JEPARA (SUARABARU.ID) – Kesenian tradisional Emprak kembali mencuri perhatian publik dalam peringatan Hari Teater Dunia (HATEDU) 2026 yang digelar Dewan Kesenian Daerah Jepara selama tiga hari, 3–5 April 2026.
Pada peringatan Hari Teater Sedunia (Hatedu) ini, kesenian Emprak kembali dipentaskan di hari kedua pada 4 April 2026. Selama 2,5 jam, seniman-seniman Emprak menghibur penonton yang sebagaian besar generasi Z dengan lakon “Tresna Wurung”.
Kesenian Emprak yang dipandu oleh Lek Amin dan Kang Sugi dari komunitas TongPrak ini menghadirkan rangkaian pertunjukan yang apik. Dengan inti cerita perkawinan yang gagal yang digelar amat jenaka dan menjadi salah satu sorotan perhatian.

Kesenian asli Jepara ini sebelumnya sempat mengalami masa mati suri akibat minimnya peminat. Namun melalui inisiatif Dewan Kesenian Daerah Jepara, Emprak kembali diangkat dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Panitia kegiatan Jepara Hatedu 2026, Rhobi Shani, menyampaikan sengaja menghadirkan Seni Emprak pada gelaran Hatedu untuk mengenalan seni pertunjukan tradisional khas Jepara pada generasi muda. Tidak hanya remaja di Jepara, tapi juga dari luar daerah.
Menurutnya, seni pertunjukan tradisional khas Jepara, Emprak, diambang kepunahan. Saat ini jumlah kelompok seni Emprak di Bumi Kartini tinggal hitungan jari. Salah satu yang masih bergeliat adalah kelompok Emprak Sido Mukti dari Desa Kepuk Kecamatan Bangsri.

Peserta Jepara Hatedu 2026 kali ini juga datang dari Kudus, Semarang, dan Solo. “Tidak hanya sebagai upaya pelestarian dengan memberikan ruang pentas, tapi juga mengenalkan Emprak pada Gen Z,” ujar Rhobi Shani, yang ditemui pada Minggu, 5 April 2026.
Peserta Jepara Hatedu 2026 juga berkesempatan menggali pengetahuan tentang seni Emprak langsung dengan senimannya. Usai pentas pada Sabtu malam, 4 April 2026, dilanjutkan sesi dialog seniman Emprak dengan penonton.
Salah satu peserta Jepara Hatedu, Kurniawan, mengaku baru kali pertama menyaksikan pertunjukan seni Emprak. Menurutnya sangat disayangkan apa bila kesenian asli Jepara itu punah. Sehingga perlu dilakukan upaya pelestarian dengan mengikuti kondisi jaman.
“Baru kali ini saya nonton Emprak, padahal ini asli Jepara tapi sudah jarang dijumpai,” kata Kurniawan.
Pimpinan Emprak Sdo Mukti, Sunawi, mengatakan kesenian Emprak sangat bisa mengikuti zaman. Pasalnya, penampilan Emprak saat ini sudah berubah dari masa lampau.
Bila dulu pentas Emprak hanya menggunakan alat musik kendang dan terbanng sebagai musik pengiring, saat ini ditambah dengan saron. Bahkan pada acara tertentu juga menggunakaan alat musik organ tunggal.
“Terus ini, topi bayi, dulu itu yang pakai potongan kaus bagian lengan, kemudian diikat bagian atasnya. Karena dilihat-lihat sepertinya sudah tidak zamannya, kemudian diganti dengan topi bayi,” ungkap Sunawi dalam bahasa Jawa saat sesi dialog dengan peserta Hatedu di Aula objek wisata Pantai Bandengan.
Kesenian Emprak yang Mendapat Perhatian Berbagai Pihak
Sebelum pementasan dimulai, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, Muhammad Adjib Gufron, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya pelestarian seni tradisional sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Perwakilan Dinas Kebudayaan atau Museum Jepara Lia Supardianik, serta berbagai komunitas teater dari luar daerah seperti Kudus, Pati, dan Semarang. Kehadiran mereka menjadi wujud dukungan terhadap upaya pelestarian seni tradisional.
“Melalui kegiatan ini, Dewan Kesenian Daerah Jepara berharap kesenian Emprak dapat kembali hidup dan berkembang, serta diminati oleh generasi muda sebagai warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan,” ujar Ketua Dewan Kesenian Daerah Kab. Jepara Kustam Ekajalu.
Seperti yang telah diketahui, Jepara Hatedu 2026 digelar selama tiga hari sejak Jumat, 3 April 2026. Selain menampilkan Emprak, juga diisi dengan pentas teater dan workshop keaktoran, penyutradaraan, dan tata artistik. Tak hanya itu, juga ada diskusi penulisan naskah teater dan dipungkasi dengan peluncuruan buku kumpulan naskah teater KOL.
Septiana W. – Ratuandayani











