SEMARANG (SUARABARU.ID) – Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Dakwah Komunitas (LDK), di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) yang dibuka, Kamis, 29 Januari 2026.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, pentingnya penguatan dakwah komunitas yang bersifat inklusif dan merangkul seluruh lapisan masyarakat.
“Hari ini kami membuka Rakornas untuk kepentingan mengembangkan dakwah komunitas yang inklusif, menjangkau semua segmen sosial masyarakat, khususnya di daerah 3T, pinggiran kota, dan pedesaan,” katanya.
Haedar bilang, dakwah komunitas untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan akhlak, serta membangun solidaritas sosial lintas kalangan Konsep tersebut menjadi fondasi dakwah Muhammadiyah agar agama hadir sebagai solusi atas persoalan sosial masyarakat.
“Semangat kami menanamkan nilai agama yang mengokohkan spiritualitas, membangun akhlak, sekaligus solidaritas sosial tanpa memandang latar belakang,” ucapnya.
Indonesia, kata Haedar, membutuhkan kekuatan sosial berbasis agama untuk menghadapi berbagai tantangan dan agenda kebangsaan yang semakin kompleks.
Dalam konteks itu, Muhammadiyah diposisikan sebagai kekuatan pembebasan, pemberdayaan, dan pemajuan yang mampu merekatkan persatuan nasional.
“Kekuatan agama harus menjadi kekuatan pembebasan, pemberdayaan, kekuatan yang memajukan dan merekat persatuan nasional,” ucapnya.
Dia mendorong agar gerakan keagamaan terus berintegrasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan elemen masyarakat lainnya, demi mewujudkan Indonesia yang lebih bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Sebagai informasi, kata Haedar, Muhammadiyah memiliki Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) yang tersebar di 38 wilayah dengan cakupan sekitar 900 titik di daerah 3T. Ratusan guru agama telah diterjunkan untuk mendampingi masyarakat di wilayah-wilayah tersebut.
“Bergerak di komunitas dan dikoordinasikan bersama Majelis Tabligh. Ke depan, dakwah komunitas akan bersinergi dengan tenaga sosial dan relawan agar dapat memajukan bangsa dari berbagai aspek,” ucapnya.
Senada dengan Haedar, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Tafsir, mengatakan, bahwa dakwah Muhammadiyah tidak boleh eksklusif dan hanya menyasar kelompok yang sudah mapan secara keagamaan.
Menurutnya, dakwah justru harus hadir menyapa seluruh lapisan masyarakat. Termasuk kelompok-kelompok yang selama ini berada di pinggiran sosial atau yang ia sebut sebagai “lorong gelap”.
Dia bilang, menjadi kewajiban untuk menyapa semua manusia tanpa memandang latar belakang sosial, identitas, maupun masa lalu.
“Dakwah itu menyapa semua orang. Siapa pun dia, apa pun latar belakangnya. Mereka juga manusia yang punya hak surga yang sama,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu juga diberikan penganugerahan Insan Dakwah untuk Negeri Tahun 2026, digelar untuk mengonsolidasikan gerakan dakwah komunitas Muhammadiyah. Di mana menyasar daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), kawasan pinggiran kota, serta wilayah pedesaan. (*)
Diaz A Abidin













