
Oleh : Ky Hisyam Zamroni
Di berbagai sudut Nusantara, terutama di tanah Jawa, sepuluh hari terakhir bulan Ramadan—yang dikenal dengan istilah Likuran—bukan sekadar penanda akhir bulan suci. Ia adalah puncak dari perjalanan spiritual selama sebulan penuh. Salah satu manifestasi paling kental dari momen ini adalah tradisi Khataman Al-Qur’an, sebuah perayaan yang menggabungkan kesalehan ritual dengan solidaritas sosial melalui simbolisme Jaburan.
Tradisi ini hidup dan bernapas di empat institusi utama: Madrasah, Pondok Pesantren, Masjid, dan Musholla. Meski kemasannya berbeda, ruhnya tetap sama: merayakan tuntasnya pembacaan kalam ilahi dan ngaji Kitab Kuning dengan berbagi keberkahan makanan. Khataman di Pondok Pesantren adalah Puncak Khidmat Sang Santri
Pondok Pesantren sebagai “episentrum” dari tradisi khataman. Selama Ramadhan, pesantren biasanya mengadakan program Pasanan atau pengajian kilat. Prosesi para santri mengkhatamkan kitab-kitab kuning atau Al-Qur’an secara intensif. Pada malam Likuran (biasanya malam 21, 23, 25, 27, atau 29), diadakan seremoni besar yang memiliki makna Kedekatan. Disisi lain, khataman adalah bentuk syukur atas ilmu yang didapat. Puncak acara biasanya ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kyai, menciptakan suasana yang magis dan mengharukan.
Di Madrasah khataman adalah sebuah edukasi dan Kegembiraan Anak-Anak di mana khataman likuran menjadi alat pedagogis untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak pada Al-Qur’an dengan mengadakan beragam acara pawai, pentas seni, dan pengajian sebagai wujud rasa syukur.
Kegiatan ini, Keterlibatan dan peran orang tua sangat besar. Mereka menyiapkan Jaburan khusus untuk dibawa ke madrasah sebagai bentuk apresiasi atas ketekunan anak-anak mereka dalam mengaji kilatan di Madrasah
Sedangkan di Masjid dan Mushollah adalah tempat di mana batas-batas status sosial melebur. Tradisi likuran di sini bersifat sangat komunal. Tradisi khataman di masjid dan mushola yang disebut Maleman” di mana Warga berbondong-bondong datang membawa nampan berisi makanan kepungan. Istilah ini merujuk pada cara makan bersama dalam satu wadah besar (nampan/lengser). Fenomena ini melambangkan kesetaraan; tidak ada pejabat atau rakyat jelata, semua duduk melingkar menyantap makanan yang sama setelah doa khataman dikumandangkan. Disamping itu, dihidangkan pula Jaburan yaitu lebih dari Sekadar Makanan
Dalam tradisi likuran, makanan yang dibawa masyarakat dibagi menjadi dua kategori besar yang memiliki makna filosofis: Pertama, Nasi Berkat (Makanan Berat)
Biasanya berupa nasi tumpeng atau nasi kotak dengan lauk pauk lengkap seperti ayam goreng, mie goreng, sambal goreng kentang, dan telur. Ini melambangkan rasa syukur atas rezeki yang melimpah selama bulan Ramadhan. Kedua, Jaburan (Kudapan dan Makanan Kecil). Jaburan adalah istilah khas untuk jajanan pasar atau makanan kecil. Keberagaman jaburan mencerminkan keberagaman sifat manusia yang dipersatukan dalam doa.
Kesimpulan: Warisan yang Tak Lekang oleh Zaman
Tradisi khataman di malam likuran dengan segala keriuhan jaburannya adalah bukti bahwa Islam di Indonesia tumbuh dengan merangkul budaya lokal. Ia mengajarkan bahwa hubungan kepada Tuhan (Hablum Minallah) harus berjalan beriringan dengan kebaikan kepada sesama manusia (Hablum Minannas).
Meskipun zaman berganti, aroma nasi hangat di serambi masjid dan canda tawa santri saat berbagi jaburan tetap menjadi memori kolektif yang menjaga identitas keberagamaan kita tetap sejuk dan inklusif.
Tradisi ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan sejati saat Iedul fitri nanti dimulai dari kemampuan kita berbagi dengan tetangga di malam-malam terakhir Ramadan.
- Hisyam Zamroni; Sekretaris Idaroh Syu’biyah Jatman Kab. Jepara













