blank
Irnida Terana saat memberikan pemaparannya, dalam sosialisasi KDRT yang digelar mahasiswa Jurusan Ilkom USM, Foto: dok/usm

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), masih menjadi persoalan serius, yang kerap terjadi di lingkungan keluarga. Namun sering tidak terungkap, karena dianggap sebagai urusan pribadi.

Hal itu mengemuka dalam sosialisasi bertema ‘Lindungi Diri, Sayangi Keluarga: Kenali Tanda-Tanda KDRT’, yang digelar mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (Ilkom) Universitas Semarang (USM), di Kelurahan Bugangan, Kecamatan Semarang Timur, Minggu (21/12/2025).

Kegiatan yang diikuti ibu-ibu PKK Kelurahan Bugangan itu, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya perempuan, mengenai bentuk-bentuk KDRT, tanda-tanda awal kekerasan yang sering tidak disadari, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dan keluarga.

BACA JUGA: Tiga Atlet USM Raih Emas di Kodim Klaten Sport Fest 2025

Dalam sosialisasi ini menghadirkan Irnida Terana, M.Psi, Psikolog, sebagai narasumber utama. Pada paparannya, Irnida mengatakan, KDRT tidak selalu berbentuk kekerasan fisik, melainkan juga mencakup kekerasan psikologis, verbal, ekonomi, dan kontrol berlebihan dalam relasi rumah tangga.

”Banyak perempuan tidak menyadari dirinya mengalami KDRT, karena kekerasan itu tidak meninggalkan luka fisik. Padahal, tekanan mental, kata-kata yang merendahkan, hingga pembatasan aktivitas, juga termasuk bentuk kekerasan,” jelas Irnida.

Dia menambahkan, pemahaman mengenai KDRT, menjadi langkah awal yang sangat penting, agar korban tidak terus berada dalam lingkaran kekerasan.

BACA JUGA: Kualitas Pelayanan Administrasi USM Tunjang Kelancaran Proses Akademik dan Nonakademik

”Melindungi diri bukan berarti merusak keluarga. Justru dengan mengenali tanda-tanda KDRT dan berani mencari bantuan, kita sedang menjaga keselamatan diri, anak, dan keutuhan keluarga dalam jangka panjang,” tambahnya.

Dia berharap, melalui kegiatan ini, ibu-ibu PKK dapat menjadi agen edukasi di lingkungan keluarga dan masyarakat, serta berperan aktif dalam pencegahan KDRT sejak dini.

Sosialisasi itu juga menjadi upaya membangun kesadaran kolektif, bahwa keluarga seharusnya menjadi ruang aman, bukan tempat terjadinya kekerasan.

BACA JUGA: Pejabat Struktural Tenaga Kependidikan USM Ikuti Pelatihan Administrasi

blank
Sejumlah peserta sosialisasi beserta mahasiswa dan narasumber, berfoto bersama usai acara. Foto: dok/usm

”Kegiatan ini menegaskan, pentingnya kolaborasi antara masyarakat, tokoh lingkungan, dan tenaga profesional, dalam menciptakan keluarga yang sehat, setara, dan bebas dari kekerasan,” tuturnya.

Kegiatan berlangsung secara interaktif, dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta terlihat antusias saat mengajukan pertanyaan, serta berbagi pengalaman, terkait dinamika rumah tangga dan lingkungan sekitar.

Salah satu peserta, anggota PKK Kelurahan Bugangan, Chintya, mengaku mendapatkan wawasan baru, setelah mengikuti sosialisasi ini.

BACA JUGA: Festival Komukino Jadi Ruang Ekspresi dan Laboratorium Pembelajaran Mahasiswa Ilkom USM

”Selama ini kami mengira, KDRT itu hanya kalau ada pemukulan. Ternyata ucapan kasar dan tekanan mental, juga termasuk kekerasan. Kegiatan ini membuka mata kami sebagai istri dan ibu,” ungkapnya.

Antusiasme peserta itu, menunjukkan isu KDRT masih sangat relevan dan membutuhkan ruang edukasi yang aman, agar masyarakat berani berdiskusi dan saling menguatkan.

Riyan