blank
Ilustrasi buwuh/nyumbang.

Oleh: Syafri Samsudin

JEPARA (SUARABARU.ID)- Di Jepara, musim hajatan bukan hanya soal pesta. Ia seperti musim sosial yang datang bergantian. Rumah demi rumah bergilir menjadi tuan, dan masyarakat saling menebus janji yang tak pernah benar-benar diucapkan.

Satu undangan datang, dan orang tahu bukan hanya waktunya bersilaturahmi, tapi juga waktunya “mbalekne buwohan”.

blank
Safri Syamsudin.

Dulu, tradisi buwoh/buwuh (sedekah/nyumbang) lahir dari niat ringan, nyumbang seadanya, biar tuan rumah tidak sendirian menanggung beban acara. Beras, gula, rokok barang-barang sederhana yang dibawa dengan hati ringan.

Orang datang bukan untuk dihitung, tapi untuk ngrewangi. Kalau datang bawa rokok Sukun, artinya ikut menyalakan kebersamaan; kalau bawa beras, berarti ikut memberi kenyang pada pesta.

Tapi zaman berubah. Harga rokok naik, biaya hidup ikut menanjak, tapi rasa malu tidak ikut turun. Orang sekarang tak sekadar membawa buoh mereka membawa kalkulator sosial.

Siapa dulu memberi berapa, siapa yang belum dibalas, siapa yang lupa, semua tercatat dalam buku kecil atau ingatan yang sangat teliti. Ibarat orang punya hutang, oarang yang buoh, hukumnya “wajib” mengembalikan apa yang telah dibuohkan pihak sebelumnya.

Di banyak tempat, bahkan ada orang menikahkan adiknya bukan karena sudah waktunya, tapi agar “buohan bisa kembali.” Karena dalam sistem sosial seperti ini, hajatan adalah momen pengembalian modal sosial.

Kalau tak segera punya acara, maka pemberian orang lain akan menggantung di udara, dan seseorang seperti kehilangan hak sosial untuk menagih.

Ini bukan lagi tradisi gotong royong  ini sudah menyerupai mekanisme ekonomi emosional, di mana rasa malu menjadi mata uang yang paling mahal.

Dalam satu tahun, keluarga di Jepara bisa menghabiskan 5 sampai 10 juta rupiah hanya untuk buoh. Untuk sebagian orang, angka itu sama dengan biaya hidup beberapa bulan.

Namun mereka tetap melakukannya, karena lebih baik berhutang daripada ora duwe isin. Lebih baik lapar sementara, daripada disebut tidak tahu balas budi.

Padahal, kalau ditarik ke asalnya, buoh itu bentuk kecil dari sedekah. Memberi dengan ringan, tanpa menunggu kembali.

Tapi sekarang, banyak yang memberi bukan karena ikhlas, melainkan karena takut tidak dibalas. Padahal sedekah kehilangan maknanya justru ketika ia menjadi transaksi.

Buoh mestinya lahir dari rasa, bukan dari gengsi. Karena kalau yang digenggam hanya hitungan, maka yang hilang adalah makna. Gotong royong tanpa keikhlasan hanyalah beban sosial yang diwariskan turun-temurun.

Dan kalau kita tak belajar menata ulang niat, maka tradisi indah ini akan terus menelan tenaga dan ketulusan masyarakat kecil, pelan, tapi pasti.

Mungkin kita perlu kembali belajar memberi tanpa berharap kembali.Karena yang paling berharga dari buoh bukan balasannya,tapi rasa yang tertinggal setelah tangan memberi.

(Syafri Samsudin, Pegiat Sejarah dan kebudayaan Jepara)