blank
Ibadah malam Sabtu Sunyi di GKJ Semarang Barat Pepanthan Mugassari, dalam suasana temaram diterangi kerlip lilin. Foto: R. Widiyartono

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Sabtu malam mini, 4 April 2026, umat Kristen menghayati masa setelah kematian Kristus, pada Jumat Agung kemarin. Malam ini dihayati sebagai Sabtu Sunyi, dan gereja-gereja menyelenggarakan renungan dalam kesunyian.

Seperti halnya yang dilaksanakan GKJ (Gereja Kristen Jawa) Semarang Barat baik di gereja induk maupun Pepanthan Mugassari. Sabtu malam ini cuaca cukup bersahabat, sehingga jemaat terasa lebih nyaman dan khidmat dalam menghayati Sabtu Sunyi ini.

Majelis Wilayah 3 dan 4 GKJ Semarang Barat, menata ruangan dengan karpet dan tikar di bagian depan, untuk jemaat dan pelayan yang bertugas, duduk lesehan. Sedangkan kursi di belakang untuk jemaat yang punya keterbatasan untuk lesehan duduk bersila. Selama ibadah berlangsung, hanya kerlip lilin yang menerangi ruangan.

Diawali dengan nyanyian lembut yang diulang-ulang, kemudian narasi dari petugas yang melukiskan kesunyian malam, saat Yesus sudah meninggal dan datang Yusuf Arimatea dan Nikodemus yang merawat jenazah dan menguburkannya.

Kembali lagu lembut dilantunkan, dan selanjutnya Pendeta Sediyoko menyampaikan renungan dalam narasi yang sunyi teduh. Renungan didasari Injil Yohanes 19 ayat 38 sampai 42, yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia diberi judul “Yesus Dikuburkan”.

Kasih Tak Butuh Panggung

Pendeta Sediyoko mengawali renungan malam Sabtu Sunyi dengan kalimat: “Kasih tak butuh panggung. Untuk menyatakan kasih tak diperlukan sorak-sorai dan tepuk tangan”.

Disampaikannya, setelah kematian Yesus Kristus, Tuhan Allah seakan diam diam dalam hidup kita. “Ternyata tidak. Iman tetap bergerak seperti yang terjadi pada Yusuf Arimatea dan Nikodemus.

Keduanya digerakkan untuk menjadi saksi, bahwa mengasihi di tengah kegelapan adalah bagian dari karya keselamatan Allah,” kata Pdt. Sediyoko.

Jemaat diajak mengenangkan hari itu, ketika Yesus mati. Udara Yerusalem masih berbau darah, sementara teriakan untuk menyalibkan Yesus masih terngiang-ngiang.