blank
Ilustrasi

Oleh: Ulul Abshor

JEPARA (SUARABARU.ID)- Dari mulai menjelang buka bersama, kemudian berbuka dengan ikan bakar Menganti dengan sambal yang sungguh sedap tak terkira lalu dilanjut sampai dengan waktu sahur persiapan puasa di hari berikutnya. Di ruang paseban ‘Joglo Kramat’ telah dipersembahkan berbagai suguhan ‘topeng peran’ yang menggugah ‘rasa kesadaran’. Sungguh pemandangan yang sangat menarik.

Bayangkan, kita hidup di tahun 2026: HP tak pernah jauh dari tangan, berita buruk tiap menit, ekonomi naik-turun, dan hati sering bertanya, “Tuhan, kok begini?”
Di saat seperti ini, ada dua pesan kuno yang justru terasa sangat baru:

1. Hadis Qudsi yang Mengubah Cara Berpikir
“Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku.”

Artinya sederhana: apa yang kamu sangka tentang Tuhan, itulah yang kamu rasakan. Yakin Dia Maha Pengasih? Rahmat-Nya terasa dekat. Ragu dan takut? Hidup terasa semakin berat.

Pesan ini mengajarkan kita bahwa cara kita memandang Allah—prasangka dan keyakinan kita terhadap-Nya—akan menentukan bagaimana Allah memperlakukan kita. Ini bukan sekadar kalimat indah, tapi sebuah prinsip hidup yang dapat mengubah cara kita menjalani hari-hari.

Bukan dongeng. Ini seperti “tombol reset” pikiran. Para ulama dulu bilang: kalau kamu mendekat sejengkal, Allah mendekat sehasta. Kalau kamu berjalan, Dia berlari menyambut.

Psikologi modern bilang hal yang sama: harapan positif membuat kita lebih kuat menghadapi stres. Tapi ingat, husnudzon bukan alasan bermalas-malasan. Tetap harus berusaha!

2. Ronggowarsito Berbisik dari Abad ke-19
Pujangga Jawa besar ini menulis Serat Kalatidha saat Keraton Surakarta sedang “edan” karena kolonial Belanda.

Ia gambarkan zaman di mana norma jungkir balik, orang bingung: ikut arus atau tidak?
Ia jawab dengan bahasa yang masih pas untuk kita hari ini:
“Ndilalah karsa Allah…”

Semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan.
Tapi yang lupa diri mungkin untung sebentar.
Yang benar-benar beruntung adalah yang ‘eling lan waspada’ — ingat Tuhan dan waspada terhadap godaan.

3. Dilema yang Kita Rasakan Setiap Hari

‘Amenangi jaman edan’
“Ewuh aya ing pambudi…”
(Mengalami zaman gila, bingung di dalam hati…)

Ikut edan tak tahan hati nurani.
Tidak ikut? Bisa kelaparan (atau ketinggalan zaman).

Tapi di ujung bait itu ada harapan:
‘”Luwih begja kang eling lawan waspada”
Bait ini bukan ramalan kiamat. Ini cermin.
Kita masih merasakannya: ikut tren negatif atau tetap pada nilai?
Ronggowarsito jawab: eling (ingat Tuhan) + waspada (jaga diri) = kemenangan hakiki.

4. Pesan untuk Kita Hari Ini

Modernisasi tak terbendung

Tapi di tengah gedung tinggi, kemacetan, dan scroll tak berhenti, dua warisan ini masih relevan:

Hadis qudsi → ajak kita berprasangka baik setiap pagi.

Serat Kalatidha → ajak kita eling lan waspada setiap malam.

Keduanya bilang hal yang sama:
Jangan pasrah buta. Jangan juga sombong mengandalkan diri sendiri.
Yakin sambil bergerak.

Satu Pertanyaan untukmu sekarang:
Hari ini, prasangka apa yang kamu simpan di hati tentang Tuhan?
Husnudzon atau su’udzon?
Jawaban itu menentukan bagaimana hari-harimu akan terasa.
Eling lan waspada, kawan.

Di zaman edan ini, prasangka baik adalah kekuatan paling modern yang kita punya.
Semoga hati kita selalu tenang.
Aamiin.

Note
“أنا عند ظن عبدي بي ”
“Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku…..”

_”Amenangi jaman edan,
Ewuh aya ing pambudi,
Milu edan nora tahan,
Yen tan milu anglakoni,
Boya kaduman melik,
Kaliren wekasanipun,
Ndilalah karsa Allah,
Begja-begjane kang lali,
Luwih begja kang eling lawan waspada.”_
___Ronggowarsito, Serat Kalatida.

(Penulis adalah Katib Syuriah PCNU Kabupaten Jepara)