blank
Sate terdaftar masuk peringkat Ke-14 dalam World's 50 most delicious foods (50 hidangan paling lezat di dunia). Menjadi menu wisata kuliner yang digandrungi kaum keplek ilat.(SB/Bambang Pur

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Karena penjualnya bernama Pak Klepat, maka warung sate miliknya populer disebut Sate Klepat. Nama warung sate di kios pasar sisi barat Pasar Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ini begitu melegenda dan digandrungi (disenangi) kaum keplek ilat.

Keplek ilat, dalam Bahasa Jawa artinya memanjakan lidah. Filosofi yang menyangkut kebiasaan menikmati berbagai jenis makanan lezat dan enak di luar rumah (njajan). Yang mampu menjadi bagian dari ekspresi memanjakan lidah. Fenomena ini, mendorong perkembangan food agripreneurship (kewirausahaan pangan) dan kearifan lokal, dalam mempengaruhi tingkat kepuasan.

Karena popularitasnya, Sate Klepat sering diundang untuk melayani berbagai jamuan yang dihelat masyarakat. Termasuk pertemuan keluarga, reuni, arisan dan lain-lain. Bangsawan Mangkunegaran (Alm) Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Soemo Harmanto. Paman Ibu Tien Soeharto ini, dulu setiap mudik ke ndalem (rumah) di Kutha Lawas Jatisrono, Wonogiri, selalu mendatangkan Sate Klepat untuk menyuguh tamu-tamunya. Disamping tahu kupat angkringan dan bakso.

Tokoh masyarakat Slogohimo, Drs Diro MM, menyatakan, sayang setelah Pak Klepat meninggal, anak keturunannya tidak ada yang meneruskan usaha sate yang telah melegendaris tersebut. Kesan sama, juga disampaikan oleh Sugiyanta, Mantri Kesehatan yang lama berdinas di Kecamatan Slogohimo. ”Tapi sekarang ada Warung Sate Yu Pur, yang cita rasanya seperti Sate Pak Klepat,” ujarnya.

Berbicara sate yang melegendaris, dulu ada Pak Min Jenggot di Kota Wonogiri dan Sate Kembar di Kecamatan Baturetno. Untuk Sate Jenggot bernasib seperti Sate Klepat, tidak ada yang meneruskan, meski telah memiliki nama besar di jagat kuliner. Sebagai penggantinya, ada Sate Gino (dulu di Bangjo Klampisan dan sekarang pindah di utara Tugu Pusaka Selogiri) dan Sate Saimo Gudang Seng Wonogiri Kota. Di Kecamatan Ngadirojo dan Bulusulur (Kota Wonogiri) ada Sate Sajan.

”Sate Kembar tetap eksis, ada penerusnya,” tutur Aris. Insan jurnalis yang tinggal di Baturetno, Wonogiri ini, menyatakan, kecuali Sate Kembar, di Baturetno sekarang banyak bermunculan penjual sate. ”Jumlahnya mencapai belasan,” tuturnya.

Warok Reog

Sate merupakan makanan yang berasal dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Kata Sate berasal dari Bahasa Jawa dialek Ponoragan, yakni Sak Biting (dibaca Sak Beteng) yang berarti satu tusuk. Sate baru diketahui oleh Bupati Ponorogo Pertama, Batoro Kantong, pada Abad Ke 15. Sate dikenal merupakan salah satu makanan Warok (seniman reog). Karena dipercaya memberikan manfaat kekuatan (energi), dan menjadikan panjang usia.

Dari Ponorogo, sate kemudian menyebar ke seluruh Pulau Jawa dan ke pelosok Nusantara, dengan berbagai pengembangan dan beragam variasinya. Pada akhir abad Ke-19, sate melintasi Selat Malaka, yakni ke Malaysia, Singapura dan Thailand. Bahkan sampai ke Belanda dan ke Afrika Selatan.

Dalam perkembangannya, sate kemudian menyebar ke seantero dunia dan menjadi makanan yang menginternasional, dengan beragam penyebutan namanya. Menu kuliner daging bakar di Jepang dinamakan Yakitori. Menu daging panggang di Turki dan kawasan Timur Tengah disebut Shish Kebab atau Shashilik. Di Afrika disebut Sosatie. Di China, dalam Bahasa Tiongkok disebut Chuanr.

Sate terdaftar masuk peringkat Ke-14 dalam World’s 50 most delicious foods (50 hidangan paling lezat di dunia). Wartawan Bambang Pur yang pernah dua kali melakukan tugas jurnalis ke China, menyatakan, Bebek Peking (Peking Duck) panggang menjadi kuliner khas yang banyak dijajakan di Beijing. Tapi, di sana ada juga kedai yang berjualan menu Pig Satay (Sate Babi).

Dari bahannya, sate dapat dibedakan menjadi Sate Kambing, Sate Domba, Sate Sapi, Sate Kuda, Sate Ayam, Sate Babi, Sate Kelinci, Sate Landak. Sebagai kuliner Nusantara, Sate memiliki kaya variasi. Yang setiap daerah, mampu mengembangkan variasi dengan bumbu dan bahan yang berbeda-beda.

Seperti Sate Madura, menyertakan bumbu kacang, Sate Padang di Sumatera Barat (Sumbar) menggunakan kuah berwarna kuning yang kental. Sate Maranggi di Jawa Barat, memakai daging domba dengan bumbu gula aren dan rempah. Sate Lilit, menyertakan kelapa parut. Sate Kelinci menggunakan daging hewan Oryctolagus cuniculus. Sate Landak yang dikenal mampu mendongkrak kejantanan pria, memakai daging hewan Erinaceus. Bahkan di Kota Solo, Jateng, ada Sate Kere berbahan jerohan.(Bambang Pur)