
Oleh : Ky Hisyam Zamroni
Perayaan yang Memanusiakan Manusia
Iedul Fitri sering kali dipandang hanya sebagai ritual keagamaan setelah sebulan penuh berpuasa. Namun, jika kita melihat lebih dalam, Iedul Fitri adalah sebuah revolusi sosial. Perayaan ini bukan sekadar tentang baju baru, melainkan tentang penghapusan sekat antara si kaya dan si miskin melalui satu instrumen utama yaitu Logistik Kemanusiaan.
Ada harmoni yang menarik ketika kita menyandingkan semangat Iedul Fitri dengan misi Hari Anti Kelaparan Sedunia. Keduanya memiliki satu musuh bersama: kelaparan dan ketertinggalan.
Salah satu aturan paling unik di hari raya Iedul Fitri adalah keharaman berpuasa. Setelah 30 hari diperintahkan menahan lapar, pada hari ini Tuhan justru melarang hamba-Nya untuk lapar. Hal ini menunjukkan adanya; Pertama, Simbolisme Kesejahteraan yaitu Larangan puasa adalah pernyataan tegas bahwa tidak boleh ada perut yang keroncongan di hari kemenangan. Kedua, Hak Dasar Manusia. Secara filosofis, ini selaras dengan kampanye anti-kelaparan global yang menyatakan bahwa akses terhadap makanan adalah hak asasi manusia yang mendasar.
Zakat, Infaq, dan Sedekah: Instrumen Distribusi Kekayaan
Zakat fitrah yang berupa makanan pokok seperti beras, gandum dan kurma adalah bentuk nyata dari food security atau ketahanan pangan tingkat mikro yang mempunyai target spesifik dengan memastikan pada malam dan hari raya tidak ada satu pun rumah tetangga yang dapurnya tidak mengepul. Disamping itu, ada Keadilan Distributif, di mana ada kekayaan yang berlebih dari kelompok orang yang mampu dipindahkan secara paksa, — oleh syariat Islam, — kepada kelompok orang yang kurang mampu dalam waktu yang serempak.
Islam tidak membiarkan perayaan ini hanya menjadi slogan. Untuk memastikan larangan puasa itu bisa dijalankan oleh semua orang, Islam mewajibkan Zakat Fitrah yang harus didistribusikan kepada yang berhak, seperti; Fakir dan Miskin: Menjadi prioritas utama agar mereka memiliki bahan pangan yang cukup untuk merayakan hari raya. Anak Yatim dan Gharim (Orang berhutang): Zakat dan Sedekah berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang membebaskan mereka dari beban finansial, setidaknya di hari yang suci ini.
Jika Zakat Fitrah menyelesaikan lapar pada satu hari di hari Iedul Fitri, maka Zakat Mal, Infaq dan Shadaqah (ZIS) adalah instrumen dan senjata untuk melawan akar kemiskinan dan kelaparan secara permanen.
Banyak orang kelaparan dan tertimpa kemiskinan bukan karena malas, tapi karena terjerat hutang. Olehnya Iedul Fitri adalah momentum pembebasan finansial melalui ZIS untuk mereka yang terlilit beban ekonomi. Pun demikian pemberdayaan kepada anak anak yatim. Dengan menjamin kebutuhan anak yatim, sejatinya kita telah memutus rantai kemiskinan antar-generasi. Mereka mendapatkan akses nutrisi yang layak untuk tumbuh berkembang, sehingga di masa depan mereka dapat keluar dari garis kemiskinan.
Dari sana akan tercipta ekosistem kedermawanan, di mana Zakat Fitrah menjadi bahan bakar tambahan yang memastikan kebahagian meluap melampaui sekedar kebutuhan pokok.
Iedul Fitri sebagai Hari Kesetaraan Bahagia
Pesan utama yang ingin disampaikan adalah kesetaraan. Di hadapan Tuhan, kebahagiaan si kaya tidak boleh lebih tinggi daripada kebahagiaan si miskin.
Aspek Kesetaraan sebagai Manifestasi dalam Iedul Fitri menjadikan Semua orang dilarang lapar dan diwajibkan makan. Kesetaraan Status Sosial terwujud melalui Zakat yaitu kekayaan mengalir dari atas ke bawah untuk menyeimbangkan posisi sosial yang sama, sehingga menciptakan dampak Psikologis yaitu Perasaan “menang” dan “fitrah” (suci) dimiliki oleh setiap individu tanpa memandang kasta.
Relevansi Iedul Fitri dengan Hari Anti Kelaparan Sedunia
Dunia saat ini masih berjuang melawan krisis pangan. Iedul Fitri memberikan model praktis bagaimana masalah kelaparan bisa diatasi jika; Pertama, Ada Kesadaran Kolektif: Bahwa kenyang sendirian adalah sebuah aib moral. Kedua, ada Sistem yang Memaksa: Zakat bukan sekadar pilihan, tapi kewajiban (systemic empathy). Ketiga, Keberlanjutan yaitu Semangat berbagi di Iedul Fitri seharusnya menjadi bahan bakar untuk terus berberjalan secara simultan pada bulan bulan berikutnya.
Jika seluruh ummat manusia menerapkan prinsip Iedul Fitri, di mana yang berlebih wajib memberi yang kurang hingga tidak ada yang lapar, maka angka kelaparan dunia yang mencapai ratusan juta orang bisa ditekan secara dratis. Iedul Fitri bukan hanya sekedar hari raya, melainkan simulasi pengentasan kemiskinan dan kelaparan dunia yang ideal.
Penutup: Dari Ritual Menuju Transformasi Global
Iedul Fitri mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa dicapai ketika kita berhenti memikirkan diri sendiri. Dengan zakat, infaq, dan sedekah, kita sedang membangun jembatan untuk menghapus jurang kemiskinan. Jika semangat ini diterapkan secara global, setiap hari bisa menjadi “hari anti kelaparan”. Iedul fitri juga akan menjadi moment sebagai Hari Ketahanan Pangan Se-Dunia.
Hisyam Zamroni; Wakil Ketua NU-PB PCNU Kab. Jepara













