blank
Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Jepara, KH Charis Rahman, saat menyampaikan mauidloh hasanah-nya. Foto: Muhammad Rafiuddin

JEPARA, (SUARABARU.ID) – Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati Komplek Maqbaroh Suromoyo, Kedungleper, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, pada Rabu, 4 Maret 2026. Kehadiran jamaah tersebut guna menghadiri peringatan Haul Masyayikh Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri yang bertepatan dengan 14 Ramadhan 1447 H.

Peringatan Haul ini digelar untuk mengenang perjuangan dan jasa KH. Harun Syakur, Ny. Hj. Rofi’ah, dan KH. Mc. Amin Sholeh yang  ke-24. Acara yang berlangsung khidmat tersebut diisi dengan rangkaian prosesi Tahtimul Qur’an bil Hifdzi, pembacaan tahlil, serta doa bersama yang diikuti santri, masyarakat umum, hingga jajaran fungsionaris Nahdlatul Ulama (NU) dari tingkat wilayah maupun cabang.

KH MC Amin Sholeh merupakan sosok sentral dan pendiri Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri. Lahir di Tayu, Pati, pada 20 April 1931. Ia merupakan putra pasangan KH Sholeh Amin dan Nyai Hj Azizah.  KH MC Amin Sholeh juga  memiliki garis keturunan yang bersambung hingga Sunan Kudus dan Syekh Ahmad Mutamakkin Kajen.

Jejak keilmuannya  terbentuk dari tradisi pesantren besar seperti Raudlatut Thalibin Kudus, Al-Ishlah Lasem, hingga Lirboyo Kediri. Semasa hidup, almarhum dikenal sebagai pejuang organisasi yang gigih. KH Amin Sholeh tercatat pernah mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PCNU Jepara, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Ketua MUI Jawa Tengah, hingga Dekan Fakultas Syariah UNISNU Jepara sebelum wafat pada 14 Ramadhan 1423 H.

blank
Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati Komplek Maqbaroh Suromoyo, Kedungleper, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara. Foto: Muhammad Rafiuddin

Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Jepara, KH Charis Rahman, dalam mauidloh hasanah-nya menegaskan bahwa kehadiran jamaah di majelis haul merupakan wujud nyata mahabbah (cinta) kepada ulama, bukan sekadar seremonial belaka.

“Jalan untuk menjadi orang besar itu adalah melalui khidmah (pengabdian). Khidmah adalah bagian dari tabarrukan (mencari berkah) dan refleksi dari rasa cinta,” ujar KH Haris di hadapan para jamaah.

Ia  mencontohkan bagaimana Mbah Amin Sholeh dan Mbah Harun Syakur mencapai derajat kemuliaan karena ketulusan mereka dalam berkhidmah kepada guru dan orang tua. Untuk memotivasi jamaah, KH Charis mengisahkan ayahanda Imam Al-Ghazali. “Meskipun berstatus pekerja fakir, sang ayah sangat istiqomah menghadiri majelis ilmu. Berkat kecintaannya pada ulama, Allah SWT mengaruniakan putra-putra yang alim kaliber dunia,” terangnya .

Di sisi lain, KH Charis juga memberikan peringatan melalui kisah Juraij dari zaman Bani Israil. Juraij tertimpa fitnah besar hanya karena menunda menjawab panggilan ibunya saat sedang melaksanakan salat sunnah. “Ini pelajaran penting agar kita tidak mengabaikan rida orang tua di atas segalanya,” tegasnya.

Pada akhir ceramahnya, KH Charis memaparkan kunci menjadi hamba yang berkualitas melalui dua jalan utama: Dzikir dan Suhbah (pendampingan guru). Ia menekankan pentingnya memiliki guru pembimbing, baik melalui Suhbatul Irodah (ketaatan murid) maupun Suhbatut Tabarruk (ikatan mencari berkah).

Pada akhirnya ia  juga mengajak seluruh jamaah untuk meneladani keistiqomahan para masyayikh dalam mengabdi kepada umat hingga akhir hayat. Acara tersebut ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan lahirnya generasi penerus yang saleh selaras dengan cita-cita para ulama terdahulu.

Hadepe – Eky Putri Febriani