blank
Suasana keramaian Pasar Tradisional Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, saat diabadikan pada Hari Jumat Legi (20/3/26), tepat di hari keramaian pasaran setempat. Para bakul, kini bersiap-siap libur untuk Bakdan dan menjalani tradisi Pasar Mati pasca Idul Fitri.(SB/Bambang Pur)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Bakdan, adalah kegiatan perayaan tradisional yang tumbuh membudaya bagi kalangan masyarakat Jawa. Yakni kegiatan tradisi yang dilakukan setelah datang hari besar keagamaan. Utamanya, bagi masyarakat yang menempatkan keraton sebagai sumber budaya. Sesuai kalender Jawa, ada tiga hari besar yang lazim diikuti dengan perayaan adat sebagai event Bakdan.

Ketiganya, terdiri atas Bakda Syawal di Bulan Syawal berkaitan dengan perayaan Lebaran Idul Fitri. Bakda Besar pada Bulan Besar atau Bulan Dulkaidah terkait dengan Hari Besar Idul Kurban (Idul Adha). Kemudian Bakda Mulud, berkaitan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Acara yang menyertai perayaan ketiga hari besar itu, disebut Bakdan. Dari tiga jenis Bakdan tersebut, masyarakat Islam Jawa, paling meriah dalam menggelar acara Bakdan Syawal Lebaran Idul Fitri. Tradisi ini, populer disebut sebagai Bakdan Riyayan.

Budayawan Jawa peraih Anugerah Bintang Budaya, Drs Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, penjelasan Bakdan dimuat dalam Buku Adat Tata Cara Jawa Karya Drs R Harmanto Bratasiswara (Yayasan Suryasumirat, Jakarta 2000).
Pranoto, yang juga Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta ini, menyatakan, Buku Ensiklopedi Kejawen tersebut, menuliskan penjelasan Bakdan pada halaman 72-74.

Secara garis besar, kegiatan Bakdan ditandai degan dua hal. Pertama, digelar dalam warna suka ria. Kedua, dilaksanakan dalam suasana baru yang fresh. Satu sisi, itu untuk tujuan menghadirkan rasa syukur setelah selama satu bulan menjalani ibadah shiyam (puasa) di Bulan Ramadhan. Sisi lain, menghadirkan suasana baru dalam merayakan Lebaran Idul Fitri sebagai bentuk kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu selama sebulan di Bulan Ramadhan.

Menu Khas

Untuk membangun suasana ria, acara Bakdan Riyayan disertai makan-makan yang menyajikan menu khas lebaran, seperti kupat atau lontong. Disajikan dengan lauk sambal goreng dan opor ayam serta kerupuk. Juga membagikan bingkisan atau mengirimkan parcel lebaran, sebagai wujud membagikan tali asih dan tanda syukur.

Dalam pemahaman spiritual, Bakdan dipandang sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan habluminallah secara vertikal dengan Tuhan Penguasa Alam. Juga untuk memperbarui hubungan dengan para leluhur, melalui pemanjatan doa, agar Tuhan berkenan mengampuni segala doa dan kesalahannya, serta memberikan anugerah dapat bali mulih marang asal nira (kembali ke asalnya) atau Innalillahi wa ina ilaihi rojiun. Ini diwujudkan melalui ritual selamatan kenduri dan nyekar ke makam leluhur. Sekaligus dapat pula melakukan perawatan atau pemugaran makam leluhur, yang disebut sebagai tradisi mbangun candi.

Dalam kajian sosial kemasyarakatan, Bakdan Riyayan, dijadikan sebagai media untuk menyegarkan hubungan secara horisontal antar sesama kerabat, melalui hablumminannas melalui acara temu silaturahmi trah (keluarga). Ini disebut sebagai tradisi sungkem pangabekti, ditandai permintaan maaf dari yang muda ke seniornya. Dirangkai dengan saling memaafkan melalui acara halalbihalal.

Untuk mewujudkan kegiatan yang mentradisi secara turun termurun itu, seseorang harus meluangkan waktu. Terkait ini, pemerintah berkenan memberikan cuti liburan. Demikian halnya dengan perusahaan dan pabrik, meliburkan para buruh dan karyawannya. Para pedagang toko dan bakul di pasar, mengambil istirahat untuk sejenak tidak berkegiatan niaga atau bisnis.

Ketika para bakul mengambil istirahat libur tidak berjualan, maka terwujudlah suasana pasar menjadi sepi dari kegiatan transaksi jual beli. Kondisi sepi pasca Hari H Lebaran Idul Fitri ini, disebut sebagai tradisi Pasar Mati. Situasi Pasar Mati ini, biasa berlangsung dalam tempo satu sampai dua hari. Setelah itu, para bakul kembali melakukan kegiatan berdagang sebagaimana hari-hari biasa.(Bambang Pur)