
“Dengan kematian Yesus seakan semuanya sudah selesai. Seakan tidak ada gunanya lagi usaha, dan yang terjadi tunduk dalam kekalahan dan. Semangat untuk melanjutkan hidup seakan turut hilang. Para murid yang mendampingi dan menemani Yesus, bersembunyi karena takut,” tutur Pedenta Sediyoko.
Murid-murid berada dalam pergumulan, penuh ketakutan dan kecemasan. Mereka cemas bila diketahui sebagai pengikut Yesus, sehingga memilih diam dan bersembunyi.
“Tetapi Yusuf Arimatea dan Nikodemus tampil, melangkah maju, meminta pada Pontius Pilatus agar diizinkan menguburkan jenazah Yesus. Meskipun kita semua tahu, keduanya bukan orang yang berada dalam lingkaran nyata Yesus, mereka bukan murid Yesus seperti 12 orang lainnya,” ujarnya.
Yusuf Arimatea dan Nikodemus adalah murid yang diam-diam. Nikodemus pernah datang pada Yesus tengah malam, kata Pdt Sediyoko, mengajak berdiskusi. “Dia datang sendiri malam-malam, karena tidak ingin dilihat orang,” ujarnya.
Namun, pada saat Yesus mati, dan semua orang meninggalkannya Nikodemus datang. “Dalam budaya Yahudi (kala itu), menyentuh orang mati adalah suatu tindakan Najis, terlebih pada hari Paskah.
Mereka akan kehilangan momen merayakan Paskah, kehilangan kesucian dan status sosial. Tetapi Nikodemus dan Yusuf Arimatea tidak takut. Mereka merawat mayat Yesus mengafaninya menaburinya rempah dan memakamkannya,” tutur Pdt. Sediyoko.
Memohon kepada Pontius Pilatus dan menguburkan mayat Yesus, bukan sekadar urusan administratif. “Mereka sedang memurnikan kasih. Mereka sedang menyampaikan pernyataan pada publik bahwa keduanya mengasihi Yesus yang oleh orang Yahudi dianggap sebagai penjahat negara,” ujarnya.
Mereka menyiapkan minyak mur dan gaharu yang harum sebanyak 30 kilogram untuk merawat jenazah Yesus. Keduanya hadir pada saat paling sunyi, tak ada mukjizat, tak ada jaminan bahwa keduanya berkarya untuk dihargai.
“Yang mereka pahami adalah Yesus sudah mati dan mereka ingin menunjukkan kasihnya dengan merawat dan menguburkan Yesus sebagaimana layaknya. Inilah iman murni yang tak berharap tepuk tangan, memilih bertindak sementara yang lain bersembunyi,” ujarnya.
Pendeta Sediyoko menandaskan, mengasihi Yesus tak harus diwujudkan dengan berkhotbah di mimbar. Tetapi bisa dalam kesunyian. Tindakan Yusuf Arimatea dan Nikodemus di mata Tuhan adalah teladan yang indah. Tetap setia meski tanpa tepuk tangan.
R. Widiyartono













