blank
Sepeda motor skutik menerjang banjir. Foto:  Istimewa

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Skuter matik memiliki keunggulan karena posisi mesinnya terletak di tengah sehingga saat menerjang banjir tidak langsung berhadapan dengan air, meski begitu kita masih melihat ada motor matik yang mogok setelah menerjang banjir.

Perlu diketahui bahwa mogoknya mesin motor matik setelah melewati genangan air atau banjir disebabkan oleh beberapa faktor utama yang berkaitan erat dengan desain mesin dan komponen kelistrikan, diantaranya masuknya air ke ruang bakar mesin dan korsleting.

Instruktur Safety Riding dari Astra Motor Jateng, Oke Desiyanto, menjelaskan, kejadian masuknya air ke ruang bakar (Water Hammer) adalah masalah paling serius karena air dapat masuk ke ruang bakar melalui saluran udara (air intake) yang pada motor matik umumnya diposisikan cukup rendah.

“Jika ketinggian air melebihi posisi masuk saluran udara, maka air akan terhisap ke dalam mesin. Tentu bahan bakar tercampur air tidak bisa terbakar,” katanya saat diwawancarai, Minggu 26 Oktober 2025.

Selain itu, dirinya menjelaskan, karena air tidak bisa dimampatkan (non-kompresibel) seperti campuran udara-bahan bakar, saat piston bergerak ke atas untuk kompresi, air akan memberikan tekanan balik yang luar biasa pada piston, stang piston, dan kruk as.

“Ini dikenal sebagai water hammer (palu air) menyebabkan stang piston bengkok atau bahkan blok mesin retak. Kerusakan ini bersifat fatal dan membutuhkan biaya perbaikan yang besar,” katanya.

Adapun faktor lain yang menyebabkan motor matik mati adalah apabila terjadi korsleting, dimana motor matik modern mengandalkan banyak sensor dan komponen kelistrikan, termasuk ECU (Engine Control Unit) pada motor injeksi.

Oke menjelaskan, air adalah konduktor listrik yang buruk. Jika air membasahi soket-soket kabel, koil pengapian, busi, atau ECU, dapat terjadi korsleting yang mengganggu sistem pengapian atau injeksi bahan bakar.

“Dampaknya mesin motor akan langsung mati, susah dihidupkan, atau mengalami ngadat (brebet) karena sistem pembakaran tidak bekerja optimal,” katanya.

Terhadap dua faktor penyebab tersebut di atas, Oke memberikan sejumlah tips dan saran untuk bertahan saat menggunakan motor matik ketika harus melalui kondisi jalanan banjir.

“Pengendara harus bisa mengenali Batas Ketinggian Air, Motor matik tidak mampu menahan banjir yang ketinggian airnya telah mencapai dibawah lubang ujung knalpot. Paling krusial, posisi saringan udara (air intake) bagian bawah tidak disentuh permukaan air. Posisi ini setara setinggi betis atau di bawah lutut orang dewasa,” katanya.

Kalaupun harus menerjang jalan yang banjir, maka pengendara harus menguasai teknik menerjang yang benar. Jika genangan masih dalam batas aman (di bawah saringan udara), jaga Kecepatan rendah dan stabil, gunakan kecepatan yang sangat rendah (sekitar 5-10 km/jam) dan hindari mengubah putaran gas secara mendadak.

Putaran gas yang stabil mencegah knalpot kemasukan air (tekanan gas yang stabil akan mendorong air keluar jika air mendesak masuk). Pilih Gigi Rendah (Bagi motor manual), Motor matik cukup jaga putaran mesin yang stabil.

Berjalan di Tengah Genangan, bagian tengah jalan biasanya lebih tinggi daripada pinggir jalan, meskipun ini tidak selalu benar. Selalu periksa kondisi lalu lintas dan genangan air dengan seksama.

Selain itu, tindakan setelah melewati banjir adalah jangan langsung matikan mesin. Biarkan mesin menyala beberapa saat di tempat yang kering, hal ini membantu mengeringkan sisa – sisa air di beberapa komponen panas seperti knalpot.

Jika curiga air masuk ke area CVT, oli mesin, atau oli transmisi (gardan), segera bawa motor ke bengkel untuk kuras oli dan cek CVT. Air yang mencemari oli dan bearing akan mengurangi kemampuannya dan menyebabkan kerusakan dalam jangka panjang.

“Menghadapi banjir, prinsip utama kita adalah mencegah lebih baik daripada memperbaiki. Motor matic tidak didesain sebagai perahu. Batas amannya sangat jelas, jika air sudah mendekati saringan udara, itu adalah zona merah,” katanya.

Hery Priyono