SEMARANG SUARABARU.ID : Setiap hari, individu berhadapan dengan arus informasi yang datang tanpa henti. Dari layar ponsel hingga linimasa media sosial, berita dan potongan narasi silih berganti dalam waktu singkat, sering kali dikonsumsi tanpa proses membaca yang mendalam.
Dalam situasi seperti ini, membaca informasi tidak selalu dilakukan secara utuh. Judul, cuplikan video, atau narasi singkat kerap dijadikan pegangan utama dalam memahami suatu peristiwa. Penilaian awal sering kali terbentuk bahkan sebelum individu menelusuri isi informasi secara lengkap.

Kondisi tersebut semakin kuat dengan kehadiran media sosial, terutama TikTok. Platform ini menyajikan informasi dalam bentuk video singkat dengan visual yang menarik, ritme cepat, dan narasi padat. Dalam hitungan detik, individu sudah diarahkan pada emosi, sudut pandang, dan kesimpulan tertentu mengenai suatu isu.
Penelitian Akbar, Hasyim, dan Asmurti (2024) menunjukkan bahwa TikTok dimanfaatkan oleh Generasi Z sebagai sumber informasi karena dianggap praktis, mudah diakses, dan relevan dengan keseharian. Karakter visual dan durasi singkat membuat informasi terasa ringan dan mudah dipahami.
Namun, kemudahan tersebut menyimpan konsekuensi. Informasi yang diterima secara instan sering kali tidak diiringi dengan upaya mencari konteks atau sumber lain. Individu cenderung merasa sudah mengetahui suatu isu hanya dari satu atau dua video yang muncul di linimasa.
Kebiasaan ini membuat proses penilaian berlangsung sangat cepat. Opini terbentuk bahkan sebelum informasi dipahami secara menyeluruh. Dalam banyak kasus, opini yang terbentuk sejak awal menjadi sulit diubah, terutama ketika diperkuat oleh konten serupa yang terus muncul secara berulang.
Fenomena ini semakin jelas ketika satu isu yang sama hadir dalam berbagai konten TikTok dengan sudut pandang yang berbeda. Fakta yang disampaikan dapat serupa, tetapi cara bercerita, pilihan visual, dan fokus narasi yang digunakan kreator tidak selalu sama.
Safitri dan Trianita (2024) menemukan bahwa konten TikTok memiliki pengaruh signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan informasi audiens. Pengaruh tersebut tidak hanya berasal dari isi pesan, tetapi juga dari cara pesan dikemas secara menarik dan emosional.
Satu konten dapat membingkai peristiwa sebagai masalah serius yang memicu kekhawatiran. Konten lain dapat menampilkan isu serupa sebagai hal yang wajar dan tidak perlu dibesarbesarkan. Individu kemudian menilai peristiwa bukan hanya berdasarkan apa yang terjadi, melainkan berdasarkan bagaimana peristiwa itu dikisahkan.
Perbedaan cara penyajian ini menunjukkan bahwa TikTok tidak sekadar menyampaikan realitas. Konten yang beredar turut membentuk cara individu memandang dan menilai realitas tersebut. Pilihan visual, musik latar, intonasi suara, dan ekspresi kreator menjadi bagian dari proses pembentukan makna.
Pengaruh ini jarang hadir dalam bentuk ajakan eksplisit. Ia bekerja secara halus melalui penekanan emosi, pemilihan sudut pandang tertentu, serta pengulangan narasi yang konsisten. Tanpa disadari, individu diarahkan untuk memperhatikan satu sisi realitas dan mengabaikan sisi lainnya.
Ketika suatu isu terus muncul dengan sudut pandang yang sama, kerangka tersebut perlahan dianggap sebagai kebenaran umum. Narasi yang berulang membentuk pola pikir bersama yang digunakan individu dalam berdiskusi, berkomentar, dan mengambil sikap.
Dalam kajian ilmu komunikasi, proses ini dikenal sebagai framing media. Framing menjelaskan bahwa media tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk cara fakta tersebut dimaknai oleh audiens.
Salah satu kerangka framing yang banyak digunakan adalah Model Framing Robert N. Entman. Model ini menekankan bahwa framing merupakan proses selektif, di mana media memilih aspek tertentu dari realitas untuk ditonjolkan, sementara aspek lain dikesampingkan.
Menurut Entman, framing bekerja melalui empat fungsi utama. Media mendefinisikan masalah, menjelaskan penyebab, memberikan penilaian moral, dan mengusulkan solusi. Keempat fungsi ini membantu memahami bagaimana suatu pesan disusun secara sistematis.
Pendefinisian masalah menentukan apakah suatu peristiwa diposisikan sebagai krisis, ancaman, atau sekadar dinamika biasa. Penjelasan penyebab mengarahkan perhatian pada pihak atau faktor tertentu yang dianggap bertanggung jawab.
Penilaian moral membangun kesan tentang mana yang dianggap benar, salah, pantas, atau bermasalah. Sementara itu, solusi memberi isyarat mengenai tindakan atau sikap yang dianggap paling masuk akal.
Dalam TikTok, keempat fungsi tersebut sering kali hadir secara implisit. Konten dikemas ringan, menghibur, dan personal, sehingga framing terasa alami dan tidak dipersepsikan sebagai upaya memengaruhi.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa TikTok kini juga menjadi ruang penyebaran informasi kesehatan. Saputra dan Rakhmawati (2025) menemukan bahwa konten edukasi kesehatan di TikTok mampu meningkatkan ketertarikan audiens, tetapi sangat bergantung pada gaya komunikasi kreator.
Masalah muncul ketika gaya komunikasi yang persuasif tidak selalu diiringi dengan akurasi informasi. Penelitian Han, Lyu, dan Ling (2025) menunjukkan bahwa banyak konten populer di TikTok mengandung informasi menyesatkan, namun tetap dipercaya karena dikemas secara meyakinkan dan mudah dipahami.
Arus informasi yang terlalu padat membuat individu rentan mengalami kebingungan informasi. Dalam kondisi ini, individu cenderung mengandalkan kesan awal daripada melakukan penelusuran lanjutan terhadap sumber yang lebih kredibel.
TikTok kemudian tidak hanya berfungsi sebagai platform hiburan, tetapi juga arena pembentukan opini publik. Framing yang terjadi di dalamnya ikut menentukan isu mana yang dianggap penting dan mana yang terpinggirkan.
Penting untuk dipahami bahwa framing tidak selalu berarti manipulasi. Setiap proses komunikasi niscaya melibatkan seleksi dan penekanan. Kreator konten bekerja dalam keterbatasan durasi, algoritma, dan tuntutan perhatian audiens.
Namun, kesadaran individu menjadi kunci dalam menghadapi realitas tersebut. Mengonsumsi informasi secara lebih kritis dan tidak berhenti pada satu konten dapat membantu memperluas sudut pandang.
Literasi media tidak berarti menolak TikTok sebagai sumber informasi. Literasi media mendorong individu untuk lebih sadar dalam memaknai konten yang dikonsumsi, mempertanyakan sumber, dan memahami konteks.
Pada akhirnya, TikTok akan terus menggandeng cara individu menilai isu melalui narasi yang dibangun. Yang menjadi penting adalah memastikan pengaruh tersebut disadari, bukan diterima begitu saja. Di tengah banjir informasi, kesadaran kritis menjadi fondasi bagi ruang publik yang lebih sehat.
Penulis: Auryn Azaria Putri













