GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Dinas Kesehatan Grobogan mencatat sebanyak 963 warga menjalani pemeriksaan kesehatan pascabanjir di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan selama dua hari, yakni 17–18 Februari 2026.
Layanan tersebut difokuskan untuk memastikan kondisi kesehatan masyarakat terdampak tetap terpantau secara menyeluruh.
Pemeriksaan pascabanjir yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Grobogan melibatkan seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak.
BACA JUGA : Kepala BNPB Pastikan Penanganan Bencana Tanah Bergerak di Kabupaten Tegal Tetap Optimal
Dari total 963 warga yang diperiksa, keluhan kesehatan bervariasi dan menunjukkan pola penyakit khas pascabanjir.
Data rekapitulasi menunjukkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dialami 208 orang atau sekitar 21,50 persen dari total pasien. Angka tersebut mencerminkan dampak perubahan cuaca dan kondisi lingkungan lembap pascabanjir.
Penyakit kulit menempati posisi kedua terbanyak dengan jumlah 241 orang atau 25,03 persen. Keluhan gatal dan iritasi kulit banyak muncul akibat kontak langsung dengan air banjir yang tercemar.
Keluhan terbanyak justru berasal dari myalgia atau nyeri otot. Sebanyak 263 warga atau 27,31 persen mengalami kondisi tersebut, terutama akibat aktivitas fisik berat saat membersihkan sisa material banjir.
Selain itu, cephalgia atau sakit kepala tercatat dialami 104 orang atau 10,80 persen. Kondisi ini diduga berkaitan dengan kelelahan, stres, serta kurangnya waktu istirahat selama masa tanggap banjir.
Kasus hipertensi juga teridentifikasi pada 60 warga atau 6,23 persen. Tekanan psikologis serta pola makan yang tidak teratur selama bencana turut memicu keluhan tersebut.
Sementara itu, gastritis atau gangguan lambung tercatat pada 22 warga atau 2,28 persen. Pola konsumsi makanan yang tidak terjaga menjadi faktor utama munculnya keluhan ini.
Kasus diare terbilang rendah dengan dua orang atau 0,21 persen. Meski demikian, petugas tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit berbasis lingkungan.
Sebanyak 26 warga atau 2,70 persen mengalami febris atau demam. Kondisi ini masih terus dipantau untuk mengantisipasi kemungkinan penyakit infeksi lainnya.
BACA JUGA : Modus COD Terbongkar! Polsek Kudus Kota Amankan Pengedar Miras Ilegal di Purwosari Berkat Laporan Warga
Laporan kesehatan juga mencatat adanya 37 pasien atau 3,84 persen dengan keluhan penyakit lain yang tidak masuk kategori utama.
Selain keluhan tersebut, laporan terbaru menyebutkan adanya dugaan kasus leptospirosis yang kini masih dalam tahap pemantauan intensif oleh petugas kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko, menyampaikan bahwa potensi penyakit pascabanjir sangat beragam dan membutuhkan penanganan cepat serta terkoordinasi.
“Potensi penyakit pascabanjir cukup beragam. Keluhan yang banyak muncul antara lain nyeri, pegal linu, penyakit kulit, batuk pilek, hingga gangguan lambung dan tekanan darah tinggi,” ujarnya.
Di wilayah Kelurahan Purwodadi, laporan pelayanan kesehatan didominasi keluhan gatal-gatal, batuk pilek, stres lambung, serta hipertensi yang muncul bersamaan dengan kondisi pascabanjir.
Wilayah terdampak banjir tersebar hampir merata di Kabupaten Grobogan. Namun, Cingkrong tercatat sebagai wilayah dengan dampak terberat akibat frekuensi banjir yang cukup sering terjadi.
BACA JUGA : Wali Kota Semarang Terima Kunjungan Dubes India, Dorong Kerja Sama Investasi, Pendidikan, dan Budaya
Sementara itu, Kecamatan Tegowanu yang menjadi lokasi jebolan tanggul juga masuk kategori wilayah rawan munculnya penyakit pascabanjir dan menjadi perhatian khusus petugas kesehatan.
Pelayanan kesehatan di Puskesmas Gubug I dan Puskesmas Gubug II terpantau padat. Lokasinya yang strategis membuat dua fasilitas tersebut menjadi rujukan banyak warga terdampak. “Gubug I sebenarnya tidak banyak, tapi karena aksesnya mudah kemarin digunakan untuk koordinasi,” imbuhnya.
Puskesmas Godong I juga melayani cukup banyak pasien, terutama warga dari Desa Rejosari dan Desa Tinanding yang terdampak banjir cukup parah.
Puskesmas Kedungjati tercatat sebagai fasilitas dengan jumlah pasien terbanyak, melayani 93 kasus ISPA, 97 penyakit kulit, 175 myalgia, 61 cephalgia, serta 8 kasus febris selama masa pemeriksaan.
Sementara itu, Puskesmas Purwodadi I melayani 20 pasien ISPA, 31 penyakit kulit, 17 cephalgia, 22 hipertensi, dan 13 kasus gastritis.
Dinas Kesehatan Grobogan mengimbau masyarakat menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menggunakan alat pelindung saat membersihkan sisa banjir, serta segera memeriksakan diri di fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala pascabanjir.
TYA WIDYA













