blank
Gambar ilustrasi

blank

Oleh : Ky Hisyam Zamroni

Menjemput Malam Seribu Bulan

Di ufuk timur Jawa dan berbagai penjuru Nusantara, sepuluh malam terakhir Ramadhan bukan sekadar hitungan mundur menuju Idul Fitri. Ia adalah sebuah perjalanan spiritual yang memuncak pada apa yang disebut sebagai Malam Lailatul Qadar. Dalam tradisi Islam-Jawa, fase ini dikenal dengan istilah Likuran.

Secara etimologis, Likuran berasal dari kata bahasa Jawa “selikur” (dua puluh satu), yang menandai dimulainya fase sepuluh hari terakhir (malam 21, 23, 25, 27, dan 29). Di sinilah letak harmoni antara teologi dan budaya: masyarakat tidak hanya menunggu dalam diam, tetapi melakukan “penyambutan” atau Mapak Lailatul Qadar.

Salah satu simbol paling ikonik dari penyambutan ini adalah nyala api. Dahulu, setiap rumah di desa-desa akan menyalakan ting (lentera kecil) atau obor di depan pintu. Kini, pemandangan itu berganti menjadi untaian kabel dan lampu hias listrik. Perubahan ini bukan sekadar urusan teknologi, melainkan sebuah narasi tentang bagaimana tradisi bernegosiasi dengan zaman.

Filosofi Likuran: Mengapa Harus Cahaya?

Dalam khazanah pemikiran Jawa, cahaya (nur) memiliki kedudukan tinggi. Menyalakan lampu di depan rumah saat malam-malam ganjil Ramadhan memiliki beberapa makna filosofis:

Petama, Penerang Jalan Malaikat: Ada kepercayaan simbolis bahwa malaikat yang turun ke bumi membawa keberkahan memerlukan “penerang” untuk mengenali rumah-rumah orang beriman.

Kedua, Simbol Kesiapan Batin: Cahaya di luar rumah adalah cermin dari upaya manusia menyalakan cahaya di dalam jiwa. Membersihkan hati dari kegelapan dosa untuk menerima pancaran Lailatul Qadar.

Ketiga, Penolak Balak: Dalam perspektif antropologis, api sering dianggap sebagai elemen pemurni yang menjauhkan energi negatif selama manusia fokus beribadah di masjid.

Nostalgia Ting: Bambu, Minyak Tanah, dan Bau Asap yang Khas

Sebelum listrik merambah pelosok, “Ting” adalah primadona. Ting biasanya berupa lentera sederhana yang terbuat dari; pertama, rangka Bambu atau Kaleng Bekas: Menunjukkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan barang sekitar. Kedua, kertas Minyak Berwarna-warni: Memberikan efek visual yang estetis di tengah kegelapan desa. Ketiga sumbu dan Minyak Tanah: Memberikan aroma khas yang membangkitkan memori kolektif tentang Ramadhan di masa lalu.

Setiap sore menjelang Magrib di malam selikur, anak-anak kecil akan sibuk membantu orang tua mereka memasang tiang bambu (ajir) di depan pagar. Momen menyalakan api adalah ritual komunal yang menciptakan rasa hangat dan kebersamaan antar tetangga.

Pergeseran ke Era Listrik: Modernitas dan Kepraktisan

Seiring berjalannya waktu, Ting mulai memudar. Perannya digantikan oleh lampu listrik—mulai dari bohlam kuning tunggal hingga lampu hias LED yang berkelap-kelip. Apa yang menyebabkan pergeseran ini? Pertama, keamanan dan Kenyamanan. Minyak tanah kini sulit didapat dan harganya mahal. Selain itu, risiko kebakaran pada lampu kertas sangat tinggi, terutama jika terkena angin kencang. Lampu listrik menawarkan solusi “sekali klik” tanpa asap dan bau. Kedua, estetika modern. Masyarakat modern cenderung menyukai visual yang lebih terang dan variatif. Lampu “tumblr” atau lampu selang kini menghiasi pagar rumah-rumah di desa dan kota, memberikan kesan perayaan yang lebih meriah secara visual, meski mungkin kehilangan sisi “khidmat” dari api yang bergoyang. Ketiga, simbol status dan ekonomi. Transformasi ini juga mencerminkan tingkat ekonomi. Listrik yang menyala terang di depan rumah menunjukkan kemapanan dan partisipasi aktif dalam budaya populer global, di mana hari raya keagamaan sering dirayakan dengan iluminasi besar-besaran.

Tradisi Pendamping: Malam Selikur dan Maleman

Tradisi menyalakan lampu tidak berdiri sendiri. Ia biasanya dibarengi dengan ritual lain.

Pertama, kenduri atau Berkat: Di malam-malam ganjil, masjid dan mushola dipenuhi dengan nampan nasi (ambengan). Warga membawa makanan untuk didoakan bersama sebagai bentuk syukur.

Kedua, Itikaf dan Tadarus: Cahaya lampu di depan rumah menjadi tanda bahwa penghuninya mungkin sedang berada di masjid, menghabiskan malam dengan membaca Al-Qur’an.

Ketiga,  Lampu “Dian” di Makam: Di beberapa daerah, tradisi ini juga dibawa ke pemakaman leluhur sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan kematian di tengah kemeriahan Ramadhan.

Dampak Sosial: Pudarnya Gotong Royong?

Ada kritik sosial yang muncul di balik kepraktisan lampu listrik. Dahulu, membuat Ting adalah aktivitas kelompok. Anak-anak muda berkumpul membuat kerangka bambu. Sekarang, lampu hias dibeli di toko daring, dipasang sendirian, dan otomatis menyala dengan sensor cahaya atau saklar.

Kehilangan yang dirasakan; Pertama, Berkurangnya interaksi fisik antar warga saat mempersiapkan “penerangan”. Kedua, Standardisasi estetika; semua rumah tampak serupa dengan lampu pabrikan, kehilangan sentuhan personal dari kerajinan tangan.

Penutup: Menjaga Api dalam Jiwa

Meskipun mediumnya berubah—dari api minyak tanah ke elektron di dalam kabel tembaga—substansinya harus tetap sama. Tradisi menyalakan lampu di depan rumah adalah simbol harapan. Ia adalah pengingat bahwa di tengah gelapnya dunia, manusia harus tetap mencari cahaya Ilahi.

Transisi dari Ting ke listrik adalah keniscayaan zaman. Namun, yang paling penting bukan seberapa terang lampu di depan pagar kita, melainkan seberapa siap batin kita menjadi “lampu” bagi sesama melalui amal ibadah di malam-malam terakhir Ramadhan.

Tradisi Likuran Mapak Lailatul Qadar adalah bukti betapa lenturnya budaya Nusantara menyerap nilai-nilai agama ke dalam perilaku sosial. Selama lampu-lampu itu masih menyala—apapun energinya—semangat untuk mengejar kebaikan di sepuluh malam terakhir tidak akan pernah padam.

Hisyam Zamroni; Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara