JEPARA ( SUARABARU. ID) – Semangat pemberdayaan masyarakat menuju desa tangguh iklim bergema di Balai Desa Ngroto, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara (12/11/2025). Hari itu dilaksanakan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembentukan Desa/Kelurahan Sehat Iklim (DEKSI).
Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran dan kesiapan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Dalam kegiatan tersebut, peserta menyusun Rencana Kerja Masyarakat (RKM) menggunakan Partisipatory Kit, sebuah alat interaktif yang membantu masyarakat menggali permasalahan kesehatan, menemukan akar masalah, dan menyusun solusi terbaik berdasarkan kondisi riil desa.

Peserta kegiatan terdiri dari Perangkat Desa, Kader Kesehatan, Bidan Desa, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Ketua RT/RW, Forum Kesehatan Desa (FKD), serta perwakilan kelompok perempuan dan masyarakat rentan.
Dalam sambutannya, Petinggi Desa Ngroto Edy Supriyantho , menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan program pertama di Kecamatan Mayong. Desa Ngroto menjadi pelopor pembentukan Desa Sehat Iklim (DEKSI) dan siap menjadi contoh nyata desa yang peduli lingkungan, tangguh terhadap perubahan iklim, serta berperilaku sehat.

“Kami siap menjadi desa sehat iklim , desa yang mampu beradaptasi, menjaga lingkungan, dan melindungi kesehatan warganya dari dampak perubahan iklim,” tegas Petinggi Desa Ngroto, Edy Supriyantho
Sementara itu, Camat Mayong, Muh. Taufik, SSTP., MM, menekankan pentingnya perubahan perilaku di tengah tantangan perubahan iklim.
“Mau tidak mau kita semua harus menyesuaikan diri dengan perubahan itu. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki lingkungan sehat dan perilaku sehat,” ujarnya.

Ia menambahkan, program ini diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kecamatan Mayong secara berkelanjutan.
Kepala Puskesmas Mayong 1, dr. Hadi Saputro, menjelaskan bahwa wilayah kerja Puskesmas Mayong 1 termasuk daerah yang sensitif terhadap perubahan iklim.
“Penyakit terbanyak yang sensitif terhadap perubahan iklim di wilayah kami adalah ISPA, diikuti DBD, diare, dan batuk pilek. Melalui intervensi DEKSI, kita berupaya meminimalkan dampak tersebut dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Retno Kusbandiyah, SKM, menyoroti meningkatnya kasus penyakit akibat vektor, terutama nyamuk.
“Perubahan iklim berpengaruh pada pola penyebaran penyakit akibat nyamuk seperti DBD. Kita juga mulai menghadapi tantangan baru, yaitu resistensi nyamuk terhadap insektisida,” jelasnya.
Asrori, fasilitator kegiatan, menjelaskan bahwa kegiatan ini menggunakan Partisipatory Kit untuk menggali secara langsung masalah kesehatan masyarakat di Desa Ngroto.
“Dengan metode partisipatif, masyarakat sendiri yang menemukan masalah dan merumuskan solusi terbaik. Itulah kekuatan dari pendekatan DEKSI, masyarakat menjadi subjek, bukan objek,” paparnya.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, S.KM., MMKes., MM., Ketika dihubungi menegaskan bahwa program DEKSI bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan gerakan nyata yang lahir dari masyarakat.
“DEKSI adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk melakukan tindakan mengantisipasi, menyesuaikan diri, dan merespons dampak perubahan iklim di tingkat desa, sehingga penyakit-penyakit sensitif iklim seperti dengue, malaria, diare, dan ISPA dapat dicegah dan dikendalikan,” jelasnya.
“Singkatnya, DEKSI adalah gerakan bersama untuk membuat desa kita lebih sehat dan lebih tangguh dalam menghadapi perubahan iklim. Ini bukan program dari luar, tetapi gerakan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat,” tegasnya.
Dengan pelaksanaan kegiatan ini, Desa Ngroto menegaskan komitmennya menjadi desa percontohan sehat iklim pertama di Kecamatan Mayong. Semangat gotong royong, kesadaran lingkungan, dan perilaku hidup sehat menjadi modal utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekaligus membangun ketahanan desa terhadap perubahan iklim.
Hadepe













