Oleh : Septiana Wibowo
SUARABARU.ID – Fenomena sosial media yang semakin luas juga meningkatkan minat anak muda dalam menulis puisi, khususnya puisi bertema senja dan refleksi personal diri lalu mengunggahnya ke laman sosial media. Ini menjadi sebuah tanda perubahan pola kepenulisan sastra kontemporer saat ini. Salah satu ciri utama dari karya-karya tersebut adalah penggunaan gaya bahasa yang sederhana dengan makna yang lebih mudah dipahami oleh pembaca (follower sosial media).
Walau sebenarnya masih banyak yang malu-malu mengekspresikan dirinya kedalam sebuah tulisan, dan banyak yang masih ragu dengan kemampuan menulis. Namun sebenarnya untuk mengukur sebuah karya, kita perlu mencurahkannya, membaca ulang dan membuatnya semakin berkembang dengan berlatih terus menerus.

Sebenarnya dalam kajian sastra, kesederhanaan ini tidak dapat dipisahkan dari aspek stilistika, ekspresivisme, dan resepsi sastra yang secara langsung memengaruhi produktivitas penulis muda dalam berkarya.
Stilistika adalah ilmu yang mempelajari cara pengarang menggunakan bahasanya untuk mencapai efek estetis. Dimana puisi kekinian yang ditulis anak muda sekarang pada umumnya menggunakan diksi dan bahasa sehari-hari, dengan larik pendek, dan minimnya majas yang kompleks.
Pilihan gaya ini dipandang sebagai sebuah kesadaran estetik bahwa keindahan tidak selalu terletak pada bahasa yang rumit, namun pada ketepatan dan kejujuran ungkapan diri. Dimana teori ekspresivisme yang memandang karya sastra sebagai cerminan perasaan dan pengalaman batin pengarang juga sangat berperan.
Walau terkesan lebih cengeng atau melankolis, kepenulisan sederhana ini memperkecil hambatan antara emosi dan teks. Anak muda dapat langsung menuangkan perasaan tanpa harus melalui proses penyuntingan yang berat dan ekpresi yang susah dituangkan, sehingga frekuensi dan produktivitas menulis menjadi meningkat.
Hal ini sangat berpengaruh dimana puisi kekinian umumnya berbentuk puisi bebas yang tidak terikat aturan rima. Hal yang sejalan dengan prinsip sastra modern yang menekankan kebebasan berekspresi.
Dengan struktur yang longgar, puisi senja memberikan ruang eksplorasi bagi penulis muda untuk fokus pada suasana, citraan, dan makna personal serta menekankan pesan tersampaikan kepada pembaca dengan lebih mudah.
“Jika seseorang membiarkanku pergi
aku tidak akan tinggal
layaknya senja yang menepi
di telan malam kelam”
Puisi di atas menggunakan diksi yang sederhana seperti pergi, tinggal, senja, dan pulang. Kata-kata tersebut bersifat umum dan mudah dipahami, namun memiliki muatan makna konotatif. Kalimat pendek dan larik bebas menciptakan kesan tenang, selaras dengan tema senja sebagai simbol perenungan.
Puisi ini memunculkan personifikasi ringan tanpa penggunaan majas yang rumit. Hal ini memperkuat suasana reflektif. Bahkan dengan hanya menambah latar musik dan foto estetis, atau latar suara penulis sendiri, hal ini telah menjadi sebuah rangkaian konten menarik yang mengundang ribuan like.
Bagi pembaca seusia penulis, puisi ini mudah diinterpretasikan dan dirasakan relevansinya. Pembaca dapat mengaitkan dengan pengalaman pribadi, sehingga tercipta hubungan emosional yang mendorong apresiasi terhadap karya. Bahkan mendorong banyak apresiasi dan repost saat puisi tersebut diunggah.
Melalui kepenulisan sederhana seperti contoh di atas, anak muda dapat menghasilkan karya secara konsisten. Sehingga jaman sosial media yang merebak ini, produktivitas sastra tidak hanya diukur dari kompleksitas karya yang rumit, namun dari keberlanjutan proses kreatif, keberanian berekspresi dan konsistensi.
Sehingga kesimpulannya secara keilmuan sastra, kepenulisan sederhana juga memiliki dasar yang kuat dalam stilistika, ekspresivisme, dan resepsi sastra. Sebagaimana contoh puisi kekinian menunjukkan bahwa bahasa yang lugas mampu menghadirkan makna mendalam sekaligus mendorong produktivitas anak muda jaman sekarang.
Oleh karena itu, gaya kepenulisan sederhana juga bisa dipandang sebagai bentuk perkembangan sastra kontemporer yang relevan dan edukatif serta menjadi ruang yang luas untuk tetap menulis. Sehingga jangan takut untuk menulis puisi.
Septiana Wibowo, Penulis Buku Bukan Kartini dan Mahasiswa Sastra Inggris.













