri pengolahan membuat ekonomi Kudus sangat rentan terhadap kebijakan pemerintah pusat, khususnya terkait cukai tembakau.
“Kenaikan cukai membuat pengusaha harus membayar di awal sebelum produk dijual, sehingga produksi ikut tertekan, terutama pada segmen sigaret kretek mesin (SKM),” jelasnya.
Sektor Lain Tumbuh Pesat, Jadi Penopang Ekonomi
Di tengah tekanan industri pengolahan, sejumlah sektor lain justru mencatat pertumbuhan signifikan dan menjadi penopang ekonomi Kudus.
Sektor transportasi dan pergudangan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 14,05 persen, didorong oleh meningkatnya mobilitas penumpang dan distribusi barang.
Selain itu, sektor konstruksi tumbuh 10,65 persen, seiring meningkatnya realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), khususnya untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga melonjak 12,58 persen. Pertumbuhan ini dipicu oleh penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri pada Oktober 2025 yang meningkatkan okupansi hotel serta menggerakkan sektor sport tourism.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta meningkatnya konsumsi masyarakat juga turut memberi dorongan terhadap aktivitas ekonomi lokal.
Struktur Ekonomi Masih Didominasi Industri
Dari sisi struktur ekonomi, industri pengolahan tetap menjadi sektor dominan dengan kontribusi mencapai 76,35 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, perekonomian Kudus didominasi oleh komponen net ekspor barang dan jasa sebesar 50,01 persen.
Selain itu, komponen Pengeluaran Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencatat kenaikan tertinggi sebesar 10,60 persen, mencerminkan meningkatnya investasi, khususnya di sektor konstruksi.
Daya Beli Masyarakat Tetap Terjaga
Meski pertumbuhan melambat, Djatmiko memastikan kondisi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat.
“Yang penting masyarakat tetap bekerja dan kebutuhan pokok terpenuhi. Selama itu terjaga, ekonomi tetap bergerak,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa perlambatan ekonomi Kudus lebih dipengaruhi faktor eksternal, terutama kebijakan pusat, sehingga tidak bisa disamakan dengan daerah lain yang memiliki struktur ekonomi lebih beragam.
Ali Bustomi













