SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XIII Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Minggu pagi (2/11/25) dikhabarkan mangkat. Raja kelahiran Tanggal 2 Juni 1948 ini, wafat pada usia 77 tahun.
Mangkatnya Raja Kasunanan ini, ditandai kemunculan Teja Bathang atau Teja Wangkawa. Yakni pelangi yang muncul pagi hari di ufuk barat. Berbentuk cekung, yang kedua ujung kakinya tidak tertanam di ufuk barat, tapi melesat ke arah berlawanan.
Kabar duka wafatnya PB XIII ini, dibenarkan oleh Kuasa Hukumnya, KPAA Ferry Firman Nurwahyu Pradoto Diningrat. Kepada awak media, ia menyebutkan Raja Keraton Solo meninggal Minggu (2/11/25) pagi. “Pagi tadi, saya mendapat kepastian kabar dari Keraton bahwa Sinuhun PB XIII wafat,” kata Ferry Firman. Disebutkan, Raja Suarakarta PB XIII tersebut, sebelumnya dirawat di Rumah Sakit (RS) sejak Bulan September 2025, dalam upaya menyembuhkan sakit yang dideritanya.
Khabar wafatnya Sinuhun PB XIII, juga dibenarkan oleh kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat yang merupakan adik ipar mendiang, yakni KPH Eddy Wirabhumi. Eddy menyebutkan, PB XIII mengalami komplikasi penyakit hingga meninggal dunia di RS Indriyati Solo Baru, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.
Pengageng (Ketua) Lembaga Dewan Adat dan Sasana Wilapa Keraton Surakarta Hadiningrat, Dra GKR Koes Moertiyah Wandansari MPd (Gusti Moeng), telah melayangkan surat terkait dengan mangkatnya Sinuhun kepada Pangageng Kartipraja. Surat tertanggal 14 Jumadilawal Tahun Dal 1959 (2 Nopember 2025), berisi perintah agar Pengageng Kartipraja menghadirkan reh-rehanipun (anggota), pada Hari Rabu Legi Tanggal 5 Nopember 2025 lusa. Keperluan untuk mengiringkan jenazah Sinuhun dalam prosesi ke pemakaman Raja-Raja Mataram Islam di Pajimatan, Imogiri, DI Yogyakarta,
Khabar duka wafatnya PB XIII cepat menyebar di jejaring sosial, dan menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Termasuk para pedagang barang antik di Pasar Seni Alun-alun utara Keraton Surakarta. Karangan bunga pun juga telah berdatangan di halaman dalam Keraton Surakarta komplek Kamandungan.
Ufuk Barat
Sejumlah bakul di Pasar Gede Surakarta, menyatakan, punya kenangan khusus terhadap PB XIII. Dikatakan, beliau baik budi, setiap njajan (melakukan pembelian), uang kembaliannya selalu diberikan kepada bakul.
Terkait kemunculan Teja Bathang, itu lazim sebagai isyarat akan wafatnya bangsawan atau tokoh besar. Teja Wangkawa, berupa sinar pelangi yang muncul di angkasa ufuk barat pada pagi hari. Berbentuk melengkung ke dalam atau cekung, yang kedua kakinya tidak tertanam di ufuk barat, tapi mencuat ke arah berlawanan.
Budayawan Jawa penerima anugerah Bintang Budaya Drs Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, tentang Teja Bathang tertuliskan dalam Buku Ensiklopedi Bauwarna Adat Tata Cara Jawa, karya Drs R Harmanto Brata Siswara. ”Di halaman 784,” jelas Pranoto yang juga Abdi Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat.
Sri Mangkunegoro IV dalam wacana Gedhing Rajaswala, menyebutkan, benda-benda di langit berguna bagi makhluk hidup. Tidak sekadar muncul sebagai hiasan di angkasa, tapi juga memberikan isyarat. Mega kuwung, teja wangkawa, samya anggrenggani ngatariksa, maweh sukeng driya. sakehing dumadi (Pelangi yang muncul di angkasa, memberikan isyarat kepada semua makhluk).
Teja Mangkawa berbeda dengan Kluwung atau pelangi lazimnya. Ini pelangi yang muncul di pagi hari di ufuk barat. Lain halnya dengan kluwung atau pelangi yang muncul waktu petang di ufuk timur. Meski warna garis sinarnya sama, berjumlah tujuh yang memancarkan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu (Mejikuhibiniu).
Teja Bathang, pernah muncul saat Sri Sultan HB IX mangkat. Ngarso Dalem Raja Kasultanan Yogyakarta yang pernah menjadi Wakil Presiden RI ini, wafat di Washington DC, Amerika Serikat (AS) pada Tanggal 2 Oktober 1988 waktu setempat, dan jenazahnya kemudian diterbangkan ke Yogyakarta untuk dimakamkan di kompleks pemakaman Raja-Raja Mataram di Imogiri. Prosesi pemakamannya berlangsung pada tanggal 3 Oktober 1988.(Bambang Pur)













