SALATIGA (SUARABARU.ID) – Di sudut Sidorejo Lor, Salatiga, sebuah warung soto bernama Soto Esto telah menjadi legenda kuliner yang tak lekang oleh waktu. Nama Esto sendiri diambil dari nama perusahaan bus, dan warung ini ada di garasi bus itu.
Perjalanan bisnis kuliner ini berawal dari gerobak keliling, kemudian mangkal di depan garasi bus Esto, di Jalan Langensuko 4, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Salatiga.
Sampai kini Soto ESTO tetap mempertahankan rasa autentiknya yang telah diwariskan turun-temurun sejak tahun 1953.
Menurut Andi Selamet, warga Semarang yang sudah puluhan tahun menjadi pelanggan setia, kelezatan Soto ESTO terletak pada bumbu rempah yang kuat terasa di setiap suapan.
Isian soto ini klasik: nasi pulen, suwiran daging ayam, tauge segar, serta taburan bawang goreng dan daun seledri yang menambah cita rasa.
“Ketika kuah santan kuning disiramkan ke dalam mangkuk, aroma rempah langsung menguar dengan begitu menggoda. Kalau suka pedas, tinggal tambahkan sambal sesuai selera,” kata Andi.
Tak hanya itu, warung Soto ESTO juga menyediakan berbagai lauk tambahan seperti tempe goreng, tahu bacem, bakwan, kerupuk, hingga sate-satean yang kian melengkapi kenikmatan santapan.
“Harganya sangat terjangkau, cuma Rp 10 ribu per porsi,” imbuh Andi yang sering mampir saat perjalanan menuju Salatiga.

Pemilik warung, Sulasmi, generasi kedua yang melanjutkan usaha keluarga sejak tahun 2010, bercerita bahwa resep Soto ESTO adalah rahasia keluarga yang tetap terjaga.
“Rasa santan yang gurih dan konsistensi cita rasa membuat pelanggan setia terus berdatangan,” ujar wanita yang kini berusia 79 tahun itu.
Sulasmi melanjutkan, usaha ini bermula dari orang tuanya yang kerap berkeliling menjajakan soto sebelum akhirnya mendapat tempat di depan garasi bus Esto. Meski kini warungnya sudah pindah sedikit dari lokasi awal, nama legendaris itu tetap dipertahankan.
Salah satu pelanggan setia lain, Fatih (36), mengaku selalu betah makan di warung Soto ESTO karena rasa santan yang gurih dan pelayanan yang ramah.
“Ciri khas yang paling bikin ketagihan adalah kuah santan gurihnya dan sate ayamnya. Kalau sudah di Salatiga, pasti pengen makan ESTO lagi,” ujarnya.
Keunikan Soto ESTO terletak pada kuah santan berwarna kuning yang khas, menjadikannya berbeda dari soto lainnya. Kuah itu memberikan sensasi gurih yang memikat rasa, sehingga pelanggan terus ingin menikmatinya.
Soto ESTO bukan sekadar makanan, tapi warisan rasa yang membawa nostalgia sekaligus kenikmatan dalam mangkuk penuh tradisi.
Meskipun kini tak berada di garasi bus ESTO, namun warung soto ini pindah tidak jauh-jauh dari mjulanya. Soto ESTO tetap mudah ditemukan karena berada persis di samping Hotel Grand Wahid Salatiga.
Foto-foto terbaru lokasi dan sajian Soto ESTO dapat ditemukan di berbagai situs wisata dan media sosial seperti Instagram dengan pencarian tagar SotoESTO atau SotoSalatiga.
yang menggambarkan suasana warung yang ramai dan autentik serta mangkuk soto lengkap dengan kuah santan kuning dan lauk pelengkapnya.Dengan cita rasa yang telah bertahan lebih dari tujuh dekade.
Soto ESTO tetap menjadi pilihan utama bagi warga lokal dan wisatawan yang ingin mencicipi kuliner legendaris khas Salatiga.
Timotius Aomsen













