blank
Adegan Roro Mendut dan pelanggan rokok kreteknya. Foto: Dok

Oleh : Septiana Wibowo

Dalam gelap panggung yang dipenuhi panel-panel dan level kayu, tiga panggung kecil, sebuah panggung besar serta tata cahaya yang redup namun hidup, Teater Minatani Pati sukses mementaskan Martir di Auditorium UMK Kudus Rabu 3 Desember 2025. Bekerjsama dengan Gandrung Sastra dan Teater Tigakoma, mereka kompak menyajikan sebuah pementasan yang apik.

Sebuah naskah garapan para anggota Minatani sendiri yaitu Yudi Dodok, Siwigustin dan Shinta N.H yang pada permukaan tampak seperti sebuah seni pertunjukan eksperimental dengan banyak latar panggung yang disuguhkan. Di awal pertunjukan setelah tuan rumah Rifky Walter dan Liman membuka acara, bahkan penonton sudah dibuat kagum dengan workshop oleh Siwigustin yang piawai menyeduh teh.

blank
Tokoh Roro Mendut dalam pentas Martir.Foto: Dok

Tampaknya Martir memang lahir dari rangkaian pengamatan-pengamatan kecil namun panjang tentang relasi kekuasaan dari akar rumput, konflik budaya, eksploitasi, hingga kekerasan struktural masyarakat kecil dan perempuan yang melawan. Yang sebenarnya tampak masih dirasakan masyarakat Pati dan sekitarnya hingga saat ini.

Riset sunyi para penulis naskah dan para aktor memberi nyawa yang luar biasa dalam pementasan ini. Sutradara Martir, Yudi Dodok mengungkap bahwa proses penciptaan lakon ini dimulai dari sudut pandang kemasyarakatan yang ada di sekitar penulis naskah, bahkan mereka dengan berani membawa dialek Pati di beberapa adegan yang ada.

blank
Tarian tiga perempuan di pentas Martir yang tampil memukau penonton.Foto:Dok

“Kami bertemu orang-orang yang patah tapi tidak kalah, dari merekalah tokoh-tokoh ini lahir. Kami juga melakukan riset pustaka untuk memperkuat karakter yang akan di pentaskan” ujar Shinta N.H, salah satu penulis naskah sekaligus pemeran Nyai Ontosoroh.

Hal yang dilambangkan dengan Roro Mendut diperankan oleh Siwigustin yang tidak memakai kebaya seperti kebanyakan pementasan yang ada, namun dia dengan kostum yang diluar dugaan para penonton. Siwi dengan piawai melakukan olah tubuh dan peran dengan menggunakan kostum Punk. Menurutnya ini adalah sebuah symbol perlawanan perempuan yang hanya sebagai obyek dalam sistem kemasyarakatan.

Martir juga membawa muatan jejak nyata tentang bagaimana napak tilas, asal usul dan kearifan lokal adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Tampak Ketiga aktor muda Joice Calista Arabella, Priagung dan Cesar Pratama yang memainkan sebuah peran apik nan jenaka dalam plot dolanan anak-anak dengan menggunakan dialek kedaerahannya. Bahkan mereka sangat menikmati mengajak para penonton berinteraksi dalam adegan tersebut. Adengan Prabu Dewata Cengkar yang diperankan oleh Sigit juga menjadi daya tarik apik dengan olah tubuh yang mencuri atensi penonton.

blank
Peperangan di pentas Martir. Foto: Dok

Setting Panggung yang Merangkap Seni Instalasi

Instalasi visual berupa palet kayu dan gambar-gambar yang di ramu apik oleh tim artistik menambah ruang ini menjadi mewah. Dalam sebuah pertunjukan seni ini bambu-bambu yang dirakit serta manekin perempuan yang di bungkam dengan lakban menambah nilai bahwa setting panggung bisa juga beralih fungsi sebagai sebuah pameran instalasi yang kaya.

Para Kru Instalasi Panggung yaitu Mondol, Sremanuk, Umar, Beni, Dafa, Petterson dan Angga juga membawa sebuah atmosfer pameran yang hidup dengan beberapa karya gambar dan instalasinya berkolaborasi dengan Aloet Pati, Hary Saksomo, Kim, Erza dan Elisa.

Bahkan musik yang menghidupkan konflik dan suara perlawanan diramu apik oleh Dani Dwiya. Mewarnai iringan peperangan yang menegangkan, luka perempuan yang menyayat hingga iringan-iringan jenaka para aktor.

blank
Pementasan Martir yang berhasil menarik perhatian pengunjung. Foto: Hadepe

Pada penampilan perdananya di UMK, sejumlah penonton mengaku merasakan bagaimana mereka diajak terlibat tak hanya secara emosional namun juga berinteraksi langsung dengan para lakon. Kejenakaan aktor hingga konflik yang menegangkan selalu menarik penonton untuk turut ke dalam pementasan dengan latar panggung yang berpindah-pindah. Kesimpulannya, pentas Martir bukan sekadar karya seni. Ia merupakan himpunan pengalaman, jejak konflik, dan suara-suara kecil yang sering tenggelam.

Di balik panggung dengan cahaya yang remang, Teater Minatani memotret persoalan sosial masyarakat nyata yang masih berlangsung hingga saat ini. Sering sunyi, dan kadang sengaja dibungkam seperti puisi yang di bawakan oleh Aloet Pathi dan Arif Khilwa di tengah pertunjukan.

Fragmen-fragmen dalam pementasan ini mencatat pola ritmis dari suara-suara rakyat hingga suara para perempuan pejuang. Walau dalam proses produksi Martir sempat menghadapi berbagai kendala karena membawa naskah perlawanan. Pimpinan Produksi, Arif Khilwa dalam sesi diskusi menyebutkan bahwa karya ini lahir dari kawan-kawan yang membaca kenyataan dan bertujuan memberikan semangat kebebasan murni kepada seniman untuk bersuara.

Sebagai penonton, saya sangat menikmati pementasan malam itu. Sebuah ruang baru yang memompa semangat untuk tetap berkarya dan menyuarakan pergolakan rakyat proletar menjadi titik temu yang mewah dalam Pementasan Martir. Walau tehnik panggung yang berpindah adalah hal baru bahkan tergolong berbatas tempat dan saya sedikit kesulitan mengabadikan moment karena berbatas cahaya. Namun di ahir cerita, penonton menikmati sajian yang luar biasa hidup.

Penulis adalah pegiat budaya dan Wartawan SUARABARU.ID