blank

SEMARANG SUARABARU.ID:  Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam cara berinteraksi.

Jika dahulu interaksi sosial hanya dipahami sebagai hubungan antarmanusia, kini teknologi hadir sebagai bagian dari proses komunikasi itu sendiri. AI tidak hanya membantu manusia menyelesaikan pekerjaan teknis, tetapi juga terlibat dalam percakapan, pengambilan keputusan, hingga aktivitas kreatif.

blank

Kehadiran ini memunculkan pertanyaan penting tentang bagaimana manusia memaknai interaksi dengan entitas non-manusia dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Untuk memahami fenomena tersebut, teori interaksionisme simbolik menjadi perspektif yang relevan. George Herbert Mead, sebagai tokoh utama interaksionisme simbolik, menjelaskan bahwa kesadaran manusia terbentuk melalui interaksi sosial. Konsep mind, self, dan society menunjukkan bahwa pikiran dan identitas diri seseorang berkembang karena adanya komunikasi dengan lingkungan sosialnya (Mead, 1934).

Bahasa berperan sebagai simbol utama dalam proses ini karena melalui bahasa manusia menafsirkan tindakan orang lain dan membentuk pemahaman tentang dirinya sendiri (Blumer, 1969). Dalam konteks ini, kehadiran AI yang mampu menggunakan bahasa manusia menghadirkan dinamika baru dalam proses pembentukan makna.

Konsep mind terlihat dari bagaimana manusia menggunakan bahasa dan simbol saat berinteraksi dengan AI, lalu menafsirkan responsnya untuk membentuk pemikiran dan makna, baik dalam konteks pekerjaan maupun kebutuhan personal seperti curhat. Konsep self muncul ketika AI berperan sebagai pihak yang memberi umpan balik dan ruang refleksi, sehingga membantu individu memahami perasaan dan membentuk konsep diri.

Sementara itu, konsep society tercermin dari meluasnya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari, yang menandai perubahan pola interaksi sosial dan menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dari struktur sosial masyarakat modern.

Interaksi antara manusia dan AI secara sekilas tampak seperti hubungan antara pengguna dan alat. Namun jika diamati lebih dalam, interaksi tersebut memiliki karakteristik simbolik yang serupa dengan komunikasi sosial. Ketika manusia berbicara dengan AI menggunakan bahasa yang sopan, mengajukan pertanyaan kompleks, atau bahkan mengekspresikan emosi, mereka secara tidak langsung memperlakukan AI sebagai pihak yang dapat memahami makna.

Dari sudut pandang interaksionisme simbolik, hal ini menunjukkan bahwa makna interaksi tidak ditentukan oleh status ontologis AI, melainkan oleh interpretasi manusia terhadap simbol yang muncul dalam komunikasi.

Fenomena ini muncul dalam kehidupan nyata di banyak tempat. Misalnya, banyak remaja dan orang dewasa yang memanfaatkan AI chatbot sebagai teman ngobrol atau sumber dukungan emosional. Studi dan laporan menunjukkan bahwa sebagian besar remaja telah setidaknya sekali menggunakan AI companion, bahkan banyak yang merasa puas berbicara dengan AI seperti chatbot layaknya berbicara dengan manusia. Di Indonesia sendiri banyak pengguna mengaku nyaman curhat ke ChatGPT karena responsnya instan dan terasa seperti partner ngobrol.

Namun, contoh ini juga menunjukkan tantangan dalam interaksi manusia dengan AI. Ketergantungan emosional terhadap AI dapat menyelaraskan antara interaksi digital dan hubungan sosial nyata sehingga mengubah bagaimana seseorang memaknai dukungan sosial. Pakar psikologi menegaskan bahwa, meskipun AI memberikan respons cepat dan tampak empatik, AI tetaplah mesin yang tidak mampu benar-benar memahami konteks sosial, pengalaman hidup, atau situasi personal pengguna secara menyeluruh.

Berbagai kajian akademik menunjukkan bahwa manusia cenderung memberikan atribut sosial kepada AI. Respons yang cepat, bahasa yang terstruktur, dan kemampuan AI menyesuaikan konteks membuat pengguna memaknai AI sebagai entitas yang “cerdas” dan rasional. Dalam beberapa kasus, AI bahkan dianggap lebih objektif dibanding manusia. Persepsi ini lahir dari proses interaksi simbolik yang berulang, di mana simbol-simbol komunikasi yang ditampilkan AI membentuk ekspektasi dan makna tertentu di benak pengguna.
Dalam dunia kerja dan pendidikan, misalnya, AI sering diposisikan sebagai asisten yang dapat diandalkan. Mahasiswa menggunakan AI untuk membantu memahami materi, sementara pekerja memanfaatkannya untuk meningkatkan efisiensi. Interaksi semacam ini secara perlahan membentuk makna baru tentang otoritas pengetahuan dan peran manusia. Jika sebelumnya pengetahuan diasosiasikan dengan pengalaman dan keahlian manusia, kini AI ikut berperan dalam proses produksi dan distribusi makna tersebut.
Dari perspektif interaksionisme simbolik, fenomena ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dari jaringan sosial yang memengaruhi cara manusia memaknai realitas. AI bukan hanya alat pasif, tetapi turut membentuk konteks interaksi. Dalam kolaborasi kreatif, seperti penulisan atau desain, AI sering kali diperlakukan sebagai rekan yang memberikan ide atau alternatif. Interaksi ini mengubah cara manusia memaknai kreativitas, karena proses penciptaan tidak lagi sepenuhnya dianggap sebagai aktivitas individual manusia.
Meski demikian, terdapat batasan penting dalam interaksi manusia dan AI. Manusia membangun makna berdasarkan pengalaman hidup, nilai budaya, dan emosi, sementara AI memproses simbol sebagai data dan pola statistik. Ketika AI gagal memahami konteks sosial atau memberikan respons yang terasa tidak sensitif, hal tersebut sering menimbulkan ketegangan dalam interaksi. Dalam kerangka interaksionisme simbolik, situasi ini dapat dipahami sebagai kegagalan dalam proses interpretasi simbol, bukan sekadar kesalahan teknis.
Namun, kegagalan tersebut tidak menghentikan proses pembentukan makna. Sebaliknya, manusia justru menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap AI dan terus menginterpretasikan ulang peran teknologi dalam kehidupan sosial. Proses ini sejalan dengan prinsip interaksionisme simbolik yang menekankan bahwa makna selalu bersifat dinamis dan terbuka terhadap perubahan melalui interaksi yang berkelanjutan.
Selain sebagai mitra komunikasi, AI juga berfungsi sebagai simbol sosial dalam masyarakat modern. AI sering dipandang sebagai lambang kemajuan, efisiensi, dan modernitas. Makna simbolik ini memengaruhi cara masyarakat mempercayai teknologi dan mengandalkannya dalam berbagai aspek kehidupan. Ketika AI dipersepsikan sebagai entitas yang netral dan objektif, manusia cenderung menerima hasil yang diberikan tanpa banyak mempertanyakan proses di baliknya.
Lebih jauh, kehadiran AI juga mengubah ruang interaksi sosial. Percakapan yang sebelumnya hanya terjadi antarmanusia kini melibatkan sistem cerdas yang mampu merespons secara real time. Dalam beberapa kasus, manusia merasa lebih nyaman berbicara dengan AI karena tidak adanya tekanan sosial atau penilaian. Fenomena ini sering disebut sebagai ruang aman digital dan menunjukkan bahwa makna komunikasi serta relasi sosial mengalami pergeseran seiring dengan masuknya teknologi ke dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kacamata teori interaksionisme simbolik, interaksi manusia dan AI dapat dipahami sebagai proses sosial yang kaya makna. AI hadir dalam ruang simbolik yang dibentuk oleh interpretasi manusia, bukan sekadar oleh kode dan algoritma. Oleh karena itu, diskusi tentang AI seharusnya tidak hanya menyoroti aspek teknologis, tetapi juga implikasi sosial dari makna yang dibangun melalui interaksi tersebut.
Sebagai penutup, memahami hubungan manusia dan AI melalui perspektif interaksionisme simbolik membantu kita melihat bahwa teknologi bukan entitas netral yang berdiri di luar masyarakat. AI menjadi bagian dari proses sosial yang membentuk cara manusia berkomunikasi, berpikir, dan memaknai dunia. Dengan kesadaran ini, manusia diharapkan mampu membangun interaksi yang lebih kritis dan reflektif dengan AI, sehingga teknologi tidak hanya menjadi alat yang canggih, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial yang bermakna dan bertanggung jawab.