blank
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno (kiri) memimpin upacara serah terima Tonting YWPJ dari etape 1 ke etape 2 yang digelar di Lapangan Desa Pulutan Kulon, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri.(Dok.Pendim 0728 Wonogiri)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Bupati Setyo Sukarno didampingi Forkopimda Wonogiri, Selasa (16/12/25), memimpin upacara serah terima gerak jalan militer Peleton Beranting (Tonting) Yudha Wastu Pramuka Jaya (YWPJ). Serah terima berlangsung dari etape-1 ke etape-2, yang digelar di lapangan Desa Pulutan Kulon Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Dandim 0728 Wonogiri Letkol Inf Rodricho Ivan Pattihabuan melalui Penerangan Kodim (Pendim) Peltu Indra, menyatakan, Tonting YWPJ dalam peringatan Hari Juang Infenteri Ke-77 Tahun 2025 ini, diberangkatkan dengan start dari Lapangan Giri Krida Bakti Wonogiri menuju finish di Lapangan Dr Koesen Rindam IV/Diponegoro di Magelang. Yang akan menempuh jarak sekitar 210,9 Kilometer (KM).

Gerak jalan Tonting Yudha Wastu Pramukha Jaya tersebut, merupakan kilas balik sejarah perjuangan Prajurit Korp Infanteri, dalam peristiwa pertempuran Agresi Militer Belanda Ke-2 pada Tanggal 19 Desember 1948.

Ratusan pelajar, Selasa (16/12/25), berjajar di tepi sepanjang ruas jalan raya Kota Wonogiri. Dengan membawa serta bendera Merah Putih ukuran mini, mereka memberikan sambutan kepada Tonting yang berbaris tegap saat melintas di hadapan para pelajar. Kegiatan ini Juga dimeriahkan tampilnya korps drum band Bahana Gita Lestari (BGL) dari SMP Negeri 2 Wonogiri.

Dalam amanatnya, Bupati Setyo Sukarno, menyampaikan, serah terima Peleton Beranting Yudha Wastu Pramuka, menjadi simbol sebuah tradisi yang sarat nilai historis. Yang juga merupakan wujud penghormatan setiap prajurit TNI, kepada para pendahulu Korps Infanteri TNI Angkatan Darat (AD). Tradisi ini, menjadi pengingat bahwa setiap langkah perjuangan yang kita lakukan hari ini, berdiri di atas pengorbanan besar para pahlawan bangsa.

Peleton Beranting Yudha Wastu Pramuka adalah simbol perjalanan sejarah panjang Korps Infanteri, yang menjadi tulang punggung pertahanan darat sejak masa perang kemerdekaan. Sejak awal berdirinya, Pasukan infanteri selalu berada di garis terdepan, melangkah tanpa ragu, menembus medan berat dan menghadapi ancaman apa pun demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penjaga

Korps Infanteri adalah penjaga terdepan, penentu kemenangan dan benteng pertahanan terakhir bangsa. Nilai yang diwariskan para Pejuang Infanteri, Yudha, Wastu dan Pramuka, yang menegaskan bahwa seorang prajurit infanteri harus memiliki keberanian, keandalan dan keteladanan dalam setiap langkah tugasnya.

Kata Bupati, dalam pelaksanaan gerak jalan peleton beranting, kita juga menundukkan kepala untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur. ”Mereka tidak hanya mengorbankan tenaga dan pikiran, tetapi menyerahkan jiwa dan raga demi Merah Putih tetap berkibar,” tegas Bupati.

Bupati mengajak seluruh yang hadir, untuk dengan penuh kerendahan hati, memanjatkan doa terbaik, agar arwah mereka diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa (YME). Semangat mereka adalah semangat juang yang tak pernah padam, dan ini harus menjadi suluh penerang bagi setiap prajurit TNI-AD. Yakni semangat pantang menyerah dan semangat rela berkorban.

Tujuan mulia TNI Angkatan Darat khususnya Korps Infanteri, adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh Tumpah Darah Indonesia. Ketika masyarakat tidur dengan tenang, ada prajurit infanteri yang tetap terjaga. Ketika ancaman muncul, pasukan infanteri adalah yang pertama maju untuk menghalau bahaya.

Karena itu, Bupati, mengajak seluruh peserta Peleton Beranting dan seluruh keluarga besar TNI AD, untuk menjadikan momentum ini sebagai pelecut semangat. ”Mari kita lanjutkan perjuangan para pahlawan dengan karya nyata, dengan pengabdian tulus, serta keberanian yang tidak pernah luntur.(Bambang Pur)