SEMARANG (SUARABARU.ID) – Kawasan Pecinan Semarang akan kembali menjadi pusat perhatian publik pada pertengahan April mendatang. Kelenteng TITD Ling Hok Bio bersiap menggelar perayaan akbar Hari Ulang Tahun (HUT) ke-160 serta HUT Yang Mulia Kongco Hok Tek Tjing Sien.
Puncak acara yang dijadwalkan berlangsung pada 11–12 April 2026 ini tidak hanya menonjolkan aspek spiritual, tetapi juga akan menampilkan akulturasi budaya Jawa-Tionghoa yang kental melalui prosesi unik dan kirab kolosal.
Ketua Yayasan TITD Kelenteng Ling Hok Bio, Liem Lun Tjin (Liemawan Haryanto), menuturkan bahwa usia 160 tahun merupakan bukti ketangguhan nilai luhur yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Perayaan ini adalah wujud rasa syukur atas anugerah alam dan leluhur. Melalui momentum ini, kami ingin menunjukkan kepada publik bahwa keberagaman adalah kekuatan utama yang mempersatukan bangsa,” ujar Liemawan, Minggu 5 April 2026.
Salah satu daya tarik utama yang dinantikan tahun ini adalah integrasi kuat unsur budaya Jawa dalam ritual inti. Area Kelenteng akan dihiasi janur penjor sebagai simbol peringatan 160 tahun, menciptakan suasana sakral yang estetis.
Puncak rasa syukur akan ditandai dengan arak-arakan Gunungan Hasil Bumi dan Prosesi Sarana Puja sebuah tradisi yang melambangkan ucapan terima kasih atas kemakmuran alam semesta.
Prosesi pembawa sarana puja atau melasti direncanakan berlangsung khidmat dengan iringan gending Jawa dan pembacaan paritta. Para peserta prosesi, yang akan membawa dupa, pelita, air suci, buah-buahan, dan bunga, mengenakan pakaian adat Jawa lengkap.
Menurut keterangan Agung Kurniawan selaku Cia Lo Cu dari Kongco Hok Tik Tjing Sien, adanya prosesi ini diharapkan dapat semakin menegaskan harmoni panjang antara komunitas Tionghoa dan budaya lokal Jawa Tengah.
“Inilah yang kami sebut sebagai doa visual. Akulturasi ini bukan sekadar tontonan, melainkan pernyataan bahwa kami adalah bagian tak terpisahkan dari tanah Jawa,” kata Agung.
Semangat kebersamaan kian terasa dalam Kirab Budaya yang akan digelar pada Minggu, 12 April 2026, pukul 11.00–17.00 WIB. Panitia mengonfirmasi bahwa kirab tahun ini akan diikuti secara aktif oleh 50 Kelenteng dari berbagai kota di Jawa Tengah.
Sementara itu, puluhan Kelenteng lainnya turut hadir meramaikan sebagai tamu kehormatan. Dengan demikian, total kehadiran 110 perwakilan Kelenteng.
Thio Hwee Lay selaku ketua panitia acara kirab budaya tersebut, menekankan, acara kirab tersebut murni sebagai sarana silaturahmi
“Fokus kami adalah pada keaslian tradisi dan kedekatan antarumat. Kehadiran puluhan Kelenteng ini adalah simbol persaudaraan yang nyata,” ungkap Thio.
Agung menambahkan bahwa rute kirab yang mengelilingi kawasan Pecinan dirancang sebagai ruang terbuka bagi publik.
“Kami mengundang seluruh warga Semarang untuk turun ke jalan, menyaksikan langsung, dan merasakan kehangatan tradisi yang telah mengakar ratusan tahun di kota ini,” ajaknya.
Sebenarnya, rangkaian perayaan telah dimulai sejak pertengahan Maret. Pada Kamis, 19 Maret 2026, digelar ritual Liam Keng yang dipimpin Romo Oei Pek Kien, dilanjutkan dengan hiburan musik dan sembahyang tengah malam oleh Ws. Budi Suniarto.
Dalam momen tersebut, terdapat tradisi unik “peminjaman kue” (seperti kue kuro, gembreng, bolu kukus, dan punji). Umat yang mengambil kue tersebut berkomitmen untuk mengembalikan atau menggantinya pada perayaan tahun depan, sebuah simbol siklus memberi dan menerima yang berkelanjutan.
Memasuki bulan April, fokus kegiatan beralih pada aksi sosial nyata. Pada 2 April 2026, panitia akan menggelar bakti sosial donor darah.
Puncak acara spiritual dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 11 April 2026. Rangkaian acara dimulai dengan penerimaan Kiem Sien, ritual sore, hingga upacara kebesaran malam hari yang dipimpin Liong Hwa Hing.
Malam itu juga akan dimeriahkan pentas seni budaya hingga menjelang tengah malam, sebelum ditutup dengan sembahyang bersama.
Menutup rangkaian acara, Liemawan menyampaikan harapan besar agar estafet pelestarian budaya ini dapat terus berlanjut kepada generasi penerus.
“Kami berharap generasi muda ikut terlibat, mengenal, dan mencintai akar budayanya. Karena kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi?” tegasnya.
Melalui perpaduan ritual sakral, kemeriahan kirab, dan aksi sosial, Kelenteng Ling Hok Bio kembali menegaskan posisinya bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan sebagai rumah bersama yang merawat kemanusiaan dan kebinekaan di jantung Kota Semarang.
Hery Priyono











