SEMARANG (SUARABARU.ID)– Perusahaan Cina, Shan Hai Map (SHM), menjajaki kerja sama dengan Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Semarang (USM Language and Culture Center-USM LCC).
Human Resource Manager, Sheila Dwi Perina, dan Supervisor HR Internal, Mahda Pramesti, mengunjungi kantor USM LCC, Senin (24/11/2025), untuk membahas ruang lingkup yang akan dikerjasamakan.
Mereka diterima Direktur USM LCC, Adi Ekopriyono, Sekretaris Devy Angga Gunantar, dan Bendahara Hermin Anggraini. Perusahaan yang berpusat di Beijing itu, bergerak di bidang konsultasi manajemen dan bisnis, memiliki cabang di Thailand, Vietnam, Malaysia, Mesir, Singapura, dan Indonesia.
BACA JUGA: USM Raih 1 Emas dan 8 Perunggu di Ajang Porsimaptar 2025
Pihak SHM membantu perusahaan Cina yang akan berbisnis di Indonesia, seperti pendaftaran perusahaan, perizinan, layanan keuangan dan pajak, serta riset pasar.
Menurut Sheila dan Mahda, bentuk kerja sama yang bisa dijalin antara lain, program magang mahasiswa, rekruitmen lulusan, dan partisipasi dalam career fair.
Manfaat kerja sama bagi universitas, menyediakan peluang kerja dan magang bagi mahasiswa atau lulusan, meningkatkan keterkaitan antara kurikulum akademik dan kebutuhan industri, serta memperluas jaringan kemitraan dengan dunia usaha.
BACA JUGA: Runningirls USM Gelar Fun Run di Lapangan Kodam IV/Diponegoro
”Bagi perusahaan, mendapatkan akses talenta muda potensial dari universitas, mendukung kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan di bidang pendidikan, serta meningkatkan citra perusahaan sebagai mitra strategis pendidikan,” katanya.
Sementara itu, Adi Ekopriyono menyatakan, kedua pihak sepakat, pertemuan itu akan dilanjutkan dengan penyusunan draf perjanjian kesepakatan (memorandum of agreement-MoA).
Ruang lingkupnya antara lain, program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), dan keterlibatan SHM dalam job fair yang diadakan USM.
”Kalau selama ini SHM menyelenggarakan BIPA di Jakarta atau Surabaya, sekarang dapat mengadakan di Semarang, tentu bersama USM LCC. Kami siap membantu para pengusaha atau pekerja asing, dalam belajar atau meningkatkan penguasaan Bahasa Indonesia,” imbuh Adi Eko.
Riyan













