blank
Irwan Hidayat menggagas gerakan jadi investoor saham, karena cuma 21 juta orang Indonesia yang jadi investor. Foto: R. Widiyartono

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Di Indonesia cuma ada 21 juta orang yang berinvestasi di saham, angka yang masih sangat kecil dibandingkan dengan penduduk yang jumlahnya lebih dari 270 juta atau hanya 7,5 persen.

Melihat kondisi seperti ini, Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Irwan Hidayat punya gagasan untuk mengampanyekan agar masyarakat berinvestasi di saham.  “Jumlah pemain saham di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan potensi ekonomi nasional, padahal keuntungan bermain saham bisa jauh lebih besar dibandingkan menyimpan uang di bank atau bahkan ada yang hanya menyimpan di lemari atau di bawah bantal,” ujar Irwan, usai menyerahkan santunan untuk dhuafa di agrowisata pabrik, Bergas Kabupaten Semarang, Kamis 12 Maret 2026.

Bila dibandingkan dengan Amerika Serikat, kata Irwan, investor saham mencapai 62 persen dari seluruh jumlah penduduk. Dengan banyaknya investor saham ini, pasar modal Amerika Serikat kuat dan stabil.

Irwan menegaskan, peningkatan jumlah investor saham domestik sangat penting bagi kekuatan ekonomi nasional. Jika semakin banyak masyarakat berinvestasi di pasar saham, Indonesia tidak akan terlalu bergantung pada investor asing.

“Kalau investor dalam negeri kuat, kita tidak terlalu tergantung pada investor asing yang punya dana besar,” ujarnya.

Irwan pun mengajak masyarakat mulai belajar investasi saham dengan memilih perusahaan yang memiliki reputasi baik dan konsisten menghasilkan keuntungan.

“Berinvestasi di saham itu dapatnya lebih banyak dibandingkan menabung di bank atau deposito. Bunga bank rata-rata hanya sekitar 2 persen, sedangkan di saham itu bisa 40 persen. Minimal 15 sampai 20 persen bisa didapat,” kata Irwan.

Hanya saja, Irwan Hidayat mengingatkan, harus bisa memilih perusahaan yang punya kredibilitas baik, jujur, dan sehat.  “Yang penting diingat, berinvestasi di saham jangan bermain saham. Kalau bermain saham itu beli saat murah lalu dijual saat harga naik, ini bukan investasi. Jangan main saham, tetapi investasi di saham,” tandas Irwan.

Keuntungan investasi saham itu, yang pertama investor akan mendapatkan capital gain, yaitu selisih harga beli dan jual yang lebih tinggi kemudian dividen atau pembagian laba perusahaan. “Tetapi ingat, cari perusahaan yang jujur, sehat, dan kredibel,” pesan Irwan.

Menurutnya, banyak masyarakat yang masih ragu bermain saham karena takut rugi atau memiliki pengalaman buruk di masa lalu. Padahal, kata Irwan, jika memilih perusahaan yang sehat dan memiliki reputasi baik, investasi saham justru bisa memberikan keuntungan besar.

Ia juga mengingatkan pentingnya memahami indikator dasar seperti price earning ratio (PER) atau rasio keuangan yang membandingkan harga pasar per lembar saham dengan laba bersih per saham, sebelum membeli saham agar investasi lebih terukur.

Irwan menilai masih banyak masyarakat Indonesia yang menyimpan uang dalam bentuk tidak produktif. Ia bahkan menemukan kasus seseorang yang menyimpan puluhan juta rupiah di lemari karena khawatir biaya administrasi bank.

“Ada yang simpan uang di lemari puluhan juta. Ada juga yang uangnya dititipkan ke keluarga. Itu menurut saya tidak produktif,” kata Irwan.

Ia juga menyinggung kebiasaan sebagian masyarakat yang berinvestasi dalam usaha kecil tanpa perhitungan ekonomi yang matang. Menurut Irwan, pola pikir seperti itu membuat masyarakat sulit berkembang secara finansial.

R. Widiyartono